Dewan Pakar PKPI Sebut Prabowo Telah Memutuskan untuk “Berkoalisi” dengan Jokowi

Home / Opini / Dewan Pakar PKPI Sebut Prabowo Telah Memutuskan untuk “Berkoalisi” dengan Jokowi

Jagad perpolitikan di dunia maya kembali diramaikan dengan analisa Teddy Gusnaidi (Dewan Pakar PKPI) bahwa Prabowo Subianto telah memutuskan untuk “berkoalisi” dengan Joko Widodo (Jokowi), sebagaimana yang beliau tulis dalam kultwit di akun Twitter@TeddyGusnaidi pada hari Senin tanggal 15 Oktober 2018 pukul 19:17 WIB

Dalam analisa tersebut, Teddy Gusnaidi juga menyebutkan bahwa Prabowo Subianto telah mengangkat bendera putih, bahkan mungkin telah mengirimkan bendera putih ke Istana, dengan harapan Partai Gerindra mendapatkan posisi dalam pemerintahan Joko Widodo (Jokowi) periode 2019-2024

Lebih lanjut, Teddy Gusnaidi mengemukakan alasan dari pernyataan beliau, yaitu bahwa Joko Widodo (Jokowi) bukanlah Basuki Tjahaja Purnama (Ahok) yang dapat dikalahkan dengan isu agama, sementara Prabowo Subiantomenyadari bahwa jika dibandingkan dengan Joko Widodo (Jokowi) dalam hal agama, beliau tidaklah sehebat Joko Widodo (Jokowi) dan hal tersebut menjadi perhitungan secara politik bagi Prabowo Subianto

Selain itu, Teddy Gusnaidi juga menjelaskan alasan lainnya, yaitu bahwa Prabowo Subianto tidak bisa berharap banyak lagi, karena sulit untuk menggunakan isu apapun, sementara Prabowo Subianto sendiri memiliki rekam jejak yang sulit diterima oleh masyarakat

“Mau berharap dgn sandiaga sulit, selain punya rekam jejak buruk, apa yg diharapkan dari orang yg suka bersikap aneh ?” tulis Teddy Gusnaidi dalam kultwit beliau

Teddy Gusnaidi juga menjelaskan bahwa Sandiaga Uno dan partai koalisi merasa bahwa ada strategi dalam strategi di internal dan juga merasa bahwa Prabowo Subianto sedang memainkan peran lain untuk kepentingan Prabowo Subianto, bukan lagi untuk kepentingan Pilpres 2019, dimana Prabowo Subianto memberikan ruang bagi Joko Widodo(Jokowi) untuk menang mudah

Teddy Gusnaidi juga menunjukkan hal terbaru yang memperkuat analisis beliau, yaitu ketika banyak yang curiga bahwa Prabowo Subianto menggunakan pola yang juga digunakan oleh Donald Trump dalam Pilpres Amerika Serikat 2016, Prabowo Subianto malah mengamini nya dalam pidato beliau dan hal tersebut menjadi sebuah dagelan, karena strategi kampanye biasanya terbuka setelah kampanye tersebut selesai, bukan malah diberitahu secara terang-terangan dan hal tersebut memang disengaja oleh Prabowo Subianto

Teddy Gusnaidi juga memberikan tantangan bagi Prabowo Subianto dan Partai Gerindra, apakah mereka berani menyatakan bahwa mereka tidak akan pernah mau diberikan jabatan apapun dalam pemerintahan Joko Widodo (Jokowi), baik diminta apalagi meminta

“Saya yakin Prabowo tidak akan berani menyatakan itu. Dia telah “berkoalisi” dengan Jokowi untuk kepentingan Partainya,” tegas Teddy Gusnaidi

Teddy Gusnaidi mengakhiri kultwit beliau dengan pernyataan bahwa PrabowoSubianto bukanlah orang bodoh dan kebodohan yang dia lakukan merupakan bagian dari strategi yang didasari oleh akal sehat.
Selain itu, Teddy Gusnaidi juga mengungkapkan bahwa akal sehat PrabowoSubianto menyat kan tidak untuk Pemilu 2019, namun untuk Pemilu 2024 tanpa petahana dan Partai Gerindra harus ada di dalam kekuasaan sebagai investasi menuju Pilpres 2024

Untuk mengetahui analisa Teddy Gusnaidi selengkapnya, silahkan baca kultwit yang ditulis oleh akun Twitter @TeddyGusnaidi di bawah ini

1. Analisis saya, Prabowo telah memutuskan untuk “berkoalisi” dengan Jokowi. Ini yang membangkitkan amarah Partai koalisi lain dan tentu saja Sandiaga. Mereka seperti terjebak dalam bus yang sopirnya melarikan diri ke tengah hutan sambil membawa kunci bus.

