PILPRES AS ERA TRUMP VERSUS PILPRES INDONESIA 2019 PERULANGAN METODOLOGI DAN EKSPLORASI BIG DATA

Home / Berita / PILPRES AS ERA TRUMP VERSUS PILPRES INDONESIA 2019 PERULANGAN METODOLOGI DAN EKSPLORASI BIG DATA

Di era global peran BIG DATA menjadi sangat penting. BIG DATA adalah maha data yang menjadi basis bagi pengolahan data menjadi informasi secara valid dan terintegrasi, untuk bisa disharing untuk kepentingan bersama diantara stakeholder. BIG DATA sebenarnya diklasifikasikan dalam milestone sukses kemunculan REVO 3.0.

Meskipun demikian, di era REVO 4.0 saat ini, penggunaan BIG DATA semakin massif dan melebar hingga penggunaannya untuk pemenangan kampanye pemilu. APA INDIKASINYA? Pilpres AS yang dimenangkan oleh Donald Trump adalah salah satu contoh sukses penggunaan BIG DATA untuk kepentingan politik.

Adalah Cambridge Analityca, suatu internet research agency swasta yang mempopulerkan penggunaan data puluhan juta pengguna facebook dan twitter untuk mengklaster preferensi masyarakat, dan menembakkan informasi-informasi HOAX dan PROVOKATIF yang menjadi presferensi kelompok-kelompok tersebut.

Cambridge analityca menggunakan sebuah aplikasi bernama thisisyourdigitallife buatan Aleksandr Kogan (biasa menggunakan nama singkat Dr.Specter), seorang ilmuwan data Universitas Cambridge, sehingga Cambridge Analityca (CA) diasosiasikan dengan nama besar Cambridge University. Aleksande Kogan lulusan Universitas California Berkley yang lahir di Moldova Rusia, dengan berayahkan seorang Yahudi.

Kombinasi kelahiran Rusia dan berdarah Yahudi inilah mungkin yang menyebabkan tim kampanye Trump bisa bekerjasama erat dengan Internet Research Agency di St. Peterburg Rusia, suatu lembaga riset politik yang berafiliasi dengan presiden Rusia Vladimir Putin yang membantu pemenangan Trump dan partai Republic pada pemilu tahun 2016 yang lalu.

Cincai antara Trump dengan Rusia inilah yang sekarang dipermasalahkan Senat AS. Bagi Trump, sebagai pebisnis kelas kakap, tidak ada yang salah dalam kerjasama ini, karena sejatinya dalam mental pebisnis besar (ala Trump) yang penting adalah menang, apapun caranya dan siapapun yang membantu pemenangannya.

Bagaimana mekanisme kerja CA tersebut? Agus Sudibyo seorang pakar media riset dalam opininya menjelaskan bahwa dalam investigasi komite intelijen senat AS bekerjasama dengan Computational Propaganda Project nya Universitas Oxford, ditemukan hal-hal sebagai berikut:

1. Manipulasi, disinformasi, dan mobilisasi berskala besar, dengan menciptakan ratusan akun media social palsu. Dalam hal ini agen Rusia menyebarkan pesan-pesan politik yang provokatif untuk mengaduk-aduk sentiment primordial masyarakat AS melalui diskusi diskusi yang penuh prasangka RAS dan AGAMA.

2. Sekmentasi manipulasi informasi tersebut berfokus pada pembicaraan yang intens tentang konflik kepentingan antara: imigran vs penduduk asli, kulit putih vs kulit hitam, muslim vs non muslim.

3. Desas desus ketidak beresan tahapan pemilu dan tata cara pemungutan suara untuk menanamkan opini ketidakpercayaan kepada penyelenggara pemilu

Berkaca pada pengalaman AS diatas, bagaimanakah dengan pemilu PILPRES 2019 di Indonesia? Saya berpendapat bahwa memang telah terjadi PERULANGAN METODOLOGI dan eksplorasi penggunaan BIG DATA sebagaimana Pilpres di AS.

APA BUKTINYA? Point 1 berupa manipulasi informasi sudah pasti jadi makanan sehari-hari di media social, dimana berita 2015, 2016 ditayang ulang lagi dengan bumbu-bumbu hoax dan provokatif. Demikian juga point 2 yang membahas seakan-akan PEMILU 2019 ini berhubungan dengan perjuangan antara salah satu agama dengan penguasaan oleh kelompok agama yang lain.

Bagaimana dengan point ke 3? Disinilah perebutan sebenarnya bagi pihak yang ingin menang, karena targetnya adalah pemilih pemula dan pemilih yang masih ragu-ragu. Opini tentang pemilu yang tidak jujur bila petahana menang, opini tentang sensus bahwa salah satu kandidat penantang memiliki elektabilitas yang tinggi dll adalah cara-cara ala CA di Pilpres AS, yang berusaha mendelegitimasi KPU sebagai penyelenggara pemilu yang harus berlaku JUJUR, ADIL dan TRANSPARAN.

Semoga persatuan bangsa dan NKRI tidak dikorbankan hanya sekedar untuk event PILPRES maupun PILKADA serentak. Mari gunakan AKAL SEHAT, nalar yang KRITIS, dan semangat OPTIMIS yang tinggi untuk membangun negara Indonesia yang kuat.

Indonesia tidak akan bubar ditahun 2030, tetapi Indonesia akan menjadi kekuatan dunia kelima setelah China, AS, India, dan Jepang pada tahun 2030 nanti sebagaimana prediksi lembaga rating terkemuka PWC. Bismillah

SALAM PERSATUAN
Dr.Ir.Arman Hakim Nasution, M.Eng
MANAJEMEN BISNIS ITS
WA: 081331468839