Impor Taliban Ke Indonesia

Home / Opini / Impor Taliban Ke Indonesia

Oleh: Eko Kuntadhi

Radikalisme itu menular!

Ketika Taliban menguasai kembali Afghanistan, kita di Indonesia mulai degdegan. Bukan apa-apa. Kita tahu bagaimana para bomber di Indonesia punya kaitan dengan Afghanistan.

Coba lacak tokoh-tokoh teroris yang meluluhlantakan Bali, dengan Bom Bali I dan II. Atau lacak tokoh Bom Marriott. Atau kasus besar terorisme lainnya. Yang memakan korban tidak sedikit dan mencoreng nama Indonesia di mata dunia.

Kita akan temukan tokoh di belakangnya adalah alumni Afghanistan. Mereka adalah orang Indonesia, yang dulu bergabung dengan kelompok bersenjata di Afghanistan. Dulu mereka berperang melawan pendudukan Uni Sovyet di sana.

Iya, ketika masa perang dingin, Uni Sovyet bermaksud mendorong rezim komunisme di Afghanistan. Tentu saja AS berusaha membendung pengaruh tersebut. Digunakanlah strategi murah meriah.

Ketimbang AS harus mengirimkan pasukannya, mereka lebih suka mendidik penduduk lokal untuk jadi tameng. Agama digunakan sebagai landasan doktrin.

Maka di Afghanistan, dibuatlah semacam pengajaran masif tentang jihad dan kebencian pada orang asing. Stempel kafir mudah direkatkan. Rakyat Afghanistan mulai dari kecil diajarkan halal membunuh siapa saja yang berbau asing. Atas dasar agama, mereka dijadikan prajurit-prajurit jihadis.

Seruan jihadis itu juga digaungkan ke berbagai negara. Khususnya yang mayoritas muslim. Bahwa Afghanistan sedang perang agama. Butuh bantuan untuk mengusir orang kafir dari sana.

Maka berdatanganlah berbagai orang dari seluruh dunia. Tujuannya, jihad. Lebih tepatnya perang. Perang dengan apapun yang berbau asing dan kafir.

Tidak sedikit orang dari Indonesia datang ke Afghanistan. Mereka terlibat dalam perang. Yang mereka anggap bagian dari pembelaan pada agama. Mereka merasa senang berjihad. Mereka menumbuhkan kebencian pada segala sesuatu yang berbau asing dan berbeda agama.

Ketika akhirnya Sovyet angkat kaki dari Afghanistan, para jihadis yang sudah keranjingan perang ini membawa ideologi kebencian itu kemana-mana. Bahkan AS sendiri merasakan dampak yang paling brutal. Peristiwa 9/11 adalah buah dari kegilaan perang Afghanistan.

Alumni dari Indonesia juga pulang. Menukarkan semangat perang dan kekerasan disini. Nah, mereka-mereka inilah yang memulai jejak terorisme gaya baru di Indonesia. Para alumnus Afghanistan membuat kekacauan di Indonesia.

Jaringan mereka lumayan. Sebagai sesama alumnus yang diikat oleh doktrin kebencian agama. Terserak di seluruh dunia. Jadi jangan kaget jika terorisme di Indonesia itu punya jaringan internasional. Salah satu simpulnya adalah para alumnus Afghanistan itu.

AS yang merasakan buah berbahaya dari pohon indoktrinasi yang pernah disemainya, merasakan bahwa anjing penjaga peliharaannya kini sudah berubah menjadi monster. Monster dengan kepala penuh kebencian itulah yang menyebarkan teror di seluruh dunia.

AS sadar. Mereka jadi korban monster yang diciptakannya sendiri. Mereka berusaha menghentikannya. Tapi monsternya terlalu liat. Terlalu besar. Dan menggurita.

Di Afghanistan, para monster itu saling menerkam. Berkelompok dalam berbagai kekuatan bersenjata. Salah satunya bernama Taliban.

Gerombolan inilah yang saat ini menguasai Afghanistan. Dulu Taliban pernah berkuasa. Tapi setelah 9/11 AS menghancurkannya. Karena pemerintahan Taliban dianggap melindungi Osama bin Laden, yang menjadi otak peristiwa tragis di AS.

Puluhan tahun AS menempatkan pasukannya di Afghanistan. Sekian ribu prajurit mati. Dan doktrin yang dulu diinisiasi AS agar rakyat Afghanistan membenci segala sesuatu yang berbau asing, akhirnya bekerja juga untuk pasukan AS. Selama pendudukan tidak henti perlawanan mereka kepada pasukan AS yang mangkal di sana.

Ketika akhirnya AS memutuskan menarik pasukannya dari Afghanistan, meninggalkan pemerintahan yang dibentuknya dulu, para monster itu kembali bangkit.

Taliban kini menguasai Afghanistan kembali. Mereka menjadikan Afghanistan bagai penjara besar atas nama agama. Rakyat penuh ketakutan. Perintah anak yang barbar menjelma kembali di hadapan mereka.

Di Indonesia, tentu saja berkuasanya Taliban bisa menjadi inspirasi para monster untuk kembali bersemangat. Mereka menjadikan Taliban sebagai model.

Inilah yang menakutkan. Para alumni Afghanistan punya jaringan cukup solid Indonesia. Mereka berada di sel-sel kecil masyarakat. Bahkan para alumni itu sudah berhasil membiakkan pikiran dan ideologinya ke pengikutnya di Indonesia.

Berita terbaru, penangkapan para teroris di Indonesia mulai mengkhawarirkan. Mereka tersebar di berbagai wilayah. Dari barat sampai timur. Mulai dari Sumatera Utara, Sulawesi Selatan, Jatim, Jateng, Sampai Ambon. Total penangkapan terakhir terjadi di 11 propinsi.

Densus 88 misalnya kembali menangkap 5 teroris kemarin. Menambah panjang daftar teroris yang baru saja ditangkap sebanyak 53 orang.

Sebaran teroris ini sangat mengkhawatirkan. Apalagi ada beberapa orang yang diketahui sebagai orang yang aktif di media sosial. Mereka bukan hanya menjadikan senjata dan bom sebagai lahan perangnya. Juga menjadikan media sosial sebagai sarana propaganda.

Keberhasilan Taliban menguasai sebuah negara dengan kudeta, akan dijadikan pola. Sel-sel terorisme akan kembali bergelora. Semangat jihad yang salah kaprah akan dikumandangkan lagi.

Apalagi dengan semakin suburnya ideologi wahabi di Indonesia. Orang-orang dengan latar belakang wahabi inilah yang gampang dijadikan bahan bakar kekacauan atas nama agama.

Kita perlu memasang telinga kebar-lebar. Membuka mata. Sebab tanpa kita sadari. Mereka banyak berkecambah di lingkungan kita sendiri.

Ideologis intoleran dan penuh kekerasan sedang menghantui dunia. Juga menjadi momok menakutkan di sekeliling kita.

“Di Indonesia yang ada Taliban pesek, mas, ” celetuk Abu Kumkum.