Dirias Secantik Apapun, Prabowo Tetaplah Prabowo

Home / Opini / Dirias Secantik Apapun, Prabowo Tetaplah Prabowo

Oleh: Septian Raharjo

“Sampaikan pada Gus Dur, kalau tetap berkoar-koar seperti itu, saya punya 100 sniper (penembak jitu) yang siap membuangkan Gus Dur.” Itu adalah pesan yang disampaikan seorang yang mengaku diutus Danjen Kopassus, Prabowo Subianto kepada Gus Dur.

“Kalau benar Prabowo bilang begitu, tolong tanyakan padanya, Pak Prabowo agamanya apa? Kalau dia menjawab Islam, tolong tanyakan nyawa itu milik siapa?” Kata Gus Dur.

Ini adalah cuplikan dialog Gus Dur sebelum reformasi 1998 dengan seseorang yang mengaku diutus Prabowo. Dialog itu tertulis dalam buku berjudul Gus Dur Presiden Republik Akhirat karya Muhammad Zakki.

Hanya butuh satu alasan untuk mempercayai apa yang Muhammad Zakki tulis, yakni buku tersebut dipublikasikan tahun 2010. Tahun di mana tidak ada huru hara pemilu. Jadi sangat tidak mungkin kalau buku itu dibuat hanya untuk menjatuhkan nama baik Prabowo.

Bagi pengagum Gus Dur seperti saya, jujur rasanya sakit hati ketika tahu apa yang sudah Prabowo lakukan. Mentang-mentang memiliki pangkat dan pasukan, bisa bersikap arogan bahkan bermain-main dengan pembunuhan. Seolah nyawa hanya urusan kecil baginya.

Saya semakin yakin jika label arogan dan temperamental yang selama ini melekat pada Prabowo, memang benar. Dia akan mudah marah ketika ada sesuatu yang mengganggu, serta akan tinggi hati saat ada seorang yang memberi pujian.

Pantas saja, dulu dia tanpa ragu menculik para aktivis yang mengganggu kestabilan pemerintahan mertuanya, Suharto. Ternyata sifat dia memang sudah terlahir seperti itu. Karakter tersebut mengakar dan akan terus terbawa meski usianya bertambah.

Kini Prabowo tidak berubah, tetap sama arogan dan temperamental. Cuma kadarnya saja yang lagi dikurangin. Dan itu tidak lebih dari sekadar bagian strategi politiknya saja. Sebab dia masih terus mengincar kursi RI 1 meski sudah kalah dua kali.

Pikiran saya sering berkecamuk perihal ‘Prabowo sebenarnya lagi ngejar apa sih?’. Karena kalau dipikir-pikir, keinginan jadi presiden untuk ketiga kalinya ini pasti ada sesuatu yang ingin dicapai. Seperti ada ambisi yang tampaknya harus diselesaikan.

Apakah itu soal urusan bisnis? Atau memang benar ingin mengabdikan diri untuk negara? Dengan rekam jejak dan karakter yang Prabowo miliki, sulit bagi saya untuk mempercayai yang kedua.

Jawaban atas pikiran saya ini terjawab saat membaca kajian seorang ulama, ahli pikir, serta ahli filsafat Islam, Imam Ghazali. Disebutkan kalau sifat menggebu-gebu ingin jadi pemimpin dan memiliki jabatan termasuk penyakit hati. Sifat ini bahkan termasuk nafsu yang paling buruk.

Orang yang mengejar-ngejar jabatan, bisa dipastikan masuk dalam kategori gila jabatan. Sementara ambisi orang gila jabatan itu pasti selalu cenderung negatif. Imam Ghazali sendiri, memberikan 3 ciri yang dimiliki oleh orang yang gila jabatan.

1. Orang gila jabatan biasanya melihat seseorang itu dari pangkat dan kedudukannya. Dia menganggap orang yang memiliki jabatan tinggi itu adalah orang penting yang harus diutamakan. Sedangkan orang yang tak punya jabatan apapun bisa diperlakukan seenaknya sendiri.

