Bahaya dari istilah EBT= Energi Baru Terbarukan

Home / Artikel / Bahaya dari istilah EBT= Energi Baru Terbarukan

Oleh: Arimbi Heroepoetri.,SH.LL.M

(Pegiat Hukum, HAM, Masyarakat Adat, Lingkungan dan Perempuan, Direktur PKPBerdikari dan Peneliti Senior debtWATCH Indonesia)

 

Rapat Kerja Menteri Hukum dan HAM, Badan Legislasi DPR dan  DPD 14 Januari lalu menyepakati 33 rancangan undang-undang (RUU) masuk dalam Program Legislasi Nasional (Prolegnas) Prioritas tahun 2021. Ini menandakan skala prioritas pembahasan RUU di tahun 2021, walaupun tidak menjadi kepastian juga bahwa setiap RUU tersebut akan selesai dibahas dan menjadi UU di tahun yang sama. Daftar RUU yang masuk dalam Prolegnas tersebut, kemudian akan dibawa ke Paripurna DPR untuk disahkan. Biasanya tidak ada lagi perubahan dalam daftar RUU tersebut, kecuali ada negosiasi politik yang cukup kuat untuk mengeluarkan RUU dalam list Prolegnas 2021. Semisal, Fraksi Golkar dengan tegas menyatakan bahwa tiga RUU yang masuk dalam daftar Prolegnas 2021, yaitu RUU tentang Larangan Minuman Beralkohol, RUU Perlindungan Pekerja Rumah Tangga dan  RUU tentang Masyarakat Hukum Adat tidaklah urgen untuk dibahas di tahun 2021 ini.

Salah satu RUU yang masuk dalam Prolegnas 2021 adalah RUU Energi Baru dan Terbarukan yang diusulkan oleh Komisi VII DPR. Keberadaan RUU ini sangat dinantikan banyak pihak sebagai landasan hukum yang jelas dan komprehensif mengenai pengadaan, mekanisme, dan tata kelola penggunaan energi terbarukan dalam skema energi nasional kita. Maklum, sudah lama geregetan karena Indonesia memiliki potensi energi terbarukan yang demikian besar, namun tetap saja belum bisa menjadi sumber utama pengadaan energi dalam negeri. Sebut saja, energi surya, bayu, air, tanaman (biofuel), dan panas bumi. Di luar energi air dan panas bumi energi terbarukan lainnya masih dalam bentuk percobaan.

Secara awam diksi yang sering dipakai untuk menterjemahkan renewable energy adalah energi terbarukan, yang merujuk kepada sumber energi yang tidak habis sekali pakai. Entah sejak kapan kemudian muncul diksi ‘baru’ yaitu energi baru terbarukan sebagaimana Judul RUU yang masuk dalam Prolegnas 2021. Mengapa demikian?

Jika merujuk kepada UU No. 30 Thn 2007 tentang Energi, jejak mengenai diksi ‘energi baru terbarukan’ tidak cukup tegas ditemui. Menyimak Pasal 1 yang menentukan definisi dari beberapa kata kunci tidak ditemukan definisi Energi Baru Terbarukan. Beberapa kata kunci yang sedikit merujuk kepada istilah energi adalah sebagai berikut:

 

  1. Energi adalah kemampuan untuk melakukan kerja yang dapat berupa panas, cahaya, mekanika, kimia, dan elektromagnetika.
  2. Sumber energi adalah sesuatu yang dapat menghasilkan energi, baik secara langsung rriaupun melalui proses konversi atau transformasi.
  3. Sumber daya energi adalah sumber daya alam yang dapat dimanfaatkan, baik sebagai sumber energi maupun sebagai energi.
  4. Sumber energi baru adalah sumber energi yang dapat dihasilkan oleh teknologi baru baik yang berasal dari sumber energi terbarukan maupun sumber energi tak terbarukan, antara lain nuklir, hidrogen, gas metana batu bara (coal bed methane), batu bara tercairkan (liquified coal), dan batu bara tergaskan (gasified coal).
  5. Energi baru adalah energi yang berasal dari sumber energi baru.
  6. Sumber energi terbarukan adalah sumber energi yang dihasilkan dari sumber daya energi yang berkelanjutan jika dikelola dengan baik, antara lain panas bumi, angin, bioenergi, sinar matahari, aliran dan terjunan air, serta gerakan dan perbedaan suhu lapisan, laut.
  7. Energi terbarukan adalah energi yang berasal dari sumber energi terbarukan.

 

Sehingga, dengan demikian yang dapat dilakukan adalah melakukan penafsiran dengan merujuk kepada definisi ‘energi baru’ dan ‘energi terbarukan’. Maka Energi Baru Terbarukan memiliki definisi sebagai berikut: “adalah energi yang berasal dari sumber energi baru dan sumber energi terbarukan”. Sedangkan sumber energi baru adalah sumber energi yang dapat dihasilkan oleh teknologi baru baik yang berasal dari sumber energi terbarukan maupun sumber energi tak terbarukan, antara lain nuklir, hidrogen, gas metana batu bara (coal bed methane), batu bara tercairkan (liquified coal), dan batu bara tergaskan (gasified coal). Kemudian, sumber energi terbarukan adalah sumber energi yang dihasilkan dari sumber daya energi yang berkelanjutan jika dikelola dengan baik, antara lain panas bumi, angin, bioenergi, sinar matahari, aliran dan terjunan air, serta gerakan dan perbedaan suhu lapisan, laut.

Sehingga makna dari Energi Baru Terbarukan adalah energi yang berasal dari sumber energi yang dapat dihasilkan oleh teknologi baru baik yang berasal dari sumber energi terbarukan maupun sumber energi tak terbarukan, antara lain nuklir, hidrogen, gas metana batu bara (coal bed methane), batu bara tercairkan (liquified coal), dan batu bara tergaskan (gasified coal), serta dari sumber daya energi yang berkelanjutan jika dikelola dengan baik, antara lain panas bumi, angin, bioenergi, sinar matahari, aliran dan terjunan air, serta gerakan dan perbedaan suhu lapisan, laut.

Masalah yang ditimbulkan dari diksi energi baru terbarukan adalah masuknya sumber energi kontroversi yaitu nuklir, dan sumber energi berbasis batu bara yang termasuk energi kotor alias tidak ramah lingkungan (liquifiel coal dan gasified coal) bersamaan dengan bendera yang dipasang oleh diksi energi terbarukan: ramah lingkungan dan berkelanjutan. Terkesan ‘energi baru’ yang kontroversi dan tidak ramah lingkungan mendompleng ke ‘energi terbarukan’. Padahal perlakuan dan tata kelola dari kedua sumber energi tersebut berbeda, adalah tanda tanya besar mengapa disatukan dalam sebuah RUU. Ini akan menjadi pekerjaan rumah bagi semua pihak terutama mereka yang mendambakan sumber energi yang aman, ramah lingkungan dan  berkelanjutan. Semoga proses pembahasan RUU Energi Baru Terbarukan berlangsung secara terbuka, partisipatif dan memperhitungkan dengan cermat kapasitas lingkungan dan masa depan kita.