Saya Menolak Membenci Jokowi

Home / Opini / Saya Menolak Membenci Jokowi

Oleh: Supriyanto Martosuwito

Kepala negara manakah di kawasan ASEAN – bahkan di benua Asia – yang mengambil inisiatif untuk meredakan krisis di Gaza, Palestina dan bicara di forum OKI. Sejauh yang saya tahu tidak ada. Hanya Presiden Jokowi, presiden kita, yang melakukannya.

Siapa Kepala Negara yang di hari ini berani bicara dengan backing Israel, dan diterima langsung oleh Presiden AS, Joe Biden, di Gedung Putih dimana Jokowi langsung meminta agar Amerika menghentikan serangan Israel di Gaza.

Hanya Ir. Joko Widodo, presiden kita. Tidak ada satu pun alasan yang dapat membenarkan pembunuhan massal dan pemindahan paksa warga Palestina dari tanahnya katanya pada biden. “Kita harus mengakhiri krisis kemanusiaan ini, ” desaknya.

Sebelumnya, lewat Menlu Retno Maruti di Sidang Darurat PBB, Indonesia mengecam keras kekejaman Israel terhadap Palestina.

Ketika di hari hari ini – di negeri sendiri, Jokowi menerima hujan caci maki, kecaman, ungkapan sinis, dan kata kata tak pantas, terkait dengan ambisi anaknya yang nyapres untuk mendampingi Prabowo Subianto, dia sibuk melawat ke berbagai negara untuk menurunkan eskalasi politik global.

Sejujurnya, memang, siapa yang paling layak di dengar sebagai penengah di tengah krisis Palestina – Isral dan Amerika sebagai backingnya? Hanya Jokowi!

Presiden Jokowi punya jalan untuk bertemu dengan Raja Jordania Abdullah II bin Al-Hussein di sela-sela KTT Luar Biasa Organisasi Kerja Sama Islam (OKI) di Riyadh, pekan lalu.

Jokowi mendukung kepemimpinan Raja Yordania dalam upaya mewujudkan perdamaian menuju Palestina merdeka. Yordania merupakan custodian situs suci agama Islam dan Kristen di Yerusalem, dan Indonesia merupakan salah satu co-sponsor Resolusi Majelis Umum PBB yang disahkan 27 Oktober lalu di New York.

Indonesia dan Yordania memiliki posisi yang sama dalam perjuangkan kemerdekaan Palestina berdasarkan solusi dua negara.

Di sela kegiatan KTT Luar Biasa Organisasi Kerja Sama Islam di Riyadh, Arab Saudi, itu Jokowi menerima kunjungan Presiden Palestina Mahmoud Abbas. Presiden Abbas menyampaikan bahwa Indonesia adalah salah satu negara yang secara konsisten terus mendukung perjuangan bangsa Palestina. Beliau sangat menghargai dukungan tersebut, juga berterima kasih atas bantuan kemanusiaan Indonesia untuk warga Palestina di Gaza.

Tak ada celah lagi bagi Kadrun dan kaum fundamentalis di Indonesia, juga oposan untuk “sok membela Palestina” dan mengecam pemerintah negara, karena Jokowi turun sendiri ke Timur Tengah, ke Amerika.

Hanya ke Gaza saja tak dilakukannya, karena kondisinya tak memungkinkan. Tapi itulah semaksimalnya yang bisa kita lakukan.

Dalam lawatannya di Amerika, Jokowi menerima kedatangan Chairman Freeport Mc MoRan, Ricard Adkerson di Hotel Waldorf Astoria, Washington DC, Amerika Serikat, Senin ini, mengawal pembahasan mengenai penambahan 10 persen saham Freeport di Indonesia hingga perpanjangan izin tambang selama 20 tahun yang telah mencapai tahap akhir.

Saat ini Freeport tidak hanya melakukan penambangan emas dan tembaga saja, tapi telah membangun smelter untuk mengolahnya. Dan pihak Freeport pun menunjukkan komitmennya untuk membangun smelter di lokasi lain di Indonesia, tidak hanya di Surabaya, tapi di Kabupaten Fakfak, Papua Barat misalnya.

Presiden mana di Indonesia yang bertahan dengan program hilirisasi – berhadapan langsung dengan negara industri di Eropa dan AS – bahkan menambah saham kepemilikan dari tambang Freeport sebagai simbol kejayaan dan penguasaan aset Indonesia oleh Amerika di sini.

Hanya Jokowi.

Dia jelas berkeinginan bila penerusnya kelak melanjutkan programnya. Karena itu dia menaruh banyak telur di semua keranjang.

Bukankah, investor bijak tidak menaruh telur di satu keranjang? **

*** PS :

Megawati bukan Bung Karno
Tutut Hardiyanti bukan Soeharto
Yenny Wahid bukan Gus Dur
Agus Harimurti bukan SBY
Puan Maharani bukan Megawati
Gibran Rakabuming bukan Jokowi.

Karena nya, saya tidak akan memilih Gibran sebagai penerus Jokowi.

Sekali lagi saya tegaskan, di Pilpres 2024 saya tidak merahasiakan pilihan saya. Saya akan memilih pasangan Ganjar Pranowo dan Mahfud MD. Bukan Prabowo Subianto dan Gibran Rakabuming. Apalagi Anies Baswedan dan Cak Imin.

Tapi saya juga menolak untuk ikut ikutan membenci Jokowi. Saya akan terus mendukung Jokowi, hingga akhir jabatannya, pada 22 Oktober 2O24.

Ir. Joko Widodo adalah presiden terbaik yang pernah dimiliki Indonesia sesudah Bung Karno. ***