Saya Santri, Bukan Taliban

Home / Opini / Saya Santri, Bukan Taliban

Oleh: Zuhairi Misrawi
Cendekiawan Nahdlatul Ulama

Saat Taliban berhasil merebut istana kepresiden di Kabul, saya mencuit tentang sikap negara-negara adidaya terhadap kelompok yang dikenal radikal, bahkan ekstrem ini. Di antaranya yang paling menarik, yaitu sikap China. Dikabarkan, Taliban siap bekerjasama dengan China jauh sebelum berhasil mengontrol beberapa provinsi di Afghanistan.

Yang menarik bagi saya adalah sikap China dalam merespons keinginan Taliban untuk bekerja sama. Saya menulis di twitter, “Setelah Taliban menyampaikan keinginan bekerja sama dengan China, lalu China menyampaikan satu syarat, yaitu Taliban harus meninggalkan jalan ekstremisme dan terorisme.” Sikap China inilah yang kemudian membuat Taliban harus melunak dalam mengambil beberapa sikap.

Namun, ada satu hal yang lebih menarik lagi, yaitu respons seorang follower atas cuitan tersebut. Ia menulis, “Bukannya Taliban itu santri?” Saya hanya terdiam seribu bahasa, tidak mau membalasnya langsung. Saya memilih untuk menulis kolom khusus di www.islamramah.co. Apalagi saya mulai Jumat ini sudah berniat untuk menulis kolom setiap minggu secara istikamah di portal yang punya slogan, “Islam Ramah, bukan Islam Marah” ini.

Di dalam buku Taliban: The Power of Militant Islam in Afghanistan and Beyond, Ahmed Rashid (2010) menulis dengan sangat detail perihal sepak terjang Taliban. Betul, pada mulanya, nama Taliban merujuk pada kaum terpelajar di madrasah, berasal dari suku Pashtun, dan mereka ikut berjuang melawan Uni Soviet pada tahun 1980-an.

Sejak berdiri pada tahun 1994, Taliban berhasil menguasai Afghanistan. Bahkan, pada bulan Maret 1997, Taliban berhasil mengambil alih kekuasaan yang berpusat di Kandahar. Sejak itu pula, Taliban mengendalikan kekuasaan dan gerakannya dengan wajah Islam yang sangat buruk rupa. Membunuh siapapun yang tidak sepaham, menghancurkan situs agama lain, mendiskriminasi perempuan, dan mempraktekkan beberapa perilaku keagamaan yang ekstrem. Taliban mewajibkan laki-laki berjanggut, perempuan harus memakai burka, serta melarang nonton televisi dan radio. Paham yang serupa dengan Wahabisme.

Puncaknya, Taliban menjadi pihak yang bersekongkol dengan al-Qaeda, khususnya Osama Bin Laden. Sikap Taliban ini semakin memperburuk citranya di dunia internasional, karena Osama disebut sebagai otak serangan terhadap Menara Kembar di New York. Taliban akhirnya tumbang akibat operasi militer Amerika Serikat bersama Nato pada tahun 2001 lalu. Apakah Taliban benar-benar lumpuh?

Tentu saja, tidak. Kekuasaan Taliban di Afghanistan tumbang. Tetapi, ideologi, gerakan, dan pengaruhnya terus meluas, baik di Afghanistan maupun di beberapa negara lain. Untuk penetrasi ke negara-negara lain, Taliban menggunakan jubah al-Qaeda yang mempunyai sumber daya ekonomi yang melimpah. Maka, kemudian kita mengenal istilah “Talibanisasi” yang secara pelan-pelan mengisi ruang publik kita, meskipun dengan pendekatan yang lebih halus. Dan mereka yang menggunakan cara-cara seperti Taliban dan al-Qaeda di Afghanistan masih terus bergerilya memulai berbagai aksi bom bunuh diri.

Penjelasan singkat tersebut dapat menggambarkan, bahwa Taliban mempunyai masa lalu dan sejarah yang sangat buruk. Apalagi sejarah itu masih terlalu dekat dengan ingatan kita. Janji-janji Taliban yang ingin berubah itu tidak mudah dipercaya, karena harus dibuktikan dalam tindakan nyata. Sejauh ini apa yang kita sebut Neo-Taliban hakikatnya adalah sikap politik Taliban yang memulai membuka diri untuk berunding dengan beberapa negara lain, termasuk perundingan dengan Amerika Serikat dan yang diinisiasi Qatar di Doha.

Adapaun pandangan keagamaan Taliban masih sama saja. Mereka selalu mengklaim ingin mendirikan pemerintahan Islam dengan menjadikan Syariat Islam sebagai pijakannya. Namun, ketika ditanyakan Syariat Islam seperti apa? Persoalan muncul ke permukaan, karena Syariat Islam ketika dioperasionalkan akan menjadi fikih atau mazhab yang sangat beragam. Dalam tradisi Sunni saja ada 4 mazhab (Hanafi, Maliki, Syafii, dan Hanbali), dan 2 dalam Syiah (Jakfari dan Zaydi).

Penjelasan tersebut di atas memilih saya untuk konsisten bangga menjadi santri. Saya sama sekali tidak akan memilih dan terpesona pada Taliban. Identitas santri yang kita kenal di negeri ini, dengan pengalaman sejarah yang panjang sudah dipastikan berbeda dengan Taliban. Santri dan Taliban merupakan dua entitas dan identitas yang berbeda.

Saya secara pribadi akan selalu bangga sebagai santri, karena menjadi santri akan selalu menjadi bagian dari kelompok yang menebarkan kebaikan dengan cara-cara yang baik (al-amru bil ma’ruf bi ma’rufin). Santri selalu identik dengan akhlak mulia dan mengedepankan kemaslahatan bersama. Sebab santri benar-benar menimba ilmu dari sumbernya yang jernih.

Dalam konteks kebangsaan, santri akan selalu menjadