9 JAM YANG MENCERDASKAN

Home / Opini / 9 JAM YANG MENCERDASKAN

Ketika siang tadi mendadak komunikasi melalu Whats App mulai terganggu, beredar informasi bahwa hal tersebut merupakan kebijakan pemerintah untuk mengatasi dan mencegah penyebaran Hoax yang provokatif melalui video dan foto rekayasa.
Sesaat kemudian komunikasi melalui Whats App benar-benar tertutup sama sekali.

Untuk mencari tahu apa sebenarnya yang terjadi, kita mulai membuka google, media online dan menyaksikan televisi.
Melalui tayangan televisi dan media mainstream lainnya, publik mendapatkan informasi yang transparan, akurat dan senada tentang apa yang terjadi di sekitar kantor Bawaslu Jakarta, dan juga di Medan.

Diawali dengan penjelasan Menkopolhukam, Kapolri, Panglima TNI, KSP dan menkominfo, publik mulai menyadari apa yang sebenarnya sedang terjadi dan apa yang sedang diusahakan oleh pemerintah, pers dan masyarakat pada umumnya, khususnya terhadap situasi di Jakarta Pusat pada hari Rabu, 22 Mei 2019 ini.

Melalui tayangan televisi, hanya dalam beberapa jam, kita semua mendapatkan pelajaran yang berharga, tentang makna informasi yang terpercaya.
Dalam beberapa jam, tidak ada Hoax ataupun berita yang tidak jelas, masuk ke gadget kita, semua informasi terang benderang dan bisa dikonfirmasi sendiri oleh publik.

Baca:  DENY JA DAN NASIB SIAL GOLPUTER

Dalam beberapa jam terasa sekali ada pembelajaran yang sangat berharga tentang makna kejujuran dan kebenaran yang empirik.
Dalam beberapa jam pemerintah berhasil melakukan pencerdasan kepada masyarakat, terutama para konsumen hoax dan fitnah, untuk mendengarkan dan menyaksikan sendiri tentang apa yang terjadi, melalui media mainstream.

Setidaknya ada 2 hal yang kita, para pemirsa TV One, Metro TV, Berita Satu, Kompas TV dan lainnya, bisa merasakan bersama, yaitu :
1. Betapa keterlaluan melewati batas nilai kepatutan, ataupun ajaran agama manapun, semua perilaku dari para perusuh;
2. Betapa sangat sabarnya pihak aparat kepolisian dan TNI, yang beberapa kali “ditipu” oleh perusuh yang seolah-olah mau berhenti (lalu aparat keamanan mengucapkan terima kasih dengan bernyanyi) tapi kemudian kembali menyerang para aparat.

Sedih dan terharu kita saksikan, bagaimana polisi yang dicaci maki, dilempar, diambil tamengnya, dibakar poskonya, tetap saja bersabar dan bertindak sesuai SOP, bahkan terus menerus berupa melakukan negosiasi.
Melalui tayangan televisi juga (antara lain) kita bisa membandingkan narasi presiden Jokowi dengan narasi capres Prabowo terkait kerusuhan yang terjadi.

Baca:  Segera Temui DPR, Pemerintah Akan ‘All Out’ Realisasikan Penambahan 10 Ribu Kuota Haji

Semoga kita semua benar-benar bisa menarik pelajaran, betapa jahat dan berbahayanya Hoax dan fitnah melalui media sosial tersebut, dan betapa pentingnya kita mendapatkan konfirmasi berita melalui media resmi yang memiliki tanggung jawab jurnalistik, meski hanya dalam beberapa jam saja.

WhatsApp chat