Indonesia Diprediksi Tak Terdampak Resesi Korea Selatan dan Singapura

Home / Berita / Indonesia Diprediksi Tak Terdampak Resesi Korea Selatan dan Singapura

Jakarta, PKP Berdikari – Korea Selatan resmi menyusul Singapura memasuki jurang resesi pasca perekonomiannya tercatat minus dalam dua kuartal berturut-turut. Penurunan kinerja ekspor secara drastis akibat pandemi Covid-19 dianggap menjadi penyebab utama resesi.

Mantan Menteri Koordinator Perekonomian Rizal Ramli menganggap nasib Indonesia tidak akan seperti Singapura dan Korea Selatan. Hal itu disebabkan minimnya kontribusi ekspor terhadap Produk Domestik Bruto (PDB) Indonesia, yakni kurang dari 20 persen. PDB Indonesia lebih didominasi oleh konsumsi dalam negeri yang mencapi lebih dari 50 persen.

“Dampak global dari resesi dunia itu lebih kecil terhadap Indonesia. Singapura dan beberapa negara lain, dia akan kena dampak resesi global yang lebih besar. Singapura akan lebih rontok dibandingkan Indonesia” ujar Rizal seperti dikutip Bisnis.com.

Lebih lanjut, Rizal mengingatkan pemerintah Indonesia tidak boleh terlena. Harus ada langkah tegas dalam menyikapi dampak pandemi terhadap perekonomian nasional.

Peneliti Senior INDEF Aviliani malah lebih optimis dalam melihat resesi yang sedang terjadi di Korsel, khususnya pada sektor keuangan atau Investasi. Menurutnya, ada peluang pemindahan investasi dari Negeri Ginseng itu ke Indonesia.

“Dengan resesi, malah kita (Indonesia) akan diuntungkan karena banyak investasi yang masuk. Beberapa perusahaan, terutama perbankan telah berkomitmen menanamkan danya di RI,” jelas Aviliani dalam laporan CNBCIndonesia.

Pemulihan ekonomi di Indonesia memiliki potensi untuk lebih baik jika dibandingkan dengan negara lain usai pandemi Covid-19. Aviliani menekankan, besaran belanja pemerintah akan menentukan apakah Indonesia ikut masuk ke jurang resesi atau tidak.

“Kalau nanti Indonesia masuk resesi, orang melihat belanja pemerintah masih belum penuh dan pasar kita setelah pandemi corona masih dilihat bagus,” lanjutnya.

Selanjutnya, kalau Indonesia bertahan dengan pertumbuhan positif dan tidak resesi, maka mata uang rupiah akan menjadi mata uang terkuat akibat masuknya investasi dari luar. Aviliani berharap pertumbuhan ekonomi Indonesia pada kuartal III 2020 akan masuk ke zona positif.