Corona dan Lingkungan kita

Home / Artikel / Corona dan Lingkungan kita

Oleh : Arimbi Heroepoetri.,SH.LL.M

(Pegiat Hukum, HAM, Masyarakat Adat, Lingkungan dan Perempuan, Direktur PKPBerdikari dan Peneliti Senior pada debtWATCH Indonesia)

 

Wuhan, ibu kota propinsi Hubei di Tiongkok mungkin sudah menjadi terkenal di seluruh dunia. Karena dari situlah virus covid-19 merebak di bulan Januari 2020 dan menyebar ke hampir seluruh dunia. Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) telah menetapkan bahwa Covid-19 adalah pandemik. Indonesia menyatakan penderita Covid-19 yang pertama kali terdeteksi di Indonesia di tanggal 3 Maret 2020.

Tidak satupun Negara di dunia ini memiliki pengalaman menghadapi pandemik covid-19 ini, tidak terkecuali Negara-negara maju seperti Amerika, Jepang, Inggris dan Italia. Salah satu cara pencegahan pandemik ini adalah dengan melakukan isolasi, baik di tingkat rumah tangga sampai di tingkat Propinsi. Wuhan, kota yang berpenghuni 11 juta jiwa ini,  melakukan isolasi selama 12 minggu, dan berhasil menurunkan laju penyebaran virus covid-19 ini.

Dua minggu sesudah dunia melakukan pembatasan ruang gerak penduduknya, menyebabkan pusat keramaian dan kemacetan jalan raya di kota-kota besar dunia menjadi lengang dari kerumunan warganya. Kemudian banyak foto beredar di sosial media, betapa bersihnya udara di Tiongkok dan di berbagai belahan kota-kota besar lainnya yang semula kotor karena polusi udara.

Dari India misalnya dapat terlihat jelas pegunungan Himalaya yang berada di Negara Nepal. Dari Jakarta setelah berpuluh-puluh tahun Nampak gunung Salak yang berlokasi di Bogor. Indeks Kualitas Udara Jakarta rata-rata menunjuk berkualitas sedang dibandingkan tahun lalu yang masuk dalam kategori berbahaya.

Puluhan tahun lalu para ahli memprediksi ada masalah besar dengan iklim kita  karena semakin tipisnya lapisan ozon akibat polusi udara yang dihasilkan umat manusia. Ini memaksa para pemimpin Negara di dunia untuk sepakat terikat dalam Konvensi Perubahan Iklim 1992 lalu.

Namun, sampai sekarang perundingan di dalam Konvensi tersebut, melalui pertemuan berkala yang disebut COP (conference of the parties/ pertemuan para pihak yang menandatangani Konvensi) berjalan alot, terutama keharusan bagi Negara-negara untuk menurunkan emisi di negaranya, sehingga suhu di dunia tidak terus-menerus naik.

Sementara para politisi dan pemimpin Negara belum dapat menunjukan komitmen dalam pelaksanaannya. Pada faktanya akibat pemanasan global terjadi anomali cuaca di berbagai belahan dunia. Laju pencairan salju abadi di kutub utara terus terjadi mengakibatkan permukaan laut (sea-level) naik dan pada akhirnya menenggelamkan daerah pesisir. Selain itu, para ahli juga memprediksi dengan situasi pemanasan global ini selain mempengaruhi pola cuaca, juga mendorong lahirnya jenis-jenis penyakit baru.[1]

Perubahan iklim terjadi karena aktivitas manusia yang menghasilkan berbagai gas sehingga memerangkap panas di atmosfer. Dampaknya, suhu rata-rata bumi menjadi lebih hangat dari tahun ke tahun. Beberapa negara di dunia mengalami gelombang panas dan kenaikan curah hujan. Ini adalah kondisi yang ideal bagi serangga untuk berkembang biak. Nyamuk, lalat, dan serangga sejenisnya bermigrasi dari wilayah yang dingin menuju tempat yang lebih hangat. Mereka lalu bertelur dalam kubangan air yang bertambah banyak akibat hujan.

Akibat perubahan iklim yang begitu drastis, perkembangbiakan bakteri, virus, dan parasit juga meningkat. Hal ini lambat laun menjadi ancaman bagi kesehatan masyarakat di seluruh dunia. Setidaknya ada lima masalah kesehatan yang mengalami peningkatan akibat perubahan iklim, yaitu: Malaria, Kolera, Demam Berdarah, Pnenomia, dan Hepatitis A.

1. Malaria

Malaria disebabkan oleh infeksi parasit Plasmodium yang masuk ke tubuh manusia melalui gigitan nyamuk Anopheles. Gejalanya adalah demam, sakit kepala, dan menggigil.

2. Kolera

Kolera disebabkan oleh infeksi bakteri Vibrio cholerae. Penyakit ini menular lewat makanan dan minuman yang telah terkontaminasi. Penderita umumnya mengalami diare dan dehidrasi parah.

3. Demam berdarah

Demam berdarah disebabkan oleh infeksi virus yang dibawa oleh nyamuk Aedes. Gejala demam berdarah antara lain demam, sakit kepala, sendi terasa linu, serta muncul bintik-bintik merah pada tubuh.

4. Pneumonia

Pneumonia adalah penyakit infeksi pada kantung udara dalam paru-paru, atau alveoli. Penyebabnya bisa berasal dari bakteri, virus, hingga jamur. Alveoli yang terinfeksi akan mengalami peradangan dan terisi oleh dahak, lendir, atau cairan.

5. Hepatitis A

Hepatitis A adalah penyakit peradangan pada hati akibat infeksi virus hepatitis A (HAV). HAV memasuki tubuh manusia melalui makanan atau minuman yang terkontaminasi.

Beragam penyakit infeksi mengalami peningkatan akibat perubahan iklim. Jagalah kebersihan diri dan lingkungan untuk mencegah infeksi mikroba dari makanan. Selain itu, waspadalah terhadap peningkatan populasi serangga yang mungkin membawa penyakit. Di atas itu, tidak bisa tidak para pengelola Negara di dunia, termasuk Indonesia, jika ingin selamat haruslah memperhatikan kondisi lingkungan dengan sungguh-sungguh. Bukan tidak mungkin, kehadiran Covid-19 adalah dampak dari perubahan iklim, jika masalah lingkungan tidak dibereskan, dan bukan menjadi prioritas utama umat manusia, maka kita akan terus-menerus berhadapan dengan wabah-wabah baru, di mana umat manusia minim pengalaman dan keahlian untuk menanganinya seperti pandemik Covid-19 ini.

 


[1]Lima Penyakit yang Semakin Berkembang Akibat Perubahan Iklim

National Geographic Indonesia – Selasa, 5 November 2019, diunduh di

  https://nationalgeographic.grid.id/read/131908632/lima-penyakit-yang-semakin-berkembang-akibat-perubahan-iklim?page=all