MENGHITUNG PENGELUARAN DENGAN PENDAPATAN

Home / Opini / MENGHITUNG PENGELUARAN DENGAN PENDAPATAN

Penyelenggaraan IMF-WORD BANK ke 72 yang berlansung di Nusa Dua Bali merupakan even Internasional spektakuler kedua di tahun 2018 ini, yang dipercayakan dunia Internasional kepada INDONESIA, setelah even Asian Games 2018 Palembang-Jakarta yang sudah berlangsung dengan sukses.

Begitu pentingnya even ini, seorang pejabat tinggi mengatakan bahwa kalaupun ada gempa lagi setelah Lombok dan Palu, kita tetap berdoa kepada Tuhan YME dan bertekat tetap melaksanakan even ini sebaik mungkin, untuk memberi kesan kepada dunia Internasional bahwa INDONESIA MAMPU dan BISA.

Dengan pagu anggaran pelaksanaan maksimal Rp.855 milyar (setara USD 57 Juta), yang ternyata bisa dihemat dengan hanya 565 milyar (setara USD 37,7 juta) , maka kesan negatif bahwa penyelenggaraan even Internasional ini adalah penghamburan uang negara harusnya bisa dikesampingkan.

Mengapa demikian? Dalam terminologi ekonomi bisnis, setiap aktivitas apapun harus menghitung UNTUNG RUGINYA, atau kalo kita bicara proyek non komersial istilahnya diubah sedikit menjadi BENEFIT COST nya.

Berkaca pada pengalaman Singapura sebagai penyelenggara event yang sama, IMF-WORD BANK 2016 Singapora, dengan durasi selama seminggu, menghasilkan pendapatan sekitar USD 170 juta dari kontrak, peluang bisnis, pariwisata dan lain-lain pendapatan yang diterima entitas bisnis Singapura yang terlibat.

Bagaimana dengan estimasi pendapatan yang bisa diterima Indonesia sebagai penyelenggara IMF-WORD BANK ke 72 di BALI selama seminggu, yaitu dari tanggal 9 sampai 14 OKT 2018 ini?

MARI KITA BERHITUNG.

Dari sisi perputaran uang pariwisata (hotel, tour, souvenir, transportasi), diestimasikan bisa mencapai USD 30 juta (setara 450 M rupiah), yang membuat PDB Bali naik jadi 6,5%.

Biasanya, penyelenggaraan even besar akan menggunakan sistem seperti tusla saat lebaran. Contoh: saat penyelenggaraan even balapan Formula di Singapura, hotel-hotel memang menaikkan tarifnya sebagai kompensasi charge kontribusi mereka kepada pemerintah/asosiasi ke penyelenggara even tersebut.

Dari sisi kerjasama BUMN, even ini menghasilkan komitmen investasi sekitar 80 proyek dari 21 BUMN yang sudah masuk tahapan HoA, dengan total nilai mencapai USD 42 M ( CATAT: 42 MILYAR, bukan 42 JUTA), dengan target investasi langsung USD 13,33 M (setara 200 T Rupiah).

Belum lagi donasi bantuan sosial akibat bencana gempa yang terjadi di Indonesia, dari negara-negara donor yang hadir dan perusahaan-perusahaan yang meneken HoA denga BUMN. Contohnya : DOOSAN yang meneken HoA investasi pengembangan mesin diesel tol laut dengan BBI, menyumbang USD 1 Juta (setara dengan 15 M Rupiah) berupa eskavator alat berat dan generator pembangkit diesel untuk daerah terpencil bencana.

Bantuan lainnya dari IMF sebesar USD 75 ribu, yang akan diikuti oleh negara-negara yang hadir di acara BALI.

Dengan kata lain, bisa dikatakan bahwa even IMF-WORD BANK 2018 ternyata juga menjadi berkah tersembunyi bagi Indonesia yang sedang mengalami cobaan gempa, karena menjadi media FUND RAISING INTERNASIONAL.

Dari hitung-hitungan ekonomi bisnis diatas, maka kita bisa ambil kesimpulan bahwa bila dibandingkan dengan forum yang sama di Singapura 2016, forum IMF-WORD BANK 2018 di Bali menghasilkan BENEFIT yang jauh jauh lebih besar…..

Mengapa demikian? Bisa jadi hipotesis kita adalah Indonesia memiliki banyak peluang pembangunan Infrastruktur dibandingkan Singapura yang sudah mapan dan maju.

Oleh karena itu, dalam IMF MEETING 2018 di Nusa Dua Bali, tema besar yang diusung Kementrian BUMN bersama Kemekeu, BI dan OJK adalah “Indonesia Investment Forum 2018: A New Paradigm in Infrastructure Financing”. Sungguh suatu lompatan yang luuaar biasaa kerennya.

Mungkin ada pertanyaan logis dibenak kita, apakah mungkin kerjasama investasi BUMN sebesar USD 42 M ini akan terlaksana? Jawabnya kemungkinan besar bisa dilaksanakan, karena sudah masuk ke tahapan HoA (Head of Agreement) sebagaimana penjualan 51% saham Freeport yang bisa tuntas 2 bulan setelah HoA, dan eksekusi selambatnya 3 bulan berikutnya.

Apa syaratnya? Tidak ada kegaduhan politik. Karena investor paling tidak suka dengan ketidakstabilan, mengingat bisnis butuh kepastian. SO: yang pasti pasti sajalah dalam melangkah. Salam hangat dari NUSA DUA, Benoa, BALI.

SALAM PERSATUAN

Dr.Ir. Arman Hakim Nasution, M.Eng

MANAJEMEN BISNIS ITS