BUNG KARNO, KEBERAGAMAN, DAN KEBANGSAAN: Soekarno Tokoh Yang Idealis

Home / Opini / BUNG KARNO, KEBERAGAMAN, DAN KEBANGSAAN: Soekarno Tokoh Yang Idealis

Oleh: Drs. Sidarto Danusubroto, SH
(Mantan Ajudan Bung Karno/Anggota Wantimpres)

Tahun ini kita memperingati 76 Tahun Indonesia Merdeka. Kemerdekaan Indonesia dapat tercapai atas perjuangan seluruh rakyat Indonesia yang bahu membahu, bergandengan tangan mengusir penjajah dari bumi Indonesia.

Perjuangan rakyat Indonesia untuk mendapatkan kemerdekaan, tentunya tidak akan tercapai tanpa adanya peran tokoh-tokoh bangsa yang berjuang begitu gigih semenjak mereka masih sangat muda. Beberapa tokoh bangsa diantaranya adalah: Bung Karno, Bung Hatta, Syahrir, Tan Malaka, dan lain-lain.

Semenjak muda para tokoh tersebut berjuang untuk bangsanya tanpa memperhitungkan untung-ruginya, padahal mereka memiliki kesempatan untuk mendapatkan jabatan, kehormatan, dan materi. Tapi kesempatan tersebut tidak mereka pergunakan agar dapat berjuang untuk kemerdekaan bangsanya.

Setelah Indonesia merdeka, dan mereka menduduki posisi yang terhormat, jabatan itu juga tidak dipergunakan untuk memperkaya diri dan keluarganya. Karena tujuan mereka berjuang adalah agar bangsanya terbebas dari belenggu penjajahan.

Soekarno Tokoh Yang Idealis

Berbicara tentang Soekarno senantiasa menarik dan relevan sepanjang jaman. Begitu banyak sisi kehidupan Sang Proklamator yang kharismatik tersebut, baik pikiran, pandangan, dan sikap beliau terhadap berbagai hal dapat dijadikan bahan diskusi, seminar, maupun kajian ilmiah.

Sosok Bung Karno bukan hanya milik bangsa Indonesia, dan dikagumi oleh generasi seangkatan saya, namun juga menjadi idola banyak kalangan dan sudah menjadi ”milik dunia” sehingga tokoh sekelas Mahatir Muhammad pun (Mantan Perdana Menteri Malaysia) dengan bangga menjuluki dirinya sebagai ”Soekarno Kecil”.

Untuk dapat memahami Soekarno secara benar dan utuh, harus dilihat dari sejarah panjang perjuangannya bagi bangsa Indonesia. Soekarno merupakan seorang yang sangat idealis, yang tidak pernah mementingkan diri sendiri, melainkan selalu memikirkan kepentingan bangsanya. Semenjak muda, Soekarno telah aktif berjuang melawan Belanda yang telah bercokol di Indonesia selama ratusan tahun. Ketika masih sedikit elit-elit bangsa yang berjuang untuk kemerdekaan Indonesia, Soekarno telah mengorbankan waktu, tenaga, pemikiran, dan masa depannya sejak menjadi mahasiswa di ITB, tanpa menghitung untung-rugi dari perjuangannya.

Sebagai seorang Insinyur—sebuah pencapaian akademis yang masih langka pada waktu itu— Soekarno sebenarnya memiliki kesempatan untuk memperoleh pekerjaan yang menjanjikan penghasilan dan fasilitas materi yang memuaskan. Namun semuanya itu tidak pernah dipergunakan, bahkan Soekarno mengorbankan masa-masa mudanya dan sering keluar–masuk penjara untuk tujuan Indonesia merdeka.

Pramoedya Ananta Toer, sastrawan besar Indonesia, bersaksi bahwa Bung Karno telah memberikan semua untuk negeri ini– karir, kedudukan, bahkan nyawanya–untuk persatuan, kesatuan, dan perdamaian bangsanya. Itulah puncak-puncak kebenaran Sukarno yang tak akan terhapus sampai kapanpun.

