Pelukan Belasungkawa Keluarga Korban Lion Air JT610

Home / Berita / Pelukan Belasungkawa Keluarga Korban Lion Air JT610

Senin, 29 Oktober 2018, menjelang tengah malam dari Posko Krisis Center Halim Perdana Kesuma saya pergi ke Hotel Ibis Cawang. Malam beranjak larut, para keluarga korban masih berdatangan dari luar kota. Jam menunjukkan pukul 02.30 Wib.

Mata saya sudah berat. Saya masih melihat wajah-wajah lelah sembab dari keluarga korban yang baru tiba di lobby hotel. Langkahnya gontai. Ada yang dipapah. Ada yamg dipeluk. Semuanya larut dalam sejuta tanya berbaur isak.

Ibu Putri istri Wahyu Alldila pagi itu tampak berduka sekali. Saban detik layar hapenya terus dipandanginya. Di kursi lobby hotel, Ia terus meratap tanpa suara. Bahkan untuk bersuara saja tenaganya sudah habis. Hanya air mata tanpa aksara yang terbaca dari jiwanya yang hilang separuh.

Entah seperti apa batin bayi 7 bulan yang sedang dikandungnya. Ayah si jabang bayi yang sebentar lagi lahir ke dunia telah terbang ke surga bersama anak sulungnya. Bayi itu tidak akan pernah melihat ayah dan abangnya lagi.

Di tempat lain, Ibu Dewi Manik yang saya temui di Posko Halim Perdanan Kesuma, juga terlihat duduk di lobby hotel. Matanya menatap kosong pada langit-langit lobby.

Adik iparnya Edi Hendra duduk di bawah tangga dengan tangan memegangi kepalanya. Tampak mereka kurang tidur. Bagaimana bisa tidur di tengah suasana duka dan cerita hancurnya pesawat berkeping-keping yang ditumpangi sanak saudaranya?

Dari seorang teman saya dapat kabar, di dalam kamar hotel, Ibu Dewi Manik terus histeris. Ia pingsan beberapa kali. Menangis tiada henti. Raganya seakan berpisah dengan jiwanya. Mencoba menyusul suami yang dicintainya di Laut Karawang.

Pukul 09.00 Wib, bus Lion Air tiba menjemput para keluarga mengantar mereka ke RS Polri Kramat Jati. Mereka diminta test DNA. Untuk mencocokkan identifikasi atas jenazah yang telah ditemukan tim Basarnas.

Saya ikut bus itu. Dalam bus, hanya suara zikir dan tangis yang terdengar. Tidak ada suara lain. Semua keluarga korban seperti sedang memburu nasib buruk. Apakah suamiku dikantong jenazah itu? Apakah istriku? Anakku? Ibuku? Ayahku?

Di RS Polri Kramat Jati, suasana duka masih menyelimuti. Ratusan orang memadati tenda kursi yang disediakan rumah sakit. Para keluarga korban sibuk mengurus dokumen dan test DNA.

Di ruang DVI Disaster Victim Identification, Pusat Informasi Posko terlihat dipenuhi tripot rekan-rekan media. Ada banyak rekan-rekan jurnalis selonjoran duduk di lantai sambil mengirim berita ke redaksi.

Di sebelah ruangan lobby DVI itu, saya melihat banyak orang berpakaian kemeja lengan panjang putih padu celana hitam. Di lengan mereka melingkar pita hitam. Ada puluhan orang berpita hitam saya lihat. Saya melirik tanda pengenal salah seorang dari mereka. Tertera nama Direktorat Jenderal Pajak.

Saya menerka mereka adalah pegawai Kementerian Keuangan. Ada tiga puluhan orang pegawai Kementerian Keuangan ikut dalan pesawat Lion JT 610 itu. Saya melihat wajah sendu dari teman-teman kementerian keuangan ini. Dengan sabar mereka mendampingi keluarga korban yang juga teman sejawat mereka.

“Uhhh.. Uhhhh… Uhhh”, terdengar isak tangis seorang pria sambil memeluk erat temannya. Mereka berpelukan sambil menangis bersama. Sesekali terdengar kata-kata yang tidak jelas karena bercampur dengan isak tangis.

Melihat dua pria berpelukan sambil menangis itu, tiba-tiba laki-laki di samping saya ikut menangis. Laki-laki itu menangis cukup kencang. Dadanya ikut berguncang. Saya kebetulan duduk di samping laki-laki muda itu.

“Mas kenapa menangis”, tanya saya pelan.

“Adik perempuan saya penumpang pesawat itu Bang. Adik saya istri dia Bang”, ujarnya sambil menunjuk laki-laki yang berpelukan di depan kami itu.

Spontan saya merangkulnya. Menepuk pundaknya. Mencoba menguatkan perasaannya.

“Ponakan saya masih 7 tahun Bang. Ia belum tahu ibunya begini. Biasanya setiap sore dan malam adik saya Vcall sama anaknya”, ucap laki-laki itu terbata-bata.

“Kami belum memberitahukan keadaan ibunya. Tapi ponakan saya terus menanyakan mana mami.. Mana mami”, ucapnya sesunggukkan.

Adik laki-laki itu bernama Maria Ulfa. Maria Ulfa pegawai Ditjen Pajak KPP Pratama Bangka. Setiap Senin pagi Maria kembali ke Babel mendedikasikan hidupnya untuk mengelola keuangan negara.

Saya hanya merangkul dan ikut merasakan duka kakak Maria Ulfa itu. Air matanya tak terbendung. Tidak mudah seorang laki-laki menangis.

Di depan saya, hampir semua yang memenuhi ruangan DVI itu laki-laki. Ada puluhan mereka pegawai Kementerian Keuangan Ditjen Pajak. Para laki-laki yang gagah itu tidak kuasa menyembunyikan buliran air mata yang jatuh bebas tidak tertahankan.

Ada banyak cerita menguras emosi saya yang saya dengar di sana. Saya membayangkan bagaimana anak-anak mereka yang masih kecil dan masih lucu-lucunya itu terus berusaha Vcall ibunya tapi tiada jawab dari ibunya.

Seperti anak Ibu Maria Ulfa yang merindu itu.

“Paman kata temanku.. Pesawat yang dinaiki mami jatuh ya”, tanya ponakan laki-laki itu padanya.

“Saya tidak bisa menjawab pertanyaannya Bang”, ucap kakak kandung Maria Ulfa itu sambil terisak membayangkan ponakannya yang harus ditinggal pergi ibunya.

Ahhh… Mata saya ikut berkaca-kaca. Saya hanya bisa menepuk pundak laki-laki itu. Merangkulnya dan berbisik “Yang kuat dan tabah ya Mas. Sabar ya mas. Semoga adik mas ditemukan selamat ya. Berdoa pada Tuhan ya”. Ia hanya mengangguk sambil terisak.

Dua laki-laki di depan saya itu masih berpelukan. Cukup lama. Sekitar 5 menit mereka berpelukan bertangisan.

Ces’t le vie.. Begitulah hidup kata orang Prancis.

Hidup ini misteri. Kita tidak tahu apa yang bakal terjadi. Tapi selagi hidup, hidup adalah kebajikan. Tentang hidup untuk menghidupi kehidupan. Menyirami cinta bagi mereka yang sedang sakit perasaannya. Memeluk mereka yang sedang lunglai kedua kakinya.

Hanya itu yang perlu kita lakukan agar hidup bermakna… Bisakah?

Salam perjuangan penuh cinta

Birgaldo Sinaga