Kepala BPPT: Transformasi Digital Akan Terjadi Lebih Cepat

Home / Berita / Kepala BPPT: Transformasi Digital Akan Terjadi Lebih Cepat

Jakarta, PKP Berdikari – Di tengah pandemi Covid-19, dunia dipaksa melakukan transformasi digital yang lebih cepat dari bayangan manusia. Untuk itu, seluruh kemampuan industri 4.0 yang sedang dikembangkan diharapkan menjadi penopang dalam melakukan inovasi.

“Pandemi membuat itu (Transformasi Digital) terjadi lebih cepat dari yang dibayangkan,” ujar Kepala Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi Hammam Riza dalam Webinar ‘Breakthrough with Technology to the Future’, Jumat, 10 Juli 2020.

Transformasi Digital juga harus terjadi pada kemampuan layanan pemerintah di masa depan. Hammam memaparkan setidaknya ada empat area yang harus dikuasai untuk menunjang hal tersebut, diantaranya penguasaan Data, Model Bisnis, Regulasi, dan Teknologi.

Terkait regulasi, Pemerintah Indonesia sebelumnya telah menerbitkan payung hukum melalui Perpres Nomor 95 Tahun 2018 tentang Sistem Pemerintahan Berbasis Elektronik. Tidak hanya itu, Perpres 39 Tahun 2019 tentang Satu Data Indonesia, ditujukan untuk mewujudkan keterpaduan data dalam melaksanakan pembangunan.

Hammam menegaskan, penggunaan teknologi terutama Artificial Intelligence (AI) di Indonesia harus dikembangkan dengan dukungan ekosistem riset yang baik. “AI di indonesia sangat penting, karena ada banyak hal yang harus kita dorong agar Indonesia tidak kalah dari China, Amerika dan negara lain, yang sudah lebih dulu menerapkan AI,” kata Hammam.

Keseriusan pemerintah Indonesia dalam mendorong penerapan AI tergambar melalui Strategi Nasional Kecerdasan Buatan yang sedang digarap BPPT. Ada lima area yang menjadi prioritas penerapan AI dalam menunjang pembangunan nasional, yakni bidang Kesehatan, Reformasi Birokrasi, Pendidikan dan Penelitian, Ketahanan Pangan, serta Penerapan Smart City.

Selama menghadapi wabah Covid-19, lanjut Hammam, penggunaan AI sangat membantu tenaga medis dalam melakukan pekerjaannya. Dalam melakukan deteksi melalui pemeriksaan X-ray misalnya, umumnya hasil pemeriksaan akan didapatkan dalam waktu sekitar 20 menit. Dengan menggunakan teknologi, hasil akan keluar dalam 2 menit saja.

“AI bukan menggantikan peran Radiolog, tapi justru membantu,” papar Hammam.

Selain di bidang kesehatan, AI juga kerap digunakan pada pengelolaan perkebunan sawit di Indonesia. “Kita dapat memprediksi kapan masa tanam atau masa panen akan datang. Bahkan kita bisa menganalisis kesehatan tanaman sawit tesebut,” tutup Hammam.