Analisa Yusril Berbalik Mendukung Jokowi dan Meninggalkan Koalisi Keummatan

Home / Opini / Analisa Yusril Berbalik Mendukung Jokowi dan Meninggalkan Koalisi Keummatan

Sangat mengejutkan tiba-tiba Yusril bersedia menjadi kuasa hukum pasangan capres nomor urut 1 Joko Widodo – Maaruf Amin. Karena selama ini kita tahu bahwa Yusril selalu berseberangan dengan Presiden Jokowi. Tapi kenapa tiba-tiba Yusril Ihza Mahendra bersedia bergabung dengan Jokowi?

Mari kita sama-sama menganalisa kenapa Yusril tiba-tiba berbalik arah dan bersedia menjadi kuasa hukum Jokowi-Maaruf Amin.

Semula Rizieq Shihab menyerukan kepada partai-partai Islam untuk bersatu menghadapi Presiden Jokowi. Rizieq berharap partai seperti Gerindra, PKS, PAN dan PBB bersatu padu membentuk koalisi keummatan. Permintaan Rizieq ini memang logis apalagi selama ini partai-partai tersebut memang berseberangan dengan Presiden Jokowi, meski pun PAN berada di koalisi pemerintah tetapi sikap Amien Rais mencerminkan dirinya berseberangan dengan Presiden Jokowi.

Dengan bergabungnya PKS, PAN dan PBB diharapkan akan menjadikan ulama menjadi pemimpin di negeri ini. Jika Prabowo menjadi capres, maka diharapkan Prabowo mengambil salah satu ulama untuk menjadi pendampingnya. Dan itu juga menjadi harapan dari Yusril sebagai Ketua Majelis Syura PBB agar ulama dapat menjadi pemimpin di negeri ini sesuai dengan arahan Rizieq Shihab.

Namun kemudian seiring dengan perjalanan waktu. Koalisi Keummatan yang di inisiasi oleh Rizieq Shihab mulai tidak berjalan sebagai mana mestinya. Ulama yang diharapkan menjadi pendamping Prabowo justru diabaikan oleh Prabowo sendiri. Hasil ijtima’ ulama GNPF yang merekomendasikan Salim Segaf Al Jufri dan UAS ditampik oleh Prabowo. Dan inilah yang kemudian membuat Yusril kecewa.

Apalagi ketika Prabowo malah mengambil kadernya sendiri menjadi cawapres. Membuat kian jauh harapan ulama untuk memimpin negeri ini. Dan harapan Rizieq Shihab pun kian tak terpenuhi. Malahan Jokowi yang mengambil seorang ulama sebagai pendampingnya dan bukan Prabowo. Situasi yang terbalik ini membuat Yusril tambah kecewa dengan Koalisi Keummatan.

Namun yang paling mengecewakan Yusril adalah koalisi Prabowo tidak sekali pun diajak bicara oleh Prabowo. Seakan-akan PBB tidak ada dalam list Prabowo. Bahkan ketika PBB mengalami masalah dengan KPU, tak ada pembelaan sama sekali dari Gerindra, apalagi Prabowo. Justru yang berseberangan dengan PBB yang membantu PBB membereskan masalahnya dengan KPU. Ini juga membuat Yusril kecewa dengan Prabowo.

Dengan tidak ada wakil di DPR, membuat PBB tidak ada nilai sama sekali di mata Gerindra. Mau bergabung atau tidak, PBB tidak akan menambah persentasi ambang batas presidensial. Sehingga Prabowo merasa tidak ada kontribusi PBB di koalisi Prabowo. PBB pun diabaikan. Tidak diikutsertakan dalam koalisi Prabowo. Prabowo malah menarik Partai Demokrat ke dalam gerbong koalisi Prabowo. Ini membuat Yusril tambah kecewa.

Merasa partainya tidak dianggap oleh Prabowo. Dan tidak adanya ulama pada pasangan urut nomor 2 ini. Membuat Yusril berpaling. Koalisi Prabowo sudah tidak menarik bagi Yusril. Sebagai partai Islam, Yusril ingin melihat ulama bisa turut berkontribusi dalam pemerintahan Indonesia. Dan itu tidak didapatnya di koalisi Prabowo. Malah di koalisi Jokowi Yusril menemukan hal itu. Menjadikan Maaruf Amin sebagai cawapres, Jokowi sudah memenuhi keinginan Yusril.

Yusril yang semula berseberangan dengan Jokowi, kemudian menarik diri dari koalisi Keummatan. Ditambah dengan kekecewaan Yusril terhadap Prabowo yang tidak membantunya sama sekali ketika PBB bermasalah dengan KPU. Membuat Yusril sadar bahwa dirinya tidak diperlukan oleh Prabowo. Padahal pada tahun 2014 lalu Yusril membantu Prabowo mengajukan gugatan sengketa pilpres. Tapi sekarang Yusril seakan dilupakan begitu saja.

Dan sekarang, Yusril telah berbalik arah mendukung Jokowi-Maaruf, meski pun hanya sebatas kuasa hukum. Selain karena permintaan dari Eric Thohir, Yusril juga sudah terlihat melunak terhadap Jokowi. Dan kini, Yusril bersedia menjadi kuasa hukum Jokowi-Maaruf.

Hanya saja, sampai sekarang Yusril belum menentukan apakah partainya akan turut mendukung Jokowi atau tidak. Dan hal itu masih dibahas di internal partai tersebut. Kemungkinan sebulan lagi baru ada keputusan dari PBB apakah akan turut mendukung Jokowi atau tidak.

Yusril sekarang sudah sadar bahwa berseberangan dengan Jokowi selama ini adalah sebuah kesalahan besar. Orang yang diharapkan membantu dirinya pada saat kesulitan malah menjauh. Sedangkan yang selama ini dimusuhinya malah dengan senang hati membantu. Kejadian ini menyadarkan Yusril bahwa berseberangan dengan Jokowi selama ini adalah salah dan sekarang Yusril ingin memperbaikinya.

Bukan begitu kura-kura?

#JokowiLagi

sumber