Bukan Hati Nurani, Tapi Dukungan Raffi Demi Bisnis?

Home / Opini / Bukan Hati Nurani, Tapi Dukungan Raffi Demi Bisnis?

Nikmatul Sugiyarto

Ibuku pernah tergiur dengan perusahaan entertainment milik artis papan atas Raffi Ahmad dan Nagita Slafina, hingga dia menyuruhku untuk melamar di sana. Dia bilang gajinya gede dan ada beberapa privilege bagi karyawannya. Tapi anehnya saya tidak tertarik, karena hati saya ada di tempat lain.

Jadi memang yang bikin nyaman itu datangnya dari hati. Namun apa yang aku rasakan ini nyatanya berkebalikan dengan yang mungkin sedang dirasakan pemilik RANS Entertainment itu. Mungkin menurut banyak pandangan, Raffi dan Nagita akan netral dengan semua paslon. Itu awal ceritanya, namun selentingan kabar di balik dukungan mereka ke Prabowo dan Gibran mulai menguar ke publik.

Gigi nampak sangat bersemangat membranding paslon 02, diantaranya dengan kampanye ke Lampung hingga menunjukkan sisi sosialitanya dengan istri Gibran, Selvi. Mungkin dengan mata telanjang kita bisa melihat bagaimana outfit glamor mereka saat bersama, ditambah lagi dengan tas jinjingnya yang mungkin bikin lambungku menjerit.

Belum cukup dipertontonkan dengan keglamoran gayanya, kabar muncul tentang kerjasama Raffi yang akan meluncurkan proyek terbarunya, Beach Club. Diantaranya melingkupi 300 vila, restoran, hingga resort SPA di atas batuan karst.

Kalau tidak menyalahi aturan dan analisis dampak lingkungan dari pembangunan proyek itu baik-baik saja, aku tidak mempermasalahkannya. Namun banyak sorotan yang perlu diperjelas, agar tidak berdampak pada kerusakan alam di daerah batuan karst itu.

Kita tahu Yogyakarta salah satu surganya pantai. Obyek wisata pantai di sana memang menjadi salah satu destinasi para wisatawan dari berbagai penjuru daerah. Aku pun paham maksud dari pendukung Prabowo-Gibran tadi, bertujuan untuk meramaikan Yogya dan pastinya meraup keuntungan besar dari bisnis di masa mendatang itu.

Tapi ada aturan yang melarang keras bangunan itu dibangun di atas batuan karst. Berdasarkan Permen Nomor 17 Tahun 2012, Kawasan Bentang Alam Karst (KBAK) adalah kawasan lindung geologi nasional yang artinya daerah itu dilindungi negara. Artinya dalam pengambilan manfaatnya, tidak boleh sembarangan dan merusak lingkungan batuan karst.

Sedangkan kalau dipikir sekilas saja, proyek Beach Club itu bukan hanya sekedar memanfaatkan saja tapi juga mengubah daerah sekitar dengan pembangunan villa dan tempat-tempat penunjangnya. Jelas itu adalah bagian dari perusakan.

Walhi sendiri sudah mengeluarkan analisanya, bahwa proyek milik Raffi itu bukan hanya merusak batuan karst tapi daya tampung dan daya dukung air juga menjadi korbannya. Tentu sangat mengkhawatirkan sehingga pihak Walhi mempersilahkan pemerintah untuk kembali mengevaluasi proyek yang bernilai tinggi itu, agar tidak terjadi bencana yang membahayakan lingkungan dan warga sekitar di kemudian hari.

Sampai sini saja bisa menangkap bukan, skenario apa yang sedang dimainkan aktor sekaligus pengusaha itu? Dia memang bilang netral, tapi apa itu berlaku di saat dia sendiri juga sedang punya hajat besar dan berhubungan dengan perizinan mendirikan usaha yang besar?

Pastinya sulit jika berjalan sendiri, maka moment politik bisa menjadi jawaban untuk saling berkerja sama dan menguntungkan. Baru saja kita mendapat nasehat dari seorang Mahfud MD untuk berjalan di rel dalam melakukan proses apapun, termasuk mendirikan bisnis, eh sekarang sudah di spill peristiwanya.

Bahkan komitmen Mahfud untuk memberantas korupsi dalam perizinan usaha juga diglorifikasikan dalam debat kedua kemarin, sebagai usaha untuk membawa keadilan bagi para pengusaha yang melewati alur panjang dan biaya besar untuk mendirikan usahanya. Lalu bagaimana dengan kasus Raffi ini?

Apa iya dia harus melewati waktu sampai 2 tahunan untuk melancarkan proyek Beach Club? Mungkin kemarin iya, tapi kalau sudah mendukung ahlinya bisnis seperti Pak Prabowo, Gibran dan justru pemegang kursi pemerintahannya sendiri, apa iya masih kesusahan?

Miris mengetahui cerita-cerita di balik dukungan yang saling menguntungkan kedua belah pihak itu. Memang saling menguntungkan bagi kedua belah pihak, tapi ingat ada rakyat yang menapaki bumi pertiwi ini.

Negara Indonesia bukan hanya milik Pak Presiden, bukan milik nenek dan kakeknya Prabowo ataupun Raffi saja. Tapi milik kita semua, milik bersama. Rakyat juga harus dipertimbangkan dalam pembangunan proyek besar itu, karena mereka juga memiliki hak dan suara persetujuan atas pembangunan proyek di sekitar tempat tinggalnya.

Kita lihat saja akan bermuara dimana proyek dan dukungan yang saling menguntungkan itu. Satu sih yang semakin kupahami, bahwa dukungan orang-orang besar seperti Raffi dan Nagita tadi tidak melulu tentang pilihan hati, tapi juga bisa karena adanya kepentingan yang intinya sama-sama ingin berkuasa. Ya layaknya peribahasa ada udang di balik batu. Mendukung bukan untuk memperbaiki demokrasi tapi justru memperparah keadaannya.