Puisi Sri Mulyani, Untuk Indonesia

Home / Opini / Puisi Sri Mulyani, Untuk Indonesia

Kala kamu menuduh aku Menteri Pencetak Utang,

Kami menyelesaikan
Ribuan kilometer jalan raya, toll, jembatan Untuk rakyat, untuk kesejahteraan.

Kami menyelesaikan
Puluhan embung dan air bersih,
bagi jutaan saudara kita yang kekeringan
Puluhan ribu rumah, untuk mereka yang memerlukan tempat berteduh.

Kala kamu menuduh aku Menteri Pencetak Utang,

Kami bekerja menyediakan subsidi
Jutaan sambungan listrik untuk rakyat untuk menerangi kehidupan, hingga pelosok.

Kami terus bekerja
Meringankan beban hidup 10 juta keluarga miskin.

Menyediakan bantuan pangan 15 juta keluarga miskin.

Menyekolahkan 20 Juta anak miskin untuk tetap dapat belajar menjadi pintar.

Kala kamu menuduh aku Menteri Pencetak Utang,

Kami bekerja siang malam
Menyediakan jaminan, agar 96.8 Juta rakyat terlindungi dan tetap sehat.

Merawat Ratusan ribu sekolah dan madrasah, agar mampu memberi bekal ilmu dan taqwa,
bagi puluhan juta anak-anak kita untuk membangun masa depannya
Kami tak pernah berhenti, agar
472 000 mahasiswa menerima beasiswa untuk menjadi pemimpin masa depan
20.000 generasi muda dan dosen berkesempatan belajar di universitas terkemuka dunia untuk jadi pemimpin harapan bangsa.

Puluhan juta petani mendapat subsidi pupuk, benih dan alat pertanian,
170.400 hektar sawah beririgasi untuk petani.

Jutaan usaha kecil mikro memiliki akses modal yang murah.

Jutaan penumpang kereta dan kapal yang menikmati subsidi tiket.

Jutaan keluarga menikmati bahan bakar murah.

Jutaan pegawai negeri, guru, prajurit, polisi, dokter, bidan, dosen hingga peneliti mendapat gaji dan tunjangan untuk mengabdi negeri.

Terus, Kami terus bekerja,

agar 74.953 desa mampu membangun, membasmi kemiskinan. 8.212 kelurahan terbantu untuk melayani rakyat kebih baik.

Triliunan rupiah tersedia, membantu saudara kita yang terkena bencana membangun kembali kehidupannya.

Dan masih banyak lagi yang aku mau ceritakan padamu, Agar engkau TIDAK LUPA.

Karena itu adalah cerita tentang kita MEMBANGUN INDONESIA.

Aku tak ingin engkau lupa itu.
sama seperti aku tak ingin engkau lupa akan sejarah negeri kita.

Aku perempuan yang memenuhi panggilan ibu pertiwi.

Aku perempuan, Aku tidak surut demi kecintaanku terhadap Negeri, Untuk memberikan yang terbaik bagi Indonesia.

Aku dan tujuh puluh enam ribu jajaran Kemenkeu, adalah KAMI.

KAMI TIDAK PERNAH LELAH MENCINTAI DAN MEMBANGUN INDONESIA.

Bagaimana Engkau ?