Ratna Ungkap Betapa Bodohnya Prabowo Sandiaga

Home / Opini / Ratna Ungkap Betapa Bodohnya Prabowo Sandiaga

Setelah beberapa hari ini kita dihebohkan dengan propaganda dan provokasi kubu Gerindra, dari Prabowo, Sandiaga hingga Fadli Zon, yang kompak mengatakan bahwa Ratna Surampaet dianiaya. Membuat para pendukungnya langsung menganggap bahwa yang melakukan penyerangan ini adalah pendukung Jokowi. Hari ini akhirnya Ratna menggelar konpres dan mengakui bahwa dirinya berbohong. Dirinya telah membuat hoax. Tidak ada penganiayaan.

Apa yang saya kita pelajari dari kejadian ini? secara sederhana saya menyimpulkan betapa bodohnya Prabowo dan Sandiaga. Bisa dengan mudah dibohongi oleh hoax dan cerita palsu. Mudah percaya dengan hal-hal yang bombastis, tanpa mau menganalisis ataupun berpikir jernih.

Bahaya sekali kalau orang semacam Prabowo dan Sandiaga, yang begitu mudah ditipu dan dibohongi dengan cerita hoax, kemudian menjadi pemimpin di Indonesia. Negara ini bisa kacau balau, bisa bubar, perang saudara dan konflik berkepanjangan hanya karena hoax.

Dan hal ini bukan sekali ini saja, bukan Ratna saja yang berhasil membohongi Prabowo Sandiaga. Sebelumnya, Prabowo ditakut-takuti oleh novel fiksi, Indonesia bubar 2030. Dianggap karya ilmiah.

Sandiaga lebih parah lagi. Dibohongi Bu Lia soal uang 100 ribu cuma dapat bawang dan cabe. Dibohongi oleh orang yang berpura-pura susah, hanya bisa makan keong, padahal orang yang termehek-mehek makan keong ketahuan jalan-jalan ke eropa.

Jika untuk melihat suatu perkara remeh temeh seperti operasi plastik saja Prabowo, Sandiaga dan seluruh elit partai politik pendukungnya bisa dibohongi, diprovokasi dan dibodoh-bodohi, bagaimana mereka bisa memandang perkara yang lebih serius seperti ekonomi, infrastrutkur dan masalah sosial di masyarakat? Jelas tidak akan mampu. Dan yang muncul secara otomatis dalam pikiran kita adalah, mau dibawa ke mana negeri ini kalau dipimpin oleh orang-orang seperti mereka?

Coba kita ingat-ingat beberapa kasus hoax yang selama ini tersebar dan diyakini oleh pendukung Prabowo, diproduksi terus menerus hingga membuat masyarakat ketakutan. Hoax 15 juta PKI bangkit misalnya, banyak elite Gerindra dan orang dekat Prabowo mendadak demam PKI. Dari Kivlan Zein sampai Fadli Zon.

Hoax 10 juta pekerja China, pun berhasil membuat Fadli Zon berang. Para pendukung Prabowo, dari elite sampai buzzer, begitu mengimani hoax tersebut. Dan banyak lagi.

Bayangkan. Tidak berkuasa saja mereka sudah bikin ruwet. Apalagi kalau jadi penguasa? Bisa-bisa setiap hari hanya mengurusi hoax-hoax yang diciptakan oleh pendukungnya sendiri.

Maka tidak heran kalau orang seperti Fadli dan Prabowo sampai harus tergopoh-gopoh ke Arab Saudi menemui Rizieq. Mungkin salah satu tujuannya adalah bertanya apakah benar rumahnya ditembak sniper tapi meleset? Atau bertanya apakah benar Rizieq diundang umroh VIP oleh Raja Salman?

DPR ribut-ribut mau mengusut dan meminta kejelasan kepada insgtagram, mengapa menghapus akun Somad diblokir? Lalu kapan mereka bekerja untuk bangsa ini? entahlah.

Untungnya, saat ini Presiden Indonesia adalah Jokowi. Untungnya PDI Perjuangan juga masih menjadi partai dengan suara pemilih paling besar. Sehingga negara ini tetap damai dan aman. Bertahan dari segala isu krisis global. Bertahan dari segala hoax dan propaganda.

Meskipun Jokowi kerap diganggu dan diserang dengan isu-isu hoax, dari cina, anti islam dan sebagainya, pemerintahan kabinet kerja tetap bisa berkerja maksimal, mengejar ketertinggalan. Meskipun Jokowi kerap diganggu di DPR, tarik ulur perumusan undang-undang, pada akhirnya PDI Perjuangan berhasil memainkan perannya di legislatif untuk mengawal seluruh produk undang-undang yang diajukan oleh pemerintahan Jokowi.

Bagi saya, pilihan politik kita sekarang menjadi lebih jelas. Bahwa untuk alasan apapun, kita sepakat bahwa negara ini tidak boleh diserahkan kepada orang-orang yang mudah terprovokasi, mudah dibohongi dan tidak paham apa-apa soal negeri ini. Kita akhirnya juga paham betapa sebuah partai politik seperti Gerindra, juga tidak pantas diberi kesempatan untuk menjadi wakil kita di legislatif. Karena apa? karena apa lagi kalau bukan karena terlalu mudah dibohongi dan ditipu oleh rakyatnya sendiri.

Semoga kejadian ini membuka mata kiat, bahwa satu pilihan salah dalam pemilu, bisa membuat kekacauan luar biasa. lihatlah drama Ratna ini, kebohongan yang diciptakannya berhasil membuat politisi memaksa polisi mengusut tuntas. Polisi yang ditekan publik pun harus turun tangan dan mencari tau kebenarannya. Polisi punya kewajiban memberikan ketenangan. Dan setelah Polisi susah payah membuat pemeriksaan, dengan entengnya Ratna Surampaet meminta maaf karena telah melakukan hoax. Biadab sekali kan?!

Sudahlah, 2019 kita pilih yang pasti dan sudah terbukti bekerja. Kita pilih Jokowi Lagi. Pilih partai yang tidak bikin onar dan produsen hoax. Begitulah kura-kura.

Alifurrahman