Muhasabah Diri: Kaum Lapar Kuasa Yang Memanipulasi Realita

Home / Opini / Muhasabah Diri: Kaum Lapar Kuasa Yang Memanipulasi Realita

 

Oleh: Rudi S Kamri

 

Sampai detik ini nalar saya belum pernah bisa menjangkau, apa nikmatnya sebuah kekuasaan. Karena bagi saya kekuasaan adalah amanah dan tanggungjawab yang mempunyai konsekuensi yang multi dimensi. Baik dari segi agama, sosial, ketatanegaraan dan konsekuensi hukum. Mengenggam kekuasaan ibarat memikul beban beban sejarah kehidupan yang akan dipertanggungjawabkan kelak di akhir zaman.

Beberapa waktu lalu seorang sahabat yang saat ini ada di pusat kekuasaan bertanya mengapa saya tidak mau masuk ke Pemerintahan Presiden Jokowi. Alasan saya jelas: pertama, memang saya tidak pernah diajak oleh Presiden; kedua, saya tahu kemampuan saya tidak memadai untuk jabatan di Pemerintahan; ketiga, sudah pasti dilarang oleh anak saya dan keempat, lebih nikmat dan ‘feel free’ ada di luar kekuasaan. Dengan berada di luar kekuasaan saya bisa bebas tetap Menjaga Indonesia dengan cara sekencang-kencangnya mengkritisi Pemerintah dan sekaligus sekuat-kuatnya menjaga dan mendukung Pemerintah sampai akhir masa jabatannya.

Jadi saat melihat tingkah polah manusia yang mengumbar ambisi dan nafsu pingin berkuasa, saya tidak habis pikir. Nabi Muhammad SAW bahkan pernah menjelaskan kurang lebih seperti ini: “Kekuasaan awalnya adalah sebuah celaan, yang kedua adalah penyesalan, ketiga adalah sebuah azab pada hari kiamat, kecuali bagi orang yang adil dan amanah. Namun betapa sulitnya seseorang berlaku adil dan amanah saat berkaitan dengan kursi kekuasaan dan bersinggungan dengan keluarga terdekatnya.”

Nabi Muhammad SAW sangat visioner. Pandangan beliau menjangkau ratusan tahun ke depan. Beliau sudah bisa memprediksi betapa kompleksnya permasalahan yang menyangkut sebuah kekuasaan. Dan kekhawatiran beliau terbukti nyata adanya. Hanya segilintir orang umatnya yang benar-benar mampu bersikap amanah dan bisa berlaku adil saat “berkuasa”. Sisanya gagal total karena tidak berhasil membungkus nafsu kekuasaan dengan polesan pencitraan serupa apapun.

Jadi, pada saat melihat tingkah polah kelompok manusia ambisius pada tanggal 18 Agustus 2020 berkumpul di Tugu Proklamasi, dengan berbusa-busa “nggedabrus” mengatakan ingin menyelamatkan negeri, ingin menolong rakyat, ingin memberantas mafia migas dan ekonomi serta mengatakan Pemerintah tidak kapabel, saya hanya tertawa terkekeh-kekeh berguling-guling. Mereka seolah sedang berbicara di depan cermin retak. Mereka tidak sadar sedang menuding diri mereka sendiri. Karena sejatinya mereka adalah bagian dari kelompok kriminal yang mereka tuding.

Kelakuan lucu mereka yang menamakan dirinya Kami (bukan KITA), merupakan contoh nyata orang yang haus dan lapar akan kekuasaan. Ketamakan mereka tidak bisa ukur kemampuan diri, siapa mereka dan bagaimana kemampuan mereka. Mereka tidak segan memanipulasi kepentingan rakyat dengan cara apapun. Dengan semburan dusta, kebohongan bahkan terkadang memakai penggalan ayat yang sengaja disesatkan. Keprihatinan mereka terhadap nasib rakyat adalah sebuah kepalsuan. Sehebat apapun mereka menggunakan topeng pencitraan tidak akan mampu menutupi kemunafikan yang sudah menyatu dalam detak nasi dan aliran darah mereka.

Namun mereka lupa, sebagian besar rakyat Indonesia bukan Bani Pekok yang tidak punya akal sehat dan nir-nurani. Mereka hanya sedang beronani politik. Mereka hanya berfantasi dengan menciptakan kesenangan sendiri, lalu mereka berhalusinasi membayangkan kursi kekuasaan dan bermandikan uang haram berlimpah, lalu mereka teriak kepuasan. Kepuasan semu. Dan mereka akan terkulai kelelahan sambil tersenyum sendiri.

Senyum kepalsuan…..

Salam SATU Indonesia