Perilaku Jokowi adalah Angka Real

Home / Opini / Perilaku Jokowi adalah Angka Real

Oleh: Eko Kuntadhi

Mereka menglorifikasi hasil survei Prabowo menembus langit. Tapi jika dilihat dari suasananya rasanya gak gitu-gitu amat.

Ukuran saya gampang. Saat ini yang matanya terus melotot memperhatikan pergerakan suara, salah satunya adalah Jokowi. Wajar, anaknya ikut kontestasi saat ini.

Sebagai Presiden, dia pasti punya info A1 soal pergerakan suara real di lapangan. Bukan hanya bersandar pada hasil-hasil survei yang makin membingungkan itu.

Jika pergerakan suara Prabowo-Gibran bagus. Jokowi akan tenang-tenang saja. Gak akan grasa-grusu. Tapi jika kita dapati Jokowi malah mulai berlaku di luar kewajaran berarti ada apa-apa dengan elektabikitas Prabowo-Gibran.

Coba perhatikan apa yang dilakukan Jokowi belakangan ini.

Menyambut debat Capres yang membuat Prabowo gelagapan kemarin, Jokowi langsung bereaksi. Dia langsung menuding debat itu penuh dengan sindiran pribadi. Bukan hanya itu. Jokowi juga mengusulkan format debat diubah.

Saya gak tahu apa yang dimaksud Jokowi dengan kritik personal itu. Apakah pertanyaan Anies soal besaran tanah yang dimiliki Prabowo? Kalau itu, kayaknya waktu debat Capres 2019 Jokowi juga nanya yang sama. Jika itu yang dikritik Jokowi, maka sebetulnya dia sedang melucuti dirinya sendiri.

Kata Pak Jokowi, debat harus lebih subtantif. Lha, bukankah para kontestan kemarin sibuk memaparkan data yang mau dikonfirmasi? Hanya Prabowo saja yang gak pakai data. Dia sibuk dengan gelagepannya sendiri.

Saya gak tahu, yang dimaksud Jokowi debat yang subtantif itu yang mana? Apakah bicara soal anggaran pertahanan kurang subtantif? Apakah menanyakan pencapaian Minimum Essential Force gak subtantif?

Latar belakang Jokowi mengusulkan pengubahan format akhirnya bisa dibaca orang sebagai pengalihan pikiran publik dari peforma Prabowo yang amburadul malam itu.

Saya heran, seorang Presiden sampai menurunkan levelnya ke tahap seperti itu.

Yang bikin miris ternyata KPU menolak usulan Jokowi. Oalaa, Pak Presiden…

Dari TPN misalnya. Usulan-usulan kepada KPU hanya disampaikan oleh LO yang ditunjuk. Bahkan bukan ketua TPN, karena usulan teknis begitu levelnya ya, hanya LO. Ngapain Ketua TPN sampai mengurus soal teknis format debat.

Kalau seorang Presiden sudah ngomong sampai soal teknis begitu. Artinya ada suasana yang gak biasa. Artinya debat itu memang bisa bikin suara Prabowo-Gibran ikut rontok. Dan artinya, posisi Prabowo-Gibran makin gak aman.

Bukan hanya format debat. Pasca debat kita juga saksikan Jokowi membagi-bagikan sesuatu ke publik di Banten, di bawah baliho Prabowo-Gibran.

Tugas bagi-bagi ini, biasanya dilakukan oleh relawan. Tapi kini, aktifitas sekelas relawan itu, langsung dilakukan oleh seorang Presiden yang anaknya sedang jadi Cawapres. Aneh, kan?

Kalau ada yang bilang bahwa posisi Prabowo-Gibran sudah di atas angin. Saya justru makin ragu. Melihat perilaku Jokowi, saya justru membacanya terbalik . Justru posisi mereka kini sedang sangat terancam. Performa debat Prabowo yang buruk makin menjungkalkan elektabilitas mereka.

Bagaimana dengan hasil survei yang meng glorifikasi Prabowo-Gibran? Saya lebih suka membaca perilaku Jokowi. Sebagai Presiden dia tentu lebih mengerti mana data yang benar. Mana data yang direkayasa.

Jika aman-aman saja, mana mungkin Presiden menurunkan level nya sampai serendah ini.

Sebetulnya perilaku ini sudah berlangsung lama. Ingat gak. Setiap Mas Ganjar berkunjung ke daerah. Gak lama Jokowi juga datang ke daerah itu. Seperti membuntuti.

Bahkan sampai acara Natal bersama digunakan untuk angkat jari. Aneh. Tapi memang itulah yang terjadi.

Mulanya perilaku Jokowi ini gak terlalu kentara panik nya. Makin lama kok, makin aneh. Makin panik dan akhirnya orang membaca pasti ada sesuatu. Dalam konteks Pilpres, sesuatu yang besar itu adalah angka elektabilitas.

Pak Jokowi yang dulu dikenal orang pandai memainkan catur politik. Kini terkesan Presiden Jokowi malah jadi *JONGOS pion. Yang bergerak kesana kemari, demi menyelamatkan elektabilitas Prabowo yang mengkhawatirkannya.