Wawancara Anggaran Jumbo Alutsista, Connie Bakrie Ditekan Untuk Bungkam

Home / Berita / Wawancara Anggaran Jumbo Alutsista, Connie Bakrie Ditekan Untuk Bungkam

JAKARTA – Anggaran jumbo Alutsista (Alat Utama Sistem Senjata) senilai Rp 1.760 Triliun pertama kali diungkap oleh pengamat pertahanan Connie Rahakundini Bakrie. Apa tujuan Connie mengungkapnya? Dan apa pula yang dialami Connie usai membeberkan persoalan anggaran tersebut ke publik? FIN (Fajar Indonesia Network) berkesempatan mewawancarai dosen di Sekolah Komando TNI AU dan TNI AL tersebut. Berikut petikan wawancaranya:

  1. Anda adalah orang yang pertama kali mengungkap anggaran fantastis yang tertuang dalam draft Raperpres (Rancangan Peraturan Presiden) tentang Pemenuhan Kebutuhan Alat Peralatan Pertahanan dan Keamanan Kementerian Pertahanan dan Tentara Nasional Indonesia 2020-2024 senilai Rp 1.760 Triliun ini ke publik. Apakah saat ini Anda baik-baik saja?

Alhamdulillah, saya baik-baik dan sehat Wal Afiat. Ini semua berkat doa dari sahabat, guru, keluarga dan masyarakat yang concern dan peduli pada indikasi tidak sehat pada Raperpres senilai Rp 1.760 Triliun ini.

  1. Usai mengungkap ini semua, bagaimana aktivitas keseharian Anda?

Biasa saja. Saya masih rutin mengajar, diskusi, interview dan hangout bersama sahabat dan keluarga. Terutama ayahanda saya yang mungkin agak tegang membaca berita-berita terkait persoalan ini.

  1. Sikap keluarga bagaimana? Apakah keluarga tidak khawatir? Karena yang Anda ungkap ini bukan persoalan remeh. Tetapi terkait anggaran yang sangat fantastis?

Kalau itu ya. Namun keluarga paham betul bagaimana sikap akademik dan keyakinan saya soal pentingnya hal ini diedukasikan pada publik. Kami sejak nenek- kakek dan leluhur kami dididik menjadi keluarga patriot.

  1. Sejak persoalan ini terekspos ke publik, apakah ada semacam ancaman atau teror? Baik langsung atau tidak langsung. Mungkin lewat telepon, WA dan sebagainya kepada Anda maupun keluarga?

Yang ada baru bully menyerang saya secara pribadi. Kombinasi dengan tekanan kuat dari pihak-pihak terdekat untuk bungkam. Namun saya malah semakin yakin ada sesuatu yang tidak beres. Karena begitulah model-model orang tidak bisa menjawab substansi. Tidak mampu berdebat secara akademik. Mampunya kerahkan buzzer hoaks dan menyerang kehidupan pribadi. Wah, salah. Kalau saya dibegitukan, makin semangat saya mencari bukti-bukti otentik kasus indikasi mega skandal ini. Nah sekarang semua terang benderang dan susah lagi mau berbohong apa. Wong rakyat kita pinter-pinter jika well informed kok. Menyerang saya secara pribadi kan juga kebodohan. Karena biografi saya terang benderang di buku “Aku Adalah Peluru”. Jadi kasihan Menhan kita ini punya pasukan buzzers yang tidak well informed. Salah data dan membabi buta tanpa cek ricek. Yang malu kan Menhan sendiri imbasnya.

  1. Informasi yang Anda ungkap ke publik ini tidak main-main. Mengapa Anda sedemikian berani? Adakah orang penting di negeri ini yang membackup Anda?

Hidup cuma sekali. Saatnya sikap penuh integritas dikedepankan manakala diuji. Apakah nama kita akan tercatat sebagai patriot atau pengkhianat bangsa dan tanah air.

  1. Teman maupun kolega Anda di tiga matra (TNI AD, TNI AL dan TNI AU, Red) tentu cukup banyak. Bagaimana respons mereka terhadap aksi Anda mengungkap persoalan Raperpres Alutsista 2020-2024 itu?

Tentunya sangat terukur dan sesuai pada topik substansi Rp 1.760 Triliun ini. Serta siapa dan pada level mana dari mereka yang berbicara pada saya. Berbicara dengan prajurit kita di lapangan kan jelas berbeda dengan jajaran Pati (Perwira Tinggi) di Mabes.

  1. Apakah secara pribadi Anda kenal dekat dengan Menhan Prabowo Subianto?

Saya belum mengenal secara dekat dengan beliau. Bagi saya beliau adalah Menhan saya yang harus saya jaga. Tetapi Pak Hasyim (Hashim Djojohadikusumo-adik kandung Prabowo Subianto, Red) adalah kawan dan guru saya olahraga polo berkuda di era saya masih aktif polo berkuda di 1998-an. Kuda kesayangan saya Kambayau pun dititipkan pada beliau waktu itu.

  1. Anda mengatakan pihak Kemhan pernah mengatur waktu untuk bertemu dengan Prabowo Subianto. Tapi, kemudian dibatalkan. Apakah Anda tahu alasan mengapa Kemhan membatalkan pertemuan tersebut?

Terus terang saya pun tidak paham mengapa. Dua kali batal. Termasuk yang di-arranged PT Teknologi Militer Indonesia (PT TMI). Padahal saya menganggap ini sebagai pertemuan diskusi antara akademisi dengan pimpinan Kementerian/Lembaga yang memang biasa. Seperti yang biasa dilakukan Menhan sebelumnya sejak saya aktif di Kemhan pada 2007-an. Tetapi sekarang menjadi berbeda. Mungkin karena lingkaran beliau tidak mampu membedakan ini Kemhan atau partai. Ini Menhan atau Ketum Partai. Coba deh diurut lagi ceritanya sejak awal. Ini kan muncul reaksi dari pihak beliau. Selalu penuh sanggahan, bantahan. Dan maaf, berani bohong pada publik.

  1. Sebagai akademisi serta analis militer dan pertahanan, apakah Anda lebih setuju anggaran Rp 1760 Triliun tersebut untuk membangun alutsista produksi dalam negeri atau impor?

Impor atau buat sendiri itu bisa diukur dari kesiapan industri pertahanan nasional. Namun yang penting bertahap dalam satu waktu di depan. Jika belanja dipush di depan, maka pada 2045 nanti, kita hanya punya koleksi Alutsista yang tidak bisa bergerak untuk latih, tempur dan gelar. Wong garhannya (Anggaran Pertahanan, Red) akan dihabiskan sekitar Rp 70 Triliunan per tahun untuk kewajiban membayar utang Rp 1.760 Triliun. Saya sebagai masyarakat kampus menyambut Civil Society untuk bersama-sama mengawasi Raperpres rawan tersebut. Tujuannya agar dapat direvisi, ditinjau ulang dengan melibatkan intra Kementerian/Lembaga, akademisi serta masyarakat madani.

Sumber: Fajar Indonesia Network