Matinya GeNose?

Home / Opini / Matinya GeNose?

Oleh: Arimbi Heroepoetri.,SH.LL.M
Pegiat Hukum, HAM, Masyarakat Adat, Lingkungan dan Perempuan, Direktur PKPBerdikari, dan Peneliti Senior debtWATCH Indonesia

Jika boleh berbangga, ada satu produk anak negeri dalam perkancahan peralatan deteksi virus covid-19, yaitu GeNose C19. Prof. Dr. Eng. Kuwat Triyono, MSi., dan dr. Dian Kesumapramudya Nurputra, M.Sc, Ph.D, Sp.A adalah ilmuwan dari Universitas Gadjah Mada (UGM) yang mengembangkan GeNose (Gadjah Mada Electronic Nose) C19  alat untuk mendeteksi infeksi virus Corona melalui embusan napas. Setelah mengantongi izin edar dan izin pakai dari Kemenkes RI test GeNose telah dijadikan salah satu alternatif skrining kesehatan pada berbagai moda transportasi umum selama pandemi COVID-19.

Sejak 5 Pebruari 2021 tes GeNose digunakan pada moda transpor Kereta Api, kemudian  mulai digunakan di beberapa Bandar udara dan Pelabuhan. Produksi massal alat Genose semakin meningkat, semula 3000 unit per bulan, menjadi 15.000 unit per bulan. Nampaknya GeNose memiliki masa depan yang cerah untuk melayani kebutuhan deteksi cepat virus corona. Sebagai salah satu alat skrining, GeNose C19 yang diharapkan dapat membantu mendeteksi penderita COVID-19 yang tidak bergejala, sehingga tingkat penyebaran COVID-19 bisa lebih terkontrol.

GeNose C19 telah melalui uji profiling pada 600 sampel di Rumah Sakit Bhayangkara dan Rumah Sakit Lapangan Khusus COVID-19 Bambanglipuro, Yogyakarta, dan menunjukkan tingkat akurasi hingga 97%. Dari hasil uji coba tersebut, tes GeNose C19 dinilai bisa menjadi alternatif untuk mendeteksi infeksi virus Corona. Meski begitu, masih diperlukan lebih banyak penelitian untuk memastikan tingkat akurasi dan efektivitas GeNose C19 dalam mendeteksi virus Corona secara spesifik. GeNose C19 mampu mengidentifikasi virus Corona dengan cara mendeteksi senyawa organik yang mudah menguap atau volatile organic compound (VOC). Penelitian menunjukkan bahwa para penderita COVID-19 menghasilkan VOC yang lebih tinggi daripada orang yang tidak terkena infeksi virus Corona. Namun, VOC yang dideteksi dalam tes GeNose C19 juga bisa terdapat pada embusan napas penderita penyakit pernapasan lainnya, seperti asma, kanker paru-paru, dan penyakit paru obstruktif kronis (PPOK).

Selain dengan GeNose C19 ada cara pemeriksaan dengan rapid antigen, rapid antibodi dan PCR (polymerase chain reaction). Test PCR dan rapid antigen menggunakan sampel usapan dinding belakang hidung dan atau belakang tenggorokan atau liang hidung. Rapid antibodi menggunakan sampel darah. Tes GeNose bertujuan untuk  skrining. Rapid antigen dapat digunakan untuk skrining dan diagnostik pada daerah dengan angka kesakitan yang tinggi dengan kesulitan pemeriksaan PCR. Tes PCR untuk diagnostik infeksi SAR-CoV-2. Rapid antibodi bertujuan untuk melihat apakah seseorang pernah terpapar infeksi SAR-C0V-2, evaluasi paska imunisasi, atau untuk kepentingan donor plasma konvalesen.

Tes PCR bisa digunakan untuk mendeteksi keberadaan materi genetik yang ada di dalam setiap makhluk hidup, termasuk virus dan bakteri. Selain COVID-19 Kemampuan tes PCR dalam mendeteksi materi genetik tersebut bisa digunakan untuk mendeteksi sejumlah penyakit infeksi seperti Gonore, Klamidia, Penyakit Lyme, Infeksi human papillomavirus (HPV), Infeksi human immunodeficiency virus (HIV) atau Hepatitis.

Dibanding dengan  tes lainnya, GeNose C19 memiliki setidaknya empat keunggulan, yaitu hasil tes yang cepat dan tidak memerlukan reagen atau bahan kimia lainnya seperti pada pemeriksaan dengan rapid test. Biaya tes deteksi virus Corona menggunakan GeNose C19 relatif murah, yakni sekitar Rp. 30.000 – Rp.40.000 dibandingkan rapid antigen antara Rp. 100 ribu – Rp. 200 ribu, PCR antara Rp. 600 ribu – Rp. 900 ribu, dan tes antibodi di kisaran Rp. 100 ribu  – Rp. 150 ribu. Hasil tes relatif lebih cepat, berkisar 3 menit dibanding rapid antigen 10 menit, ataupun PCR yang paling cepat  satu hari. Pengambilan sampel tes berupa embusan napas dinilai jauh lebih nyaman daripada pengambilan sampel dengan metode swab.

Namun tanpa penjelasan tes GeNose C19 tidak dipakai lagi sejak diberlakukannya Pemberlakuan Pembatasan Kegiatan Masyarakat (PPKM) Darurat per tanggal 5 Juli 2021, seiring dengan melonjaknya jumlah orang yang terinfeksi virus corona. Masa PPKM ini terus diperpanjang (dengan nama PPKM level 4)–setidaknya—sampai 9 Agustus 2021. Penjelasan ini penting karena menyangkut keamanan penggunaan GeNose, apakah Genose tidak efektif? Padahal telah melalui serangkaian uji coba. Menyangkut nama baik pencipta dan institusi yang melahirkan GeNose, apakah produk mereka tidak handal? Padahal telah mendapat ijin dari Menkes. Menyangkut kenyamanan bagi pengguna, karena murah dan mudah. Menyangkut ekonomi, karena investasi alat yang telah diproduksi. Termasuk tidak adanya kejelasan apakah GeNose akan dipakai lagi jika kondisi PPKM dicabut? Sungguh miris, produk anak bangsa ini dimati-surikan tanpa penjelasan oleh sebuah kebijakan.