Kabur dan Kabur Lagi

Home / Opini / Kabur dan Kabur Lagi

Oleh: Rudi S Kamri

KABUR adalah kata verbia atau kata kerja yang dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) maknanya diantaranya:

1. Tidak dapat melihat sesuatu dengan jelas (tentang mata)
contoh: ‘matanya telah kabur’
2. Kurang terang (tentang pemandangan); kurang nyata (tentang lukisan); kurang jernih (tentang kaca); kurang jelas (tentang pertanyaan dsb);
3. Berlari cepat-cepat; melarikan diri
contoh: ‘pengebut kabur dikejar Polantas’
4. Meninggalkan tugas (pekerjaan, keluarga, dan sebagainya) tanpa pamit; menghilang.

Kalau menurut saya, pengertian KABUR adalah lari “meninggalkan tanggungjawab karena sifat pengecut yang menjadi genetika dasar dalam dirinya”. Orang yang mempunyai sifat dasar suka kabur adalah orang yang mengalami krisis kepercayaan yang akut. Dia hanya berani menghadapi masalah pada saat berada kerumunan besar dan merasa di’back-up’ oleh kekuatan besar. Tapi manakala dia berada dalam kelompok kecil dan merasa dukungan dari kekuatan besar sudah menyusut, dia akan kembali ke jati diri yang asli yaitu pengecut dan mengalami krisis kepercayaan yang besar.

Apabila dipandang ‘si kabur’ ini dianggap punya masalah hukum, inilah saat yang tepat dan merupakan momentum emas bagi aparat keamanan negara untuk segera bertindak untuk menangkap dan meringkusnya. Karena saat ini secara psikologis kepercayaan diri ‘si kabur’ sedang jeblok ke titik nadir.

Nah, konstelasi permasalahan sudah terpampang jelas, kita semua akhirnya tahu kualitas mental ‘si kabur’. Kini tinggal keberanian kita untuk semakin bersuara dan menekan ‘si kabur’. Dan bagi aparat keamanan negara, masyarakat Indonesia sedang menunggu babak selanjutnya. Apakah aparat keamanan negara masih bisa diharapkan menjadi pelindung masyarakat dengan berani menangkap ‘si kabur’ atau dibiarkan dan diselesaikan di meja kompromi seperti biasa. Semua pilihan ada di tangan aparat keamanan negara.

Dan pilihan masyarakat adalah semakin percaya atau sebaliknya semakin tidak percaya pada negara dan jajarannya. Apapun pilihan kita, tinggal tunggu waktu rakyat bergerak di jalanan atau menunggu Pemilu ke depan.

Rakyat tidak pernah KABUR. Rakyat adalah pengamat yang sempurna. Rakyat hanya sedang berteriak dalam diam. Rakyat juga tahu semua yang terjadi, sandiwara politik yang dimainkan kaum amatiran.

Rakyat selalu tahu….
Tapi menunggu, saat yang tepat untuk memainkan lagu.

Vox Populi Vox Dei….

Salam SATU Indonesia
29112020