Gotong Royong Para Penghuni Wisma Atlet Untuk Sang Pengamen

Home / Berita / Gotong Royong Para Penghuni Wisma Atlet Untuk Sang Pengamen

Jakarta – Tiba-tiba saja, ada pengamen masuk ke Rumah Sakit Darurat Penanganan COVID-19 Wisma Atlet. Orang-orang positif COVID-19 yang menghuni tempat isolasi kemudian ‘bergerak’ menangani pengamen ini.

Ini adalah cerita kebersamaan para pasien penghuni lantai 29 Tower 7 rumah sakit darurat di Kemayoran Jakarta Pusat. Orang-orang positif COVID-19 ini tidak segan-segan ‘mengulurkan tangan’ kepada anggota baru.

“Saat saya di Wisma Atlet, waktu itu ada pengamen,” kata Juno, menceritakan pengalamannya kepada detikcom, Minggu (20/9/2020).

Juno (36) adalah karyawan swasta yang diisolasi di Rumah Sakit Darurat Wisma Atlet pada 17 April hingga 18 Mei lalu. Dia sedang bercerita pengalamannya, saat lantai 29 Tower 7 kedatangan seorang bapak-bapak bernama Pak Ujang, usianya sekitar 55 tahun. Dia ingat betul penampilan Pak Ujang si pengamen itu saat pertama melihat, yakni bersandal jepit, bercelana pendek, cara berjalannya agak membungkuk.

“Jadi saat dia ke Wisma Atlet, dia cuma bawa baju di badannya saja. Waktu dia diangkut ambulans, dia nggak dikasih waktu untuk siap-siap terlebih dahulu. Dia juga tidak punya duit,” kata Juno.

Para pasien penghuni lantai 29 berjumlah hampir 50 orang, pada saat itu. Mereka dengan cepat mengetahui siapa penghuni baru yang datang tanpa persiapan itu. Reaksi para pasien terhadap Pak Ujang mencerminkan kegotong-royongan yang spontan.

“Kami akhirnya iba melihat dia. Akhirnya kita gotong royong membantu Bapak ini. Saya sendiri membelikan dia satu kotak celana dalam,” kata Juno.

Para pasien di Wisma Atlet memang bisa membeli barang dari luar lewat ojek online. Nantinya, barang pesanan akan sampai di lobi lewat protokol pencegahan COVID-19 yang terjaga. Para pasien penghuni lantai 29 membantu Pak Ujang dengan berbagai cara.

“Ada yang membelikan detergen, ada yang membelikan baju, celana. Macam-macam lah. Jadi kita semua saling bahu-membahu, gotong-royong, tolong-menolong,” kata Juno.

Gotong-royong adalah hal lumrah di tower isolasi yang ditempat Juno kala itu. Dia ingat betul, seorang pasien bisa dengan mudah mendapatkan bantuan dari pasien lainnya hanya dengan berkomunikasi via grup WhatsApp (WA) beranggotakan para pasien penghuni satu lantai, di dalam grup WA juga ada perawat.

“Di sana kita harus berusaha membuat semua menjadi happy,” kata Juno.

Pihak Wisma Atlet cenderung membuat rileks para pasien. Mereka tidak banyak mengatur aktivitas para pasien, kecuali untuk hal-hal pokok seperti pemeriksaan medis atau kebutuhan makan. Di luar itu, para pasien harus menangani sendiri masalah sehari-hari. Mereka mencuci baju sendiri, mengepel lantai unit sendiri, dan saling membantu satu sama lain.

“Kita bisa mengunjungi penghuni unit sebelah, ngobrol-ngobrol, namun tetap mengenakan masker dan menjaga jarak. Kita biasa sharing (berbagi) soal macam-macam, termasuk masalah pribadi. Ini karena kita harus mendistraksi pikiran kita dari COVID-19,” kata Juno.

Rasa sendiri dalam hari-hari isolasi harus terusir. Kebersamaan tetap dijaga. Biasanya setiap unit berisi dua kamar dihuni oleh dua orang. Suatu saat, Juno pernah mengalami momen sendiri tanpa ada teman satu unit. Namun lewat aktivitas-aktivitas bersama penghuni unit lain, semuanya tidak susah dilalui. Apalagi fasilitas di Wisma Atlet memadai.

“WiFi-nya gratis dan kencang sekali,” kata Juno.

Para penghuni biasa keluar dari unitnya untuk keluar menikmati udara terbuka saat berjemur pagi hari atau sore hari. Lokasinya bisa di rooftop lantai 32.

Waktu itu, dia menghuni satu unit berisi dua kamar, kamar satu berukuran 4×3 meter dengan dua ranjang dan kamar lainnya berukuran lebih kecil 3×3 meter dengan satu ranjang. Dalam satu unit, ada satu kamar mandi luas dengan kloset duduk. Satu unit mempunyai ruang depan.

“Untuk pelayanan, mereka (pihak Wisma Atlet) sudah melakukan yang terbaik. Satu lantai dijaga satu sampai tiga perawat,” kata Juno.

Sumber