Mentalibankan Pikiran

Home / Opini / Mentalibankan Pikiran

Oleh: Iyyas Subiakto

Rame pemberitaan tentang Afghanistan pasca di tinggal lari presidennya dan di biarkan Amerika.

Membaca tulisan EJB dan Dahlan Iskan kita seolah dipaksa melupakan bahwa Taliban itu teroris, jadi yang sekarang sudah menguasai Afghanistan atas restu Amerika ini bisa dianggap teroris baik gitu, atau apa bingung saya.

Setelah JK yang sudah lama akrab dengan Taliban walau kita tau JK pernah ngurusi isu perdamaian Taliban di Qatar, tapi prilaku JK tetap saja tidak bisa kita percaya, ingat entah apa maksudnya saat Pilkada Jakarta yang memanas karena jualan agama JK malah ngundang teroris ke istananya.

Ini kan sama saja kita memahami pikiran JK saat MRS pulang atau di pulangkan, MRS di elukan pemimpin kharismatik, dan JK juga yang mengatakan Indonesia kekosongan pemimpin. Padahal kita masih punya presiden yang kredibel, Jokowi.

Ya Jokowi bukan JK yang wapres bekas dua kali tapi prilakunya tak terpuji.

Kalau mau di katakan ada teroris insyaf ya memang ada, seperti Umar Patek di Indonesia. Tapi kalau sekelas Taliban yang akrab dengan Al- Qaeda, dan mengambil alih kekuasan, memarjinalkan kaum perempuan, melakukan pembunuhan, kira-kira insyafnya kapan.

Ingat Amerika itu juga teroris terselubung. Kita pernah di kunyah habis melalui tangan Soeharto. Kalau sekarang mereka mundur dari Afghanistan dan membiarkan Taliban masuk dengan mulus apa ini makan siang gratis.

Terlalu naif kita melihat bahwa Osama Bin Laden tak pernah ada jasadnya.

Semua manuver kelas tinggi yang terjadi harus di waspadai, jangan nanti model Taliban dijadikan pahlawan terus Indonesia ikut-ikutan. Dan kita menunggu kebangkitan HTI dan FPI. Lalu kita juga berkata HTI dan FPI yang sekarang beda dengan yang dulu.

Kapan ada Pisang berbuah Nangka. Hanya zaman Rinto Semangka berdaun Sirih.

Hati-hati Kang, dunia sedang berperang jangan kita cuma jadi Cangkang..