Ciri pertama ini persis dimiliki seorang Prabowo Subianto. Masih ingat nggak awal tahun 2023 saat Prabowo bertemu Gibran di Solo? Dia berkata kalau Solo itu tempat khusus karena seseorang yang bertugas di sana pasti mencapai pangkat tertinggi.

Saya paham kalau maksud Prabowo itu tertuju ke Jokowi. Tapi dari sekian pilihan ungkapan mengapa harus bicara soal ‘mencapai pangkat tertinggi’. Padahal ‘melahirkan pemimpin merakyat’ akan lebih disukai.

Sudah begitu, Prabowo berseloroh kepada Gibran agar sering diundang ke Solo. Mungkin dia berharap kalau apa yang diucapkannya itu menjadi kenyataan kali ya, yaitu dirinya berhasil menjadi presiden, duh. Kalau pangkat jadi tolok ukur, bagaimana kami rakyat kecil?

2. Semua omongannya itu harus didengarkan, kalau tidak dia bakal tersinggung atau marah. Dia merasa bahwa apa yang dikatakannya itu hal penting dan semua orang wajib berterimakasih padanya.

Masih ingat nggak saat acara pertemuan Prabowo dengan ulama dan tokoh masyarakat di Sumenep, lalu dia memarahi audiens? Sembari menunjuk, Prabowo bertanya apakah pihak tersebut ingin menggantikannya bicara di atas mimbar. Kurang lebih doi bilang begini.

“Kenapa? Ada apa you bicara sendiri di situ? Apa you aja yang mau bicara di sini?” Ungkap Prabowo.

“Nggak, Pak, terus, Pak, lanjut, Pak. Lanjut,” timpal para hadirin.

Ini bentuk arogansi dan temperamental seorang Prabowo. Sikap itu tidak berubah meski usianya bertambah tua. Sebab dulu dia juga pernah memarahi Habibie kala dicopot sebagai Pangkostrad. Padahal pencopotan tersebut juga akibat ulahnya sendiri yang menggerakkan pasukan tanpa sepengetahuan Panglima ABRI dan Presiden.

3. Orang gila jabatan itu selalu ingin dihormati, dia ingin semua orang terutama yang lebih muda darinya wajib respek padanya. Padahal dia sendiri juga belum tentu akan menghormati orang lain.

Ciri yang ketiga ini benar-benar menunjukkan keangkuhan seorang Prabowo. Kalau dicermati pada saat dia berpidato, kata-kata ‘saya’ selalu keluar dari mulutnya. Seolah menunjukkan kalau dirinya adalah sosok sempurna dan patut dihargai.

Salah satu contohnya saat dia berkata begini. “Saya dulu jenderal, sekarang kalian perintah-perintah saya. Eh jangan macam-macam, dulu saya jenderal orde baru”. Wadidaw, menohok dan jelas sekali perkataan dia ini. Benar-benar sikap yang bagi saya pribadi, tidak bisa diterima apabila dia menjadi seorang pemimpin.

Saya bukan ahli tata kata atau gestur. Tapi dilihat dan didengar sekilas saja, perkataannya itu mengerikan dan menunjukkan kalau dirinya gila hormat dan kurang menghargai orang lain. Apa jadinya kalau Indonesia dipimpin orang seperti ini?

Ini keresahan yang selama ini saya rasakan. Prabowo sangat jauh dari kata layak untuk menjadi seorang presiden. Menjadi seorang Danjen Kopassus dan Pangkostrad saja bertindak seenaknya. Apalagi kalau jadi presiden.

Masih ingetkan ketika dia melangkahi Presiden Jokowi saat membuat proposal perdamaian Rusia Ukraina, yang berujung pengecaman dunia pada Indonesia? Memang begitulah Prabowo. Sekali Prabowo, tetap Prabowo. Mau dirias seperti apapun, keasliannya tidak akan bisa ditutupi.