3 Jam Bersama Alvaro

Home / Opini / 3 Jam Bersama Alvaro

Oleh: Birgaldo Sinaga

Hari ini dua tahun yang lalu, Alvaro bocah usia 4 tahun meringis kesakitan di ranjang RSUD Samarinda. Balutan perban di kepala tangan dan dadanya benar-benar menyiksa. Ia hanya menangis sambil menggoyang-goyangkan sekujur tubuhnya. Ia masih terlalu bocah menjelaskan rasa panas membakar sebagian kulit tubuhnya.

Hari ini dua tahun yang lalu, saya di Jakarta. Saya menyimak perkembangan peristiwa penyerangan seorang teroris yang melempar bom molotov di depan halaman Gereja Oikumene Samarinda. Ada 4 bocah terbakar api. Intan Olivia (2.5) akhirnya meninggal dunia setelah 14 jam bertahan.

Alvaro, Trinity dan Anita berhasil melewati masa kritis. Kulit wajah, tangan dan tubuh mereka melepuh. Sementara pelaku teror Juhanda berhasil ditangkap warga setelah berusaha melarikan diri usai melempar bom molotov.

Kemarin, Jumat, 29 November 2018, saya akhirnya bisa bertemu dengan Alvaro. Sesuatu yang tidak pernah saya bayangkan. Alvaro telah mencuri perhatian saya sejak 2 tahun lalu.

Perjuangannya tidak mudah untuk pulih. Wajah tampannya berubah seperti monster pasca terbakar. Jari tangan kanannya tidak bisa berfungsi normal karena kulit tangannya lengket antar jari. Hari-hari pasca pemboman menjadi hari yang kelam bagi Alvaro ayah dan ibunya.

Setahun tanpa perubahan, kedua orang tua Alvaro memutuskan menyelamatkan nasib Alvaro. Tapi bagaimana caranya? Uang tidak ada. Rumah sakit yang menjadi rujukan untuk perngobatan tidak mereka tahu.

Ibu dan ayah Alvaro tidak menyerah. Berbekal uang tabungan, bantuan saudara, menjual perhiasan dan harta lainnya berjumlah total 250 juta mereka memberanikan diri membawa ke RS Sunway Healthcare Kuala Lumpur.

“Darimana ceritanya bisa memilih rumah sakit itu inang? “, tanya saya.

“Tidak tahu amang. Kami tidak tahu sama sekali. Hanya cari-cari di Google. Ada dua rumah sakit yang kami lihat yaitu Sunway dan Gleneagles”, jawab Ibu Alvaro Novita Sagala.

Anakkonhi do hamoran di au, anakku adalah kekayaan terbesar ku. Ini falsafah hidup orang Batak. Anak adalah harta terbesar. Apapun akan dilakukan demi masa depan anak.

Berbekal modal nekat, kedua orang tua Alvaro akhirnya memutuskan membawa anak semata wayangnya ke Malaysia. Sesampai di sana masalah muncul. Alvaro belum di daftar. Dokter tidak ada. Untunglah ada seorang petugas RS asal Indonesia. Ia cukup membantu hingga Alvaro bisa mendapat prioritas perawatan.

Alvaro segera di operasi. Operasi tahap pertama dimulai. Setengah kulit yang melepuh di kepala hingga ke leher Alvaro diutak-atik dokter Tan. Teknologi baru berupa penanaman balon di tiga titik kepala dan leher Alvaro dipasang. Gunanya untuk membuat kulit yang tidak terbakar menggembung melebar. Setelah cukup kulit itu diambil lalu dipindahkan mengganti kulit yang terbakar.

Operasi penanaman balon berhasil.

“Mau menjerit rasanya amang. Saya pikir uang 250 juta itu cukup untuk operasi. Ternyata itu hanya cukup untuk operasi pertama saja. Padahal perlu banyak operasi lanjutan”, ujar ibu Alvaro.

“Rasanya kami putus asa. Ya Tuhan darimana lagi dapatkan uang?”, ucap Ibu Alvaro dengan mata berkaca-kaca.

Kedua orang tua Alvaro pusing setengah mati. Alvaro harus pulih itu tekad mereka. Tapi uang sudah habis.

“Bagaimana ini Pa”, lirih ibu Alvaro pada suaminya yang juga kebingungan.

