Agnes Mo: Kisah Nasionalisme Yang Digugat

Home / Opini / Agnes Mo: Kisah Nasionalisme Yang Digugat

 

Oleh : Rudi S Kamri

 

Siapa orang Indonesia yang tidak kenal artis multi talenta Agnes Mo yang bernama lengkap Agnes Monica Muljoto?
Penyanyi papan atas kelahiran Jakarta, 1 Juli 1986 ini juga dikenal penyanyi cilik yang sukses, artis sinetron dan film yang sangat mumpuni dan penyanyi papan atas Indonesia. Hampir semua lagu yang dinyanyikan oleh Agnes Mo selalu menjadi hits.

Sebagai contoh lagu berjudul Rindu ciptaan Eros Djarot yang awalnya dinyanyikan Fryda Lucyana tidak banyak dikenal orang, tapi begitu dinyanyikan oleh Agnes Mo, lagu itu langsung meledak menjadi hits dan sangat popular. Totalitas Agnes Mo dalam bertutur melalui lagu seakan mengalir deras melalui lagu Rindu, sehingga lagu itu terdengar lebih kuat, bertenaga dan bernuansa lagu konsert. Di lagu-lagu yang lain pun, Agnes Mo hampir selalu menjadi perbincangan publik.

Dan beberapa hari ini pun Agnes Mo juga kembali menjadi spotlite dan jadi sorotan publik pada saat wawancaranya dengan Build Series yang dirilis pada 22 November 2019 menjadi viral. Ujaran Agnes tentang asal usul dia yang tidak mempunyai ‘indonesian blood’ (garis keturunan asli Indonesia) dipersoalkan oleh semua kalangan mulai dari netizen, komunitas china, anggota DPR, penulis terkenal hingga ditanggapi secara serius oleh Guru Besar UI.

Rata-rata mereka mengecam Agnes Mo. Ada yang bilang Agnes Mo anak durhaka, artis yang tidak tahu diri, pengkhianat bangsa hingga orang yang tidak punya nasionalisme.

Pertanyaan saya, apakah orang-orang sok hebat tersebut mendengar wawancara Agnes Mo atau membaca transkrip wawancara tersebut sampai tuntas ? Lalu selanjutnya mereka paham konteks dari wawancara tersebut atau tidak ?

Baca:  BELAJAR DARI BANJAR

Saya khawatir kalimat ‘indonesian blood’ diterjemahkan secara mentah ala mbah Google menjadi darah Indonesia. Padahal yang paling tepat adalah garis keturunan asli Indonesia. Saya khawatir mereka hanya baca judul langsung komentar atau baca sepenggal langsung komentar. Tidak mau secara utuh mendengar secara lengkap wawancara tersebut dan konteks dari keseluruhan wawancara.

Dalam kenyataanya Agnes Mo memang berdarah campuran Jerman, China dan Jepang bukan Jawa atau Sunda atau Batak. Pada saat host wawancara tersebut menanyakan tentang keberagaman budaya di Indonesia, Agnes Mo memberi gambaran dan pesan jelas bahwa meskipun dia tidak punya garis keturunan Indonesia asli dan dia juga beragama minoritas, tetapi dia tetap diterima di masyarakat Indonesia yang mayoritas beragama Islam. Dan dia merasa nyaman dan tidak ada masalah dengan hal tersebut.

Lalu apa salahnya statement Agnes Mo? Dimana juga kedurhakaan Agnes Mo? Dimana tidak nasionalisnya dari seorang Agnes Mo?

Fadli Zon dan Lieus Sungkharisma telah mempermalukan diri mereka dengan berkomentar asal bunyi tanpa mau mendengar secara utuh konteks dari ujaran Agnes Mo. Prof. Hikmahanto Juwana guru besar hukum International seharusnya juga tidak perlu ikut-ikutan berkomentar untuk sesuatu yang dia tidak tahu. Dan para netizen yang komentar asal bunyi seharusnya malu karena telah menunjukkan betapa minimnya tingkat literasi mereka.

Kesalahan kecil Agnes Mo menurut saya hanya terlalu panjang berputar-putar menjawab pertanyaan sederhana dari host tentang keberagaman budaya Indonesia. Meskipun tujuan Agnes Mo baik ingin memberikan gambaran secara utuh tentang dia dan latar belakang keberagaman Indonesia, namun pilihan diksinya bisa dimaknai secara multi tafsir.

Baca:  Pelestarian Budaya Lokal sebagai Pencegahan Radikalisme

Agnes Mo dan kita semua seharusnya juga mengupdate informasi terbaru hasil penelitian Prof. Herawati Sudoyo seorang peneliti dari Lembaga Biologi Molekul Eijikman, bahwa sejatinya tidak pernah ada genetika murni Indonesia. Genetika orang Indonesia menurut beliau merupakan campuran beberapa gen dari berbagai bangsa secara gradien. Indonesia bagian timur dominan gen dari Afrika dan bagian barat dominan dari daratan China. Sehingga Prof. Herawati mengatakan yang terjadi di Indonesia itu sebenarnya “Genneka Tunggal Ika”. Campuran beberapa gen yang menyatu dalam suatu komunitas yaitu bangsa Indonesia.

Jadi sebetulnya tidak pernah ada gen asli Indonesia, bukan ? Jadi mengapa kita ribut tentang Indonesia asli atau bukan ? Kalaupun kita berbangga tepuk dada sebagai orang Indonesia asli, lalu apa kontribusi kita terhadap Indonesia ? Seharusnya kita malu, meskipun dikatakan “tidak asli Indonesia” seorang Agnes Mo, Susi Susanti, Rudi Hartono dan lain-lain telah membanggakan nama Indonesia di dunia International. Pada saat mereka mengibarkan bendera merah putih di langit dunia, nasionalisme dan keindonesiaan mereka sudah menyatu dalam darah dan detak jantung mereka. Dan saya dengan bangga mengatakan, merekalah manusia Indonesia yang sebenarnya !!!

So, mari kita hemat energi untuk tidak memperdebatkan sesuatu yang tidak produktif. Jangan mudah terpancing dengan berita yang terkadang sengaja ditulis untuk memancing kegaduhan. Biasakan baca atau mendengar secara tuntas kemudian menelaah lalu silakan memberikan komentar.

Kita tidak mau digolongkan menjadi orang o’on dan asal njeplak seperti duo buntelan kentut Fadli Zon atau Lieus Sungkharisma, bukan ?

Salam SATU Indonesia,
27112019

WhatsApp chat