Variabel Penularan Virus dan Pengendalian Pandemi

Home / Berita / Variabel Penularan Virus dan Pengendalian Pandemi

JAKARTA — Belakangan penyebaran virus corona di Indonesia menuingkat, sampai pemerintah harus menerapkan Perberlakukan Pembatasan Kegiatan Masyarakat (PPKM). Menurut dr. Firman Abdullah SpOG, ada tiga variabel manusia bisa terinfeksi virus. Pertama, virulensi (keganasan) virusnya. Kedua, jumlah virusnya, makin banyak maka makin besar peluang virusnya menginfeksi. Dan ketiga, daya tahan tubuh manusia itu sendiri.

Sifat virus RNA adalah sangat mudah bermutasi untuk mengecoh sistem pertahanan tubuh. Virus tersebut baru bisa ber replikasi (berkembang biak) jika bisa mengkait kan diri di sel sinsitial paru host-nya (manusia). Dan untuk mengecoh sistem imunitas tubuh supaya bisa bereplikasi terus maka virusnya bermutasi.

Untuk itu jangan berikan tubuh anda kepada SARS-CoV-2 supaya virusnya tidak punya kesempatan berkembang biak dan bisa bermutasi.

Tidak memberikan tubuh baru kepada SARS-CoV-2 itu adalah dengan menghindari kerumunan karena di kerumunan itu kemungkinan banyak orang yang sudah infeksius. Dan bisa menyebabkan super-spreading, yaitu satu orang tertular oleh banyak orang sekaligus.

Hal ini yang bisa menciptakan triple mutant itu yaitu varian yang berbeda masuk sekaligus ke satu tubuh host dan terjadi kombinasi varian baru. Karena itu dalam pengendalian pandemi itu di hulunya yg harus fokus.

Hulunya adalah mitigasinya yang sangat penting, yaitu cegah kerumunan, kurangi keluar rumah kalau tidak ada kebutuhan yang mendesak, pakai masker, jaga jarak, dan sering cuci tangan.

Aksi epidemiologis yang berikutnya untuk memetakan luasnya pandemi yaitu dengan tracking, tracing, testing. Supaya bisa di buat kebijakan penglokalisiran pandemi dengan baik.

Hilirnya yaitu di rumah sakit dengan early recognition, early treatment, early intevention, dan tim yang solid (solid collaborative medical team).

Kalau sudah tersedia vaksinnya maka itu masuk di item nomor satu yaitu pada mitigasi karena prinsip sistem kesehatan itu mengacu ke adagium “preventive better than cure“.

Jadi dalam pengendalian pandemi COVID-19 itu seyogyanya para epidemiolog diberikan peran yang lebih besar. Karena goal dari pengendalian pandemi COVID-19 itu adalah mencegah jatuhnya korban lebih banyak. Dan itu baru bisa tercapai jika kasus baru bisa di turunkan dengan memutus mata rantai penularan SARS-CoV-2.

Pendapat yang bagus dari satu orang Epidemiolog yang dilaksanakan dengan baik oleh pemegang kebijakan bisa meringankan pekerjaan ratusan ribu dokter di sebuah negara yang sedang dilanda pandemi. Dan bisa menyelamatkan puluhan bahkan ratusan ribu nyawa.