2. Prabowo telah mengangkat bendera putih, bahkan mungkin sudah mengirimkan bendera putih ke Istana. Dengan harapan Gerindra mendapatkan posisi di Pemerintahan Jokowi Periode 2019-2024. Masyarakat awam mungkin tidak membaca hal ini..

3. Alasannya apa? tentu Prabowo tidak sebodoh peran yang dia lakukan sekarang, tentu dia punya hitungan politik, Jokowi bukan Ahok yang bisa dikalahkan dengan isu agama. Sedangkan jika dibandingkan dengan Jokowi, Prabowo sadar, soal agama, tentu dia tidak sehebat Jokowi.

4. Tentu Prabowo tidak bisa berharap banyak lagi, karena mau gunakan isu apapun sudah sulit, sedangkan dia sendiri punya rekam jejak yg sulit diterima masyarakat. Mau berharap dgn sandiaga sulit, selain punya rekam jejak buruk, apa yg diharapkan dari orang yg suka bersikap aneh?

5. Sandiaga dan Partai koalisi tentu merasa ada strategi dalam strategi di internal. Mereka merasa Prabowo sedang memainkan peran lain untuk kepentingan Gerindra, bukan lagi untuk kepentingan Pilpres.
Prabowo memberikan ruang bagi Jokowi untuk menang mudah.

6. Berani tidak Prabowo dan Gerindra menyatakan mereka tidak akan pernah mau diberikan jabatan apapun di dalam pemerintahan Jokowi? baik diminta apalagi meminta.
Saya yakin Prabowo tidak akan berani menyatakan itu. Dia telah “berkoalisi” dengan Jokowi untuk kepentingan Partainya.

7. Makanya Prabowo terus melakukan hal konyol dalam berbagai statement di mana-mana. Dia terus memproduksi umpan yang mudah untuk bisa dipatahkan para pendukung Jokowi dan dianggap statement aneh oleh masyarakat pemilih.
Sikap Prabowo tentu membuat koalisi dan Sandiaga curiga.

8. Hal terbaru yg menguatkan analisis saya adalah ketika banyak yg curiga bahwa Prabowo gunakan pola Trump, dia malah mengamini dalam pidato.
Tentu ini jadi dagelan, karena strategi itu biasanya terbuka setelah selesai, bukan malah terang2an. Dan ini memang disengaja oleh Prabowo

9. Prabowo ibarat orang yang hanya sekedar makan saja agar bisa hidup, karena takut mati kelaparan. Tentu dia tidak ingin terlalu menunjukkan keengganan dalam berkampanye. Dia sesekali muncul hanya untuk mengeluarkan pernyataan konyol yang makin menjatuhkan elektabilitasnya.

10. Prabowo berhitung secara politik, Jokowi sulit dikalahkan, dan prabowo juga tahu bahwa setelah kekalahan, Partai koalisi lain akan merapat ke Jokowi meninggalkan Gerindra yang menjadi oposisi. Adalah kerugian besar bagi Gerindra jika menjadi oposisi lagi saat Pemilu 2024.

11. Pemilu 2024 adalah Pemilu bebas petahana. Kalau di bola, Pemilu bebas transfer. Maka menjadi bagian dari kekuasaan untuk menapaki Pemilu 2024 adalah suatu keharusan dalam perhitungan politik. Prabowo tentu menyadari hal itu, dia ikut atau dia ditinggal sendiri..

12. Prabowo telah belajar dari Pemilu ke Pemilu, tentu dia meyakini bahwa mengeluarkan dana pada Pemilu 2019, sama seperti dia menabur garam di air laut. Harus ada cara agar bisa masuk dalam kekuasaan walau kalah di Pemilu 2019. Biarkan Sandiaga yang membiayai kampanye ini.

13. Tentu setelah analisis ini saya sampaikan, Prabowo akan memodifikasi sedikit polanya agar tidak terlihat sama dengan analisis ini. Tapi yang pasti Prabowo tidak akan berani menyatakan tidak akan pernah mau masuk ke pemerintahan baik ditawarkan apalagi meminta.
Tidak akan..

14. Prabowo bukan orang bodoh.
Kebodohan yg dia lakukan adalah bagian dari strategi yang didasari akal sehat. Akal sehatnya menyatakan tidak untuk Pemilu 2019, tapi ini untuk Pemilu 2024 tanpa petahana. Dan Gerindra harus ada di dalam kekuasaan sebagai investasi menuju 2024.

Tks