HAM: Harapan Anak Mantu “Mereka Berdusta, Maka Mereka Ada”

Home / Berita / HAM: Harapan Anak Mantu “Mereka Berdusta, Maka Mereka Ada”

Debat sesungguhnya adalah sebuah oase pertemuan antara gagasan yang saling bersimpang. Tapi kali ini, debat bukan pada porsi yang biasa. Karena, kali ini debat yang bermuara pada siapa yang paling mungkin dipermalukan.

Para komisioner sudah berfikir jauh kedepan. Mengantisipasi sebuah kejadian yang memalukan seperti malam tadi. Apa lacur, malang cuma bisa didulang. Prabowo mempermalukan dirinya sendiri.

Debat malam tadi, berputar pada masalah Hukum, Hak Asasi Manusia, Korupsi dan Terorisme. Malam tadi, adalah satu malam yang dinanti Prabowo tiba pada saatnya. Untuk kesekian kalinya, Harapan Anak Mantu (HAM) kembali menemukan momentumnya.

Saya tidak begitu berminat, mendelik secara akademik isi debat dan polemik percakapan publik. Karena, debat malam tadi terasa begitu normatif. Belum ada “Pertempuran Argumentasi”, yang membuat salah satu peserta tergelapar. Satu-satunya keseruan adalah “Aksi Memalukan” Prabowo. Dan dipastikan, itu menggerus suara dukungan.

Aksi-aksi memalukan itulah yang akan menjadi topik pembahasan kita. Saya juga berharap ini jangan semata dijadikan alat untuk menjatuhkan Prabowo, yang hampir terkapar. Kendati menjadi salah satu referensi perbaikan tim Prabowo-Sandi kedepan.

Pertama, ketika masuk pada problem penegakan hukum. Prabowo dengan lantang-gemilang menyatakan dirinya akan menjadi law enforcement officer. Bahkan dirinya mendefinisikan Presiden adalah “law enforcement officer”. Betapapun memalukannya itu, ini menunjukan Prabowo tidak memahami derajat dan fungsi penegakan hukum. Begini, pada 8 Oktober 2018 lalu. Presiden Trump berpidato di Orlando. Kutipannya seperti ini; “I proud to have an administration that supports law enforcement officers nationwide and that, through its cooperation, the U.S. has made great strides toward a safer country.”

Dari kutipan Presiden Trump, it’s mean President and law enforcement officer is different things. Katanya, Prabowo hebat berbahasa Inggris tetapi menyerap perkataan Trump saja keliru. Petugas penegak hukum dan Presiden tentu hal yang berbeda. Saya akan luruskan pemahaman Prabowo soal kata “President”. Begini, kata Presiden, berasal dari kata latin praesident/praesidens. Dia adalah orang yang diangkat oleh publik untuk memimpin. Dia didaulat kuasa oleh rakyat untuk mengelola negara. Dalam teori politik, Presiden memang langsung dipilih rakyat. Berbeda dengan Perdana Mentri (Prime Minister) yang lahir dari konsesi partai politik.

Tentu, Presiden bukan petugas. Dia pemimpin nasional. Barulah Presiden mengangkat pimpinan penegak hukum atas mandat konstitusi rakyat. Prabowo, terlihat gagap dan gugup mengurai problem ini.

Kedua, dalam sesi debat berikutnya adalah Hak Asasi Manusia. Kali ini Prabowo terbuntal akibat kulit pisang yang dikunyahnya sendiri. Dalam mekanisme pengawasan, Prabowo mengusung konsep Pengawasan Represif. Sebagai seorang Jendral disertir, aktivitas represif memang begitu dekat dengan dirinya. Represif artinya menggunakan kekuatan aparatus bersenjata, secara koersif dan otoritatif. Artinya, metode pengawasan yang digunakan seperti pola perbudakan. Diantara sepuluh budak, ada satu centeng dengan cambuk mengawasi. Bahkan, jika ada salah satu pekerja yang salah, bisa berujung pada perampasan nyawa. Prabowo cenderung mengedepankan prinsip-prinsip dasar kekerasan, ketimbang prinsip dasar pendidikan.

Jika kita hayati lebih dalam, pengawasan represif bukan sebatas kata. Tetapi itu adalah kejujuran Prabowo menerapkan sistem itu didalam partainya. Semangat itu tumbuh berkembang dilingkungan Partai Gerindra.

Ketiga, yang tak kalah memalukan. Ini adalah saat-saat seorang Prabowo diuji konsistensinya. Dalam sesi korupsi, Jokowi melontarkan pertanyaan. Pertanyaan itu terkait banyaknya mantan koruptor dan mantan narapidana. Secara emosional Prabowo menjawab bahwa dirinya sebagai pimpinan Partai Gerindra tidak percaya itu. Tapi yang konyolnya, Prabowo menegaskan bahwa jika korupsinya kecil-kecilan ya itu tidak ada masalah. Dalam penegasan sikap ini menunjukan bahwa Prabowo orang yang mentoleransi prilaku korupsi dan bukan orang yang bersungguh melawan kejahatan korupsi. Mungkin ini bisa dimaklumi, karena ayahnya Sumitro Hadijojokusumo juga pernah diduga melakulan aksi korupsi pada masa Orde Lama. Mungkin Prabowo ingin jujur pada masa lalunya.

Terakhir, Prabowo ibarat badut berjoget tanpa celana. Begitu konyol, dan kental dengan mempermalukan dirinya sendiri. Mungkin kita sering melihat Prabowo menari dengan gerakan tubuh yang kaku. Banyak pengamat menilai aksi joget-badut itulah yang menjadi salah satu faktor merosotnya elektabilitas Prabowo.

Pertanyaannya, kenapa dia tetap melakukannya? Beberapa teman ahli saraf saya, pernah menganalisis geral Prabowo. Dan mereka berpendapat Prabowo punya problem dengan saraf. Secara kasat mata, minimal kita sering melihat mulutnya yang merot. Tapi ada hal lain. Kendali emosinya. Aksi joget-badut dalam debat, adalah bentuk katarsis dari emosional Prabowo akibat terhimpit pertanyaan. Secara spontan, Sandiaga Uno memijat Prabowo yang semakin menebalkan kesan kekonyolan.

Jadi, teman-teman, saudara-saudara, om-tante, pakde-bude, abang-kakak, adik-adik dengan melihat aksi-aksi memalukan Prabowo. Kita harus berfikir ulang, apakah mampu orang seperti itu mengatur Republik Indonesia yang didirikan oleh orang-orang sehat wal afiat. Dan semestinya perjuangan itu diteruskan oleh orang-orang waras. Bukan manusia badut yang buas.

“Akal Sehat Tidak Boleh Rehat_

Abi Rekso Panggalih