Memaknai Penyataan ‘Berdamai Dengan Covid-19’

Home / Opini / Memaknai Penyataan ‘Berdamai Dengan Covid-19’

Oleh : Asep Saefuddin

Rektor Universitas Al Azhar Indonesia, Guru Besar IPB

 

Ada pernyataan menarik dari Presiden Jokowi tentang ‘kita harus berdamai dengan covid19’. Saya melihatnya sebagai pernyataan filosofis yang mendalam. Bila tidak memahami esensinya, seolah-olah kita tidak usah khawatir dan bisa berperilaku seperti dalam keadaan normal.

Pemaknaan berdamai di sini saya menerjemahkannya sebagai pemahaman yang benar dan utuh terhadap virus covid19 ini. Sehingga kita mengetahui sifat virus itu, bagaimana pola penyebarannya, daya tahannya dll. Secara psikologi kita tidak perlu membencinya yang menyebabkan kekhawatiran atau ketakutan yang berlebih. Karena ketakutan/kekhawatiran itu sudah menjadi bagian dari sakit yang akan berakibat daya imun kita menurun. Hal ini disampaikan oleh Ibnu Sina puluhan abad yang lalu. Ibnu Sina atau Avecina adalah Bapak Kedokteran Modern yang juga dikagumi dokter2 barat. Katanya “kekhawatiran itu sudah menjadi bagian dari sakit. Sedangkan ketenangan (kedamaian) adalah bagian sehat”.

Adapun pengertian damai dalam arti memahami (understanding) situasi, kita menjadikan covid19 sebagai pengingat agar kita terus berperilaku bersih dan sehat (PHBS), menutup mulut/hidung ketika bersin/batuk, menjaga jarak sosial dan jarak fisik, melakukan penyemprotan desinfektan di tempat tertentu, mencuci baju setelah pulang dari pasar, tetap jaga jarak walaupun di pasar, tidak melakukan cipika cipiki dll yang menyebabkan adanya transmisi virus. Contoh berdamai dengan covid19 yang baik bisa kita lihat di Vietnam. Mereka tetap tertib walaupun di pasar rakyat. Tidak berdesak-desakan semua teratur, tertib, tenang dan damai, walaupun di sana tidak ada lock down.

Pada saat damai dlm arti tidak panik berlebihan itu, para peneliti pun bisa segera menemukan serum anti covid19 atau bahkan vaksin. Tanpa perdamaian dan ketenangan sulit para peneliti secara tajam bisa mempelajari detil dari covid19 ini, sehingga serum anti covid19 pun hanya ramai diperbincangkan tanpa ada wujud hasilnya. Ini sangat mubazir, habis waktu oleh pembahasan tanpa implementasi.

Lewat perdamaian ini juga covid19 mengajari manusia untuk cuci tangan dengan sabun setidaknya 30 menit sekali. Perilaku itu sangat sesuai dengan ajaran agama (Islam) bahwa kebersihan itu adalah sebagian dari iman. Nah di sini covid19 telah menyadarkan kita tentang pentingnya kebersihan. Dengan demikian, bila tugas covid19 itu sudah selesai, yakni manusia semakin disiplin secara individu dan masyarakat, virus akan hilang dengan sendirinya atau setidaknya tidak berkembang. Damai itu juga berarti secara jernih kita bisa mengerti bahwa di dalam kesulitan itu selalu ada hikmah. Tanpa damai, kita hanya panik yang menyebabkan kehilangan ide dan kreatifitas.