Ustad Arifin Ilham dan Jokowi

Home / Berita / Ustad Arifin Ilham dan Jokowi

Oleh: Birgaldo Sinaga

 

Ustad Arifin Ilham. Siapa yang tidak mengenal Ustad yang punya ciri khas suara serak-serak basah ini? Jika ditanya spontan sebutkan nama ustad kondang di tanah air pasti nama Ustad Arifin Ilham ini masuk lima besar yang disebut.

Sering wajahnya wara wiri di televisi. Ia lebih dikenal dengan acara zikir akbarnya. Saat menonton bersama jemaah zikirnya air mata jemaah banyak yang menetes. Lantunan doa mohon ampunan Ustad Arifin mampu menyentuh kalbu orang yang mendengar doanya. Tidak banyak ustad sekaliber Arifin Ilham dalam berzikir yang bisa membuat orang merenungi dosa kejahatan masing-masing pribadi.

Saya beberapa kali menonton Ustad Arifin Ilham. Maklum panggung televisi memberi porsi besar buatnya. Ia seangkatan dengan Ustad kondang lainnya seperti Ustad Uje, Ustad Yusuf Mansur. Kemudian baru-baru ini muncul Ustad Somad yang mempunyai kharisma tersendiri mirip seperti Dai Sejuta Umat Zainudin MZ yang segar penuh joke tausiahnya.

Dalam beberapa kali penampilannya, sering juga kening saya berkerut mendengar pilihan kata Ustad Arifin dalam menyampaikan pesan kenabian. Pesan kenabian ini tentu pesan universal. Islam sebagai rahmat semesta alam. Islam rahmatan lil alamin.

Resonansi suara Ustad Arifin Ilham yang terdengar bukan lagi tentang zikir mohon ampun pada Sang Khalik. Ia off side beberapa kali ketika memberi label kafir dalam beberapa tausiahnya. Tentu itu ruang private, umbar pendukungnya jadi bebas-bebas saja dalam ruang kalangan tersendiri penyebutan kafir itu. Ya sah-sah saja memang. Tapi sah-sah juga jika yang mendengarnya sakit hati dan kecewa pada si pengucap itu.

Dalam peristiwa aksi bela agama 212, Ustad Arifin Ilham memiliki peran menonjol dalam menekan pemerintah. Ucapan dan seruannya yang mengatakan Ahok sebagai orang yang berbahaya perusak toleransi dan perdamaian bak bensin menyiram api pengikut fanatiknya.

Api itu membesar lalu menjadi raksasa yang membunuh karir politik dan menyeret Ahok ke penjara. Sekalipun Ahok berkali-kali memohon ampun dan memohon beribu-ribu maaf vonis sebagai penista agama tidak menyurutkan gelombang kemarahan dan kebencian.

Di awal 2019 ini, dua berita dalam frekuensi berbeda datang bersamaan. Ahok bakal keluar penjara pada 24 Januari. Berita frekuensi yang lain Ustad Arifin Ilham diujung maut terbaring di RSCM akibat kena kanker kelenjar getah bening stadium 4. Banyak pejabat tinggi hingga pesohor menjenguk Ustad Arifin.

Harus saya akui Ustad Arifin Ilham adalah orang yang berseberangan dengan saya. Saya secara posisi berdiri berbeda dengannya. Ia ingin menyeret Ahok ke penjara, saya tidak. Ia ingin Ahok dihukum, saya ingin Ahok bebas. Kemarahan saya terlihat jelas dalam 2 tahun saat dijalanan membela Ahok pun juga melalui tulisan2 saya bahwa Ahok tidak bersalah.

Kemarin, saya mendapat gambar kelabu. Jenderal Tito dan Kyai Maruf Amin menjenguk Ustad Arifin Ilham yang tergolek lemah di ranjang rumah sakit. Tidak tampak lagi kegagahan pribadinya yang dulu begitu bertenaga. Wajahnya pucat lemah. Efek kemoterapi membuat susut bobot tubuhnya.

Saat melihat itu, hati saya berdesir. Jujur tidak ada lagi kemarahan yang dulu begitu berkobar. Tidak ada lagi dendam yang dulu begitu membuncah. Seketika batin saya luruh dalam rasa seperasaan. Saya pernah kehilangan kakak kandung akibat kanker payudara. Saya tahu bagaimana rasa sakit kanker. Kanker kelenjar getah bening ini kanker yang paling ganas dan sangat menyakitkan. Melebihi kanker lainnya. Saya yang membawa kakak ke RS Mahkota Melaka Malaysia.

Dalam lingkaran perjalanan hidup kita, kita boleh saja bertarung sebagai prajurit di medan laga saat berjuang memenangkan nilai yang kita yakini. Di medan perjuangan membela Ahok saya berhadapan dengan Ustad Arifin Ilham. Sepanjang bersuara atas nilai yang kita yakini itu sah dalam demokrasi.

Hari ini, Presiden Jokowi menjenguk Arifin Ilham. Selama ini Arifin Ilham menjadi ulama yang berseberangan dengan Jokowi. Ucapannya kerap kali menyindir Jokowi sebagai pemimpin yang jauh dari pemimpin yang baik. Sebuah surat Arifin berjudul “Takutlah pada Allah” viral dan memantik ratusan ribu cemoohan pada Jokowi yang disindir mabuk kekuasaan.

Hari ini, kedua insan yang berbeda pilihan politik ini berhadap-hadapan muka. Tampak keduanya adalah dua manusia biasa yang dalam pertemuan itu Jokowi ingin mendoakan dan memberi semangat pada Arifin Ilham.

Mereka Arifin Ilham dan Jokowi adalah dua manusia biasa yang sama seperti kita. Pernah sakit dan pernah terluka. Mereka dua manusia yang sejatinya bertaut rasa kemanusiaan dan cinta meskipun berseberangan dalam politik. Dua manusia itu akhirnya meluruh dalam rasa welas asih sebagai insan biasa. Kemanusiaan adalah muara dari semua gerak laku dan nafas kita sebagai manusia.

Pada titik ini saya sadar bahwa apapun yang kita genggam tidak akan pernah kita genggam. Ia akan lepas seperti buah jatuh dari tangkainya.

Saya mendoakan semoga Ustad Arifin Ilham diberikan kekuatan dan ketabahan dalam berjuang untuk sembuh.

Lekas sembuh Pak Ustad..

Salam perjuangan penuh cinta

Birgaldo Sinaga