Selain terkenal karena pidatonya yang berapi-api, Soekarno juga dikenal mempunyai mata pena yang tajam membedah segala permasalahan bangsa Indonesia pada masa kolonial. Sejak masih belajar di Hogere Burgerschool (HBS) di Surabaya, Soekarno muda telah gemar menuangkan pikirannya dalam tulisan. Kebiasaan menulis ini terus berkembang hingga Soekarno menjadi mahasiswa Technische Hogeschool (THS) di Bandung, menjadi aktivis Partai Nasional Indonesia (PNI), lalu kemudian menjadi aktivis Partindo. Sampai di tanah pembuangan sekalipun, di Ende dan Bengkulu, Soekarno tidak pernah berhenti menuangkan pemikirannya dalam tulisan.

Dibawah Bendera Revolusi adalah buku fenomenal yang menghimpun tulisan-tulisan Soekarno pada masa penjajahan Belanda (1917 – 1925) dan pertama kali diterbitkan pada tahun 1959. Indonesia Menggugat merupakan pidato pembelaan yang dibacakan oleh Soekarno pada persidangan di Landraad, Bandung pada tahun 1930. Soekarno bersama tiga rekannya, yaitu Gatot Mangkupraja, Maskun, dan Supriadinata yang tergabung dalam Perserikatan Nasional Indonesia (PNI) dituduh hendak menggulingkan kekuasaan Hindia Belanda. Dari balik jeruji penjara, Soekarno menyusun dan menulis sendiri pidato tersebut. Isi pidato Indonesia Menggugat adalah tentang keadaan politik internasional dan kerusakan masyarakat Indonesia di bawah penjajah. Pidato pembelaan ini kemudian menjadi suatu dokumen politik menentang kolonialisme dan imperialisme.

Pemikiran Soekarno tentang Mencapai Indonesia Merdeka dan lain-lain yang berkenaan dengan nasib masa depan Indonesia merupakan buah pikiran yang dimuat di berbagai surat kabar, antara lain: Suluh Indonesia, Panji Islam, dan Pikiran Rakyat. “Mencapai Indonesia Merdeka” merupakan “Risalah yang ditulis ketika Bung Karno beristirahat disuatu tempat dipegunungan Selatan Bandung (Pengalengan) pada bulan Maret 1933”.

Soekarno meninggal dalam posisi Republik kepulauan yang masih kaya dan perawan: the rich and virgin archipelago. Utang luar negeri 2 ¼ miliar Dolar, kekuatan angkatan perang nomor 2 terkuat di Asia, dan sumber daya alam termasuk hutan-hutan yang masih perawan sama sekali belum tersentuh oleh perusahaan- perusahaan pemilik HPH maupun modal asing. Ketika Bung Karno meninggal dengan tetap memelihara idealismenya, beliau mewariskan berbagai pemikiran dan konsep, seperti Pancasila dan Trisakti, yang membuat Indonesia sangat dihargai dan mendapat tempat terhormat di mata negara-negara lain. Trisakti yang dijabarkan sebagai “Berdaulat dalam bidang politik”, “Berdikari dalam bidang ekonomi”, dan “Berkepribadian dalam kebudayaan” merupakan rumusan yang digali Bung Karno selama menghadapi usaha-usaha imperialis yang ingin menghancurkan Indonesia.

Secara jasmani Bung Karno meninggal pada tahun 1970. Namun, sejatinya Bung Karno tak pernah mati. Ia dicoba dibunuh berkali- kali, gagasan dan pemikirannya diberangus. Tetap saja Bung Karno hidup kembali. Sampai hari ini pemikirannya masih dibicarakan dan ditafsirkan, cerita tentang hidup dan perjuangannya masih dikisahkan dari generasi ke generasi, dan namanya masih disebut dengan takzim. Seperti sepenggal bait sajak Sitor Situmorang: Insan Soekarno telah tiada ditengah bangsa. Namun hadir kekal sebagai amal sejarah.