Tidak ada jalan lain. Ibu Alvaro akan meminjam ke Bank. Tapi tetap saja tidak cukup.

Akhirnya Ibu Alvaro curhat pada kerabatnya di Medan. Kerabatnya itu menuliskan kesusahan kedua orang tua Alvaro. Saya membaca tulisan sedih itu. Air mata saya tidak terasa menetes membaca perjuangan Alvaro.

Awal Februari lalu, saya memutuskan menulis kisah Alvaro. Saya memohon kepada siapapun yang membaca tulisan kisah Alvaro bisa tergerak hatinya. Seumur-umur baru kali itu saya mau menggalang dana dengan menuliskan nomor rekening Ibu Alvaro.

Alhamdulilah.. Puji Tuhan… Ternyata getaran welas asih teman2 seperjuangan sama getarannya dengan yang saya rasakan. Tulisan itu viral dan banyak sekali orang baik mau membantu. Banyak sekali orang yang memiliki kemurahan hati dan rasa welas asih.

“Kami tidak tahu harus mau bilang apa. Hanya kata terimakasih yang sebesar-besarnya dan semoga Tuhan yang membalas kebaikan hati semua orang yang telah membantu dan mendoakan anak kami Alvaro”, ucap Ibu Alvaro sambil mengatupkan kedua tangannya.

Di Kuala Lumpur warga Indonesia juga menaruh perhatian yang luar biasa. Keluarga Alvaro diberikan penginapan di rumah pimpinan gereja HKBP Kuala Lumpur.

Pendeta Tody Parlindungan Lumbantobing dan seluruh jemaat gereja menjadi malaikat tanpa sayap di sana. Alvaro bak seperti di kampung halaman sendiri. Silih berganti para pekerja warga Indonesia menjenguk Alvaro. Mereka tiada henti membesarkan hati kedua orang tua Alvaro.

Erni Simatupang warga Indonesia yang tinggal di KL membuat gerakan Rp. 50.000,-. Gerakan ini menyebar cepat di kalangan gereja. Semua jemaat tergerak hatinya.

Alvaro adalah pejuang cinta. Ia memenangkan cinta banyak orang. Kebencian teroris yang membakar wajah Alvaro, Trinity, Intan dan Anita tidak boleh merenggut rasa cinta anak-anak ini pada kemanusiaan.

Teroris itu boleh saja membakar fisik anak-anak ini. Tapi teroris itu tidak akan pernah bisa membakar cinta dan kasih sayang mereka pada dunia ini.

Saya bersyukur bisa bertemu dengan bocah Herkules ini. Tiga jam bersamanya begitu menyenangkan. Wajahnya murah senyum. Ia anak penurut. Para dokter dan perawat di Sunway sangat menyayangi Alvaro.

Alvaro tidak permah menangis saat kulitnya diutak atik. Dokter Tan saja sampai heran. Seumur hidup praktik baru kali ini dokter Tan menjumpai anak kecil yang tenang-tenang saja diutak-atik kulit tangan dan kepalanya.

Hari ini, Alvaro kembali ke Samarinda. Tepat dua tahun sudah perjalanan Alvaro berjuang memulihkan kulit tubuhnya yang terbakar. Sebuah perjuangan yang tidak mudah. Hanya rasa cinta yang kuatlah yang bisa membuat Alvaro bisa kembali seperti ini.

Memang tidak akan bisa kembali pulih 100 persen. Tapi setidaknya wajah monsternya 2 tahun lalu tidak menakutkan lagi. Rambutnya akan tumbuh lebat lagi. Sebagian rambut itu akan menutupi bekas kulit yang terbakar. Ia bisa kembali menjadi anak normal lainnya. Tidak malu dan trauma lagi. Alvaro akan kembali 2 atau 3 tajun lagi ke Kuala Lumpur untuk menyempurnakan sisa operasi.

Alvaro telah menjadi ikon kemenangan cinta atas kebencian. Dan itu telah ditunjukkan oleh kalian semua teman2 seperjuangan saya di lapak ini.

Terimakasih yang sebesar-besarnya untuk welas asih dan kemurahan hati kalian semua. Tuhan memberkati.

Salam perjuangan penuh cinta

Birgaldo Sinaga