Ketua Komnas HAM Pastikan Netralitas Debat Pilpres Pertama

Home / Opini / Ketua Komnas HAM Pastikan Netralitas Debat Pilpres Pertama

Menjelang debat pertama Pilihan Presiden, tema yang paling krusial adalah persoalan pelanggaran HAM dan tindakan korupsi.

Dalam sebuah penjelasan melalui media sosial, Ahmad Taufan Damanik selaku Ketua Komnas HAM menjamin netralitas itu.

Dalam pernyataan tertulis, demi menjaga netralitas lembaga negara, Komnas HAM dan KPK memutuskan tidak hadir dalam debat meski tetap sebagai panelis yg menyusun pertanyaan mau pun membriefing moderator.

“Jadi saya akan duduk manis di ruangan berbeda, mungkin hadir dalam beberapa wawancara” papar Taufan.

Dirinya juga menekankan bahwa, keriuhan politik di luar panggung debat sudah demikian tinggi di media mainstream mau pun media sosial. Bahkan sudah muncul debat seolah-olah para calon akan “diadili” dengan pertanyaan kasus tertentu.

Kami sepakat menghindar dari debat semacam itu. Kami menyadari sepenuhnya yang akan hadir dalam debat adalah calon pemimpin tertinggi bangsa kita, maka pertanyaan yg mereka harus jelaskan ke publik adalah langkah strategi besar mereka menyelesaikan issu hak asasi manusia, membangun Indonesia yang berbasis nilai HAM.

“Cukup lah para timses dan pendukung yg debat dengan keseruan politik sebagaimana kita lihat belakangan ini” ungakap Taufan Damanik.

Dalam kesempatan yang berbeda, Abi Rekso selaku Sekjen Pergerakan Indonesia, mengapresiasi pernyataan Ketua Komnas HAM.

“Kalau mau isi ulang akal sehat, gudangnya ada di Jalan Latuharhari No. 4 (Kantor Komnas HAM). Gratis, tanpa jaminan dan tanpa resiko” kelakar Abi Rekso.

Abi mendukung sikap netralitas kelembagaan KPK dan Komnas HAM. Menurutnya, keputusan yang diambil adalah satu kemajuan dalam membatasi netralitas dan Integritas kelembagaan ditengah kompetisi politik.

“Biar bagaimanapun, Komnas HAM dan KPK adalah lembaga yang tidak boleh diintervensi oleh politik elektoral. Mereka bukan suksesor dari kandidasi politik. Mereka bekerja untuk kemajuan demokrasi” ungkap Abi Rekso.

Selama ini pertanyaan terkait pelanggaran HAM dan Korupsi kerap mengundang pertanyaan jebakan. Sedangkan debat yang ingin kita ciptakan adalah satu nuansa yang dinamis, tapi juga mempertahankan spirit humanis. Karena ruang debat bukan meja peradilan yang menyimpulkan dengan vonis. Tetapi, ini menjadi laboratorium pikiran guna memberikan alternativ kepada warganegara. Tutup Abi Rekso.