Ahok Si Anjing Penjaga Uang Rakyat Jakarta Itu Sekarang Ada Di Bioskop

Home / Opini / Ahok Si Anjing Penjaga Uang Rakyat Jakarta Itu Sekarang Ada Di Bioskop

Oleh: Birgaldo Sinaga

Awal April setahun yang lalu, saya blusukan di daerah kumis kumuh miskin perumahan padat penduduk Jakarta.

Rumah warga begitu sempit dan kecil. Terkadang rumah yang seukuran kamar 2×3 itu menampung semua keluarga. Dibuat berloteng. Suami istri beserta anak2nya dan mertua bergabung dalam rumah sempit itu.

Saya menemukan anak2 yang ceria di tengah lingkungan padat yang tiada ruang bermain. Jalanan hanya bisa masuk motor dan pejalan kaki.

Kemiskinan menerpa keluarga anak2 perumahan kumuh miskin ini. Jalan masa depan anak2 ini bisa berubah jika negara hadir memberi mereka kesempatan untuk mendapat pendidikan dan gizi yang cukup.

Kemiskinan itu bukan tembok yang menghadang anak2 itu mengecap pendidikan. Ahok memberi jalan dan peluang buat anak2 kumuh miskin ini mendapat gizi dan pendidikan yang baik. Pajak rakyat dikembalikan pada rakyat.

Saya bertemu dengan para ibu yang sedang duduk bergerombol di pojokan gang sempit itu. Mereka para Ibu saat itu terbantu dengan program Ahok. Saat saya dan teman2 relawan lain menyusuri gang2 sempit perumahan mereka, para ibu sumringah dengan kebijakan Ahok.

Saya percaya, kerja keras penuh cinta Ahok memberi harapan masa depan buat anak2 mereka. Saya mendengar suara para ibu yang mengucapkan rasa terimakasih pada Ahok.

Sayangnya, garis hidup Ahok berhenti pada satu titik kepedihan. Titik dimana kekejian dan kebengisan pemabuk kekuasaan merampas nilai2 demokrasi dan keadaban dengan memelintir ayat2 suci untuk menghempaskan orang baik dan jujur itu dalam penjara.

8 Mei 2017, setahun lalu, saya sedang menyiapkan persembahan penyambutan Ahok dari vonis hakim. Semalaman saya tidak tidur untuk menyiapkan 8000 bunga mawar merah putih, tugu keadilan dan drum band meyambut kebebasan Ahok.

Jarum sejarah selalu tidak bisa diduga. Garis perjalanan sejarah selalu misteri. Dalam hening malam tanggal 8 malam itu seluruh pendukung Ahok berdoa dalam kamar gelap. Memohon agar Tuhan Yang Maha Kuasa melindungi Ahok dari vonis keliru.

Pada akhirnya, sejarah menulis dengan caranya. Ada yang menyebut ini tragedi. Ada yang menyebut negeri ini zalim. Ada yang menyebut negeri ini kalah pada intimidasi.

Tapi yang saya tahu dan yakin, Ahok menerima takdirnya dengan ksatria. Ia membungkuk penuh hormat pada hakim. Menutup mulutnya. Lalu tenang berjalan menuju mobil tahanan.

Ahok melepas keistimewaan jabatan gubernur yang melekat pada dirinya. Ahok melepas karyanya sebagai pelayan rakyat. Ahok melepas itu semua. Baginya jabatan kekuasaan bukanlah sesuatu yang istimewa. Biasa saja.

Itu sebabnya Ahok tidak menghalalkan segala cara mempertahankan kekuasaannya. Kekuasaan hanya alat menunaikan cita2 Ahok menolong orang susah miskin agar dapat keadilan sosial.

Ahok menunjukkan pada kita bagaimana menjadi anak bangsa yang mencintai negeri ini dengan tulus dan berdedikasi. Ia mengajarkan pada kita bahwa integritas itu diuji saat menggenggam kekuasaan dan jatuh dari kekuasaan.

Ahok memberi kita teladan baru, sebaik2nya manusia adalah yang tunduk dan taat pada konstitusi negara. Itulah makna hakiki tertinggi sebagai warga negara.

Hari ini, film A Man Called Ahok diputar serentak di seluruh tanah air. Kita yang merindu melihat pelukan hangat Ahok pada rakyatnya bisa melihatnya dalam bioskop-bioskop.

Sejatinya semua pemberian cinta tulus Ahok ada dalam memori kita. Kita belum hilang ingatan akan kebaikan Ahok. Tetapi dengan menonton film Ahok ini menurut saya adalah cara kita mengekspresikan cinta kita padanya. Kita mencintai Ahok karena Ahok lebih dulu mencintai kita. Utuh penuh.

Terimakasih Ahok untuk teladan itu.. Saya kangen..

Salam perjuangan penuh cinta
Birgaldo Sinaga

#kangenahok
#birgaldosinaga