Perlu Gak Sih Buat Omnibus Law?

Home / Opini / Perlu Gak Sih Buat Omnibus Law?

Oleh: Erri Subakti

 

Buat gue? Gak perlu. Apa urusannya gue perlu omnibus law. Ya, itu keegoisan gue.

Buat Jokowi? Gak perlu. Ya ngapain, kalo untuk diri Jokowi sendiri membuat sebuah “kompilasi” dari peraturan-peraturan yang SUDAH ada jadi satu. Kayak bikin album “Best of ….” aja.

Untuk DPR, perlu gak bikin omnibus law? Halah. nambah-nambah kerja mereka aja. Ongkang-ongkang kaki, target bikin UU gak tercapai juga mereka gak ada masalah.

Lalu sebenernya buat siapa dong omnibus law ini? Lalu siapa yang memerlukan sampai dibuat?

Ya buat kamu. Kamu yang masih menganggur. Pendidikan sekolah menengah. Berapa juta jumlahnya yang masih nganggur, butuh kerjaan.

Makanya disebut UU Cipta Kerja. Sebuah peraturan yang bisa membuka tambahan lapangan kerja baru buat yang masih menganggur.

Nah, sampai sini dulu deh. Jadi bukan buat gue, bukan buat Jokowi, bukan buat DPR, halah… gak perlu, ongkang-ongkang kaki juga hidup enak anggota dewan itu.

Ya kalo didemo gini, buat Jokowi (secara pribadi dengan egois, dan DPR) batalkan aja i masalah. Jokowi tetep presiden, DPR tetep ongkang-ongkang kaki bobo nyenyak.

Nah, jadi buat kamu yang masih nganggur, kan kamu butuh banyak lapangan kerja baru, apalagi persaingan tiap tahun makin bertambah. Gimana caranya bisa ada lapangan kerja buat kamu, ya kamu yang memang sungguh-sungguh mau kerja.

Jalannya tentu saja dengan adanya investor yang menggelontorkan uang ke daerah kamu. Bikin bisnis, bikin usaha, bikin pabrik, bikin perusahaan, supaya kamu-kamu bisa punya lebih banyak kesempatan dan peluang dapet kerjaan.

Itu makanya disebut UU Cipta Kerja.

Supaya ada investor yang masuk ke daerah kamu dengan senang hati, maka perizinannya dipangkas, gak lagi berbelit-belit dengan berbagai tumpang tindih UU antar sektor.

Makanya UU antar bidang sektor yang saling silang satu sama lain itu digabungin bagian-bagian yang beririsan dalam satu UU. Makanya disebut omnibus.

Jadi kalau omnibus law ini sebuah produk, dan tiap produk pasti punya sasaran spesifik. Maka sasarannya adalah kamu-kamu yang masih menganggur dan belum kerja.

Jadi ironis sebenernya UU yang sasarannya untuk mereka yang masih menganggur DI-DEMO dan ditolak sama mereka yang udah kerja punya penghasilan tetap tiap bulan, ditambah uang lembur atau tunjangan lain. UU ini juga didemo sama mahasiswa yang kalau mereka lulus, mereka mana mau jadi buruh.

Sekarang omnibus law masih banyak pasal-pasal yang dianggap bermasalah. Ya gak perlu demo. Bertarung secara intelektual, berikan kajian komprehensif dan mendalam di mana saja kelemahan omnibus law. Dan juga bisa diajukan judicial review ke Mahkamah konstitusi.

Omnibus law ini, sekejap dibatalin juga presiden dan DPR gak rugi apa-apa. Yang rugi siapa? Ya kalian yang masih menganggur, karena produk hukum ini sasaran akhirnya adalah membuka lapangan kerja buat kalian yang masih nganggur.