Terapi Plasma Konvalesen: Alternatif Pengobatan Covid-19

Home / Berita / Terapi Plasma Konvalesen: Alternatif Pengobatan Covid-19

Jakarta, PKP Berdikari – Sejak kasus Covid-19 pertama kali dilaporkan pada 31 Desember 2019 di Wuhan, China, vaksin dari penyakit ini belum juga ditemukan. Meski demikian, berbagai alternatif penyembuhan telah diterapkan pada pasien positif Covid-19, salah satunya Terapi Plasma Konvalesen (TPK).

DR. dr. Theresia Monica Rahardjo, Sp.An.-KIC mengatakan, terapi ini sudah ada sejak lebih dari 100 tahun lalu ketika wabah Flu melanda berbagai belahan dunia. “Sudah digunakan juga untuk wabah SARS dan MERS,” kata dr. Monica dalam Live Webinar bertajuk ‘Pendekatan Terapi Pada Pasien Covid-19’, Rabu, 27 Mei 2020.

Mengutip pada salah satu jurnal kedokteran, dr. Monica menyebut, dari 10 pasien yang menjalani terapi, seluruhnya dinyatakan sembuh. Hal ini menggambarkan efektivitas TPK ketika diterapkan pada pasien Covid-19 mencapai 100 persen. Selain itu, angka kematian pada pasien yang telah diberikan TPK juga lebih rendah.

Plasma Konvalesen merupakan sebuah terapi yang dilakukan dengan mengambil sistem kekebalan tubuh dari orang lain, kemudian dimasukan ke dalam tubuh kita. “Syaratnya, calon pendonor plasma darah harus terinveksi virus Covid-19 terlebih dulu, bukan virus yang lain,” lanjut dr. Monica.

Sedangkan syarat yang harus dipenuhi bagi calon Resipen atau penerima yaitu PCR positif, Covid-19 Berat (Sesak napas, frekuensi napas lebih dari 30 kali per menit, infiltrat paru lebih dari 50 persen), dan Covid-19 Kritis (Gagal napas, Syok septik, dan disfungsi atau gagal organ multipel). “Jadi tidak serta merta terapi ini langsung berhasil, harus memenuhi persyaratan,” tambah dr. Monica.

Persyaratan yang disebutkan di atas, lanjut dr. Monica, diambil dari buku Tatalaksana Terapi Plasma Konvalesen Bagi Pasien Covid-19 yang telah diluncurkan sekitar awal April lalu.

Terapi Plasma Konvalesen mulai diterapkan di beberapa daerah, seperti Jakarta, Semarang, Surabaya, hingga Makasar. “Di RSPAD Gatot Subroto ada 7 pasien, 2 diantaranya menunjukan perbaikan. Lalu RS Mayapada, RS Pertamina Jaya. Di Makasar sudah ada satu donor pertama yang diambil plasmanya,” imbuh dr. Monica.

Webinar yang diselenggarakan oleh Perhimpunan Dokter Intensive Care Indoneisa (PERDICI) dan diikuti lebih dari 700 partisipan itu, juga memaparkan terapi jenis lain untuk penyembuhan Covid-19, yaitu Terapi Nutrisi yang dibawakan oleh DR. Dr. Ike Sri Redjeki, dan Terapi Oksigen oleh Dr. Bambang Pujo Semedi, SpAn-KIC.

Dalam kesempatan itu, dr. Ike menekankan pentingnya keseimbangan nutrisi bagi pasien Covid-19, khususnya pada kasus Post ICU Care. “Kebutuhan nutrisi bagi orang yang telah melewati perawatan ICU akan berbeda dengan pasien lain,” kata dr. Ike.

Asupan seperti Omega 3 dan Glutation (Vitamin C dan Vitamin E) yang bekerja untuk menjaga imun atau kekebalan tubuh juga perlu diperhatikan. Kandungan tersebut bisa didapatkan dengan mudah pada beberapa jenis makanan, seperti telur, ikan, atau berbagai makanan lain. “Sekali lagi, Balance Nutrition itu penting.” tegas dr. Ike Sri Redjeki.