Wamendes: Masyarakat Desa Paling Siap Bangkit Dari Pandemi Covid-19

Home / Berita / Wamendes: Masyarakat Desa Paling Siap Bangkit Dari Pandemi Covid-19

Jakarta, PKP Berdikari – Wakil Menteri Desa dan Pembangunan Daerah Tertinggal Budi Arie Setiadi menyatakan, Desa merupakan kelompok yang paling siap dan cepat memulihkan keadaan pasca Covid-19. Potensi strategis yang dimiliki Desa, baik dalam aspek ekonomi maupun sosial, merupakan kunci yang tidak dimiliki kelompok masyarakat lainnya.

“Kita ada 65.325 desa pertanian, atau sekitar 86% dari seluruh desa yang ada. Itu bisa jadi potensi pusat produksi pertanian yang bisa mendorong kebangkitan perekonomian nasional,” Kata Budi Arie dalam Webinar yang digelar Kantor Staf Presiden, Selasa, 23 Juni 2020.

Peningkatan produksi pertanian tersebut belakangan menjadi isu penting dalam memenuhi kebutuhan pangan nasional. Pasalnya, beberapa negara produsen pangan dunia telah menerapkan larangan ekspor untuk bahan pangan. “Ini menandakan bangsa kita harus mandiri, harus siap menyongsong perubahan baru di level global,” tegas Wamendes Budi Arie.

Desa di Indonesia juga memiliki 37.125 Badan Usaha Milik Desa (BUMDES) yang aktif bertransaksi. Tidak hanya itu, menurut catatan Kemendes, terdapat Hotel dan Penginapan di lebih dari 5.000 desa wisata. Potensi tersebut akan segera menggerakan perekonomian, mengingat pemerintah berencana membuka kembali industri pariwisata di Indonesia.

Upaya pemerintah dalam menjaga perekonomian masyarakat desa dari sisi demand, terlihat dari Jaring Pengaman Sosial (JPS) yang disiapkan untuk 48 juta keluarga hingga akhir tahun 2020. “JPS bisa dimaknai sebagai bantalan ekonomi masyarakat kecil yang naik hingga rentang 775%. Itu merupakan bentuk perhatian pemerintah untuk kelompok rentan,” kata Wamendes Budi Arie.

Dalam kesempatan yang sama, Wamendes memaparkan perbedaan antara Kota dan Desa dalam menerapkan adaptasi kebiasaan baru. Menurut Budi Arie, adaptasi kebiasaan baru membutukan kontrak sosial atau kesepakatan yang dijaga bersama.

“Jika di Kota kita menggunakan Media Sosial dalam melakukan desiminasi atau penyebaran informasi, maka di Desa terjadi sebaliknya. Komunikasi Interpersonal menjadi lebih penting. Dengan pendekatan itu, masyarakat desa menjadi lebih paham tentang makna dari kebiasaan baru tersebut,” jelas Wamendes Budi Arie.

Hal serupa terjadi dalam hal penegakan hukum. Kondisi di Kota memungkinkan penegak hukum mengambil peran yang besar dalam melakukan pengawasan dan pengendalian. Sedangkan di Desa, peran aktif relawan, masyarakat, dan pemerintah desa lebih menonjol.

Di akhir paparannya, Wamendes mengingatkan bahwa sinergi masyarakat desa untuk menghadapi kebiasaan baru adalah menjaga mereka untuk tetap produktif, inovatif, dan sehat. “Hanya dengan Desa yang maju, maka Indonesia akan maju.” Tutup Wamendes Budi Arie.