“Strategi Kebudayaan” Jokowi

Home / Berita / “Strategi Kebudayaan” Jokowi

Ignas Kleden, seorang sosiolog terkemuka di negeri ini, dalam sebuah tulisannya di Kompas (2015) menulis gagasan Presiden Joko Widodo (Jokowi) tentang Nawacita, dapat dipandang sebagai suatu kerangka budaya atau cultural framework untuk menggerakkan politik dan ekonomi Indonesia secara baru.

Menurut Ignas Kleden, kebudayaan tak hanya dilihat sebagai sarana integrasi sosial-budaya, tetapi sebagai sarana untuk melakukan cultural resistanceterhadap berbagai hubungan timpang akibat dominasi yang berlebihan. Gagasan memperkuat sektor strategis dalam ekonomi domestik adalah panggilan untuk melakukan resistensi terhadap dominasi global dalam ekonomi.

Gagasan menggerakkan pembangunan dari pinggir dengan memperkuat desa-desa adalah intuisi untuk melakukan resistensi terhadap sentralisme yang demikian dominan dalam ekonomi dan politik. Imbauan untuk menekankan pentingnya pendidikan karakter adalah jalan kepada resistensi terhadap pragmatisme politik, konsumerisme ekonomi, dan sikap permisif dalam moralitas.

Itulah semangat Nawacita sebagai kerangka budaya untuk pembangunan, yang diteriakkan Jokowi sejak kampanye Pilpres 2014. Dan, terus diteriakkan selama ini. Dengan kerangka budaya untuk pembangunan seperti itu, sebenarnyalah kita tidak perlu cemas akan masa depan. Sebab, kerangka budaya seperti itu akan menggerakkan Indonesia ke arah kemajuan.

Jauh tahun sebelumnya, yakni pada tahun 1974, antropolog Koentjaraningrat mengingatkan bahwa keberhasilan pembangunan di Indonesia amat bergantung pada kebudayaan pendukung. Koentjaraningrat menyebut kelemahan mentalitas orang Indonesia yang melekat pada sistem nilai tradisional maupun nilai-nilai baru sesudah revolusi.

Masih menurut Koentjaraningrat, karena lama terjajah, orang Indonesia cenderung pasif dan minder berhadapan dengan orang Barat. Mentalitas itu melumpuhkan inisiatif. Orang lebih suka jadi bawahan yang diperintah daripada memerintah diri sendiri dengan bertanggung jawab. Akhirnya, cenderung konsumtif daripada produktif, cenderung impor daripada susah payah berswasembada.

Mentalitas tradisional, mentalitas terjajah, dan mentalitas pasca revolusi, ketiga lapisan mentalitas itulah yang tanpa disadari membentuk Indonesia dan menghambat gerak maju bangsa. Mentalitas seperti itu yang ingin dan telah sebagian didobrak Jokowi, yang menurut istilah Ignas Kleden, lewat cultural resistence.

Jokowi sejak semula, berteriak lantang akan penting dan perlunya “kerja, kerja, kerja.” Dia tidak hanya berteriak, tetapi mempratikkannya. Budaya kerja yang disuntikkan itu ibarat kata ingin “meruntuhkan” apa yang dahulu pada tahun 1977 pernah dikemukakan oleh Mochtar Lubis, seorang wartawan dan budayawan Indonesia.

Dalam Manusia Indonesia (2001) yang diterbitkan Yayasan Obor Indonesia, yang sebelumnya pernah disampaikan Mochtar Lubis dalam ceramah budaya (1977), dikatakan ada beberapa ciri khas manusia Indonesia.

Pertama, manusia Indonesia adalah kemunafikan. Kedua, tidak mau (enggan atau segan) bertanggung jawab atas perbuatan yang telah dilakukannya. Ketiga, berjiwa feodal. Keempat, percaya pada hal-hal mistik, takhayul. Kelima, artistik.

Keenam dan selanjutnya, adalah tidak sabaran, suka mengeluh, dan iri hati (dengki), suka menyombongkan diri, lalu juga suka mengamuk, mengeroyok, membunuh, berkhianat dan sifat destruktif lainnya.

Selain menyodorkan ciri-ciri buruk manusia Indonesia, Mochtar Lubis juga menunjukkan ciri-ciri baiknya: ramah, mudah tertawa sekalipun mengalami hal pahit, suka menolong, suka damai, hatinya lembut, sayang keluarga, dan kekuatan ikatan keluarga besar, mudah belajar karena bangsa ini cerdas, dan cepat belajar keterampilan.

Revolusi Mental yang diusung Jokowi diharapkan dapat meruntuhkan ciri-ciri manusia Indonesia yang disodorkan oleh Mochtar Lubis. Dalam banyak hal, selama empat tahun terakhir, Jokowi terus berusaha untuk membuat manusia yang “tidak suka kerja keras” menjadi suka kerja keras, yang tidak mau tanggung jawab menjadi mau bertanggung jawab, yang berjiwa feodal bisa menjadi manusia yang berjiwa penuh pelayanan.

Jokowi memahami benar bahwa untuk menjadi modern, mentalitas dan peradaban juga harus modern untuk persemaian sains dan teknologi. Pada ujungnya, kebudayaan menjadi sebuah modal sosial yang membuat bangsa sintas dan pentas di era global. Untuk itu, kebudayaan harus terlibat dalam dialog peradaban, lalu direkayasa untuk kemajuan bangsa.

Bukankah masa depan suatu bangsa bergantung pada penjernihan pikiran dan ketulusan kepribadian untuk terus memperjuangkan peningkaan derajat manusia. Dengan kata lain, berbudaya modern tidak cukup hanya pandai menggunakan gawai komunikasi modern untuk komunikasi dan kesenangan, tanpa peningkatan produktivitas dan keilmuan.

Mengapa demikian? Sebab, manusia berbudaya adalah manusia yang memiliki sikap moral estetis yang religius, toleran, ugahari, kerendahan hati, bersemangat kerja tinggi serta berdisiplin tinggi, dan tidak korup di tengah dunia yang lari tunggang langgang ini.

Itulah kerangka budaya yang diusung Jokowi lewat Nawacitra selama ini.

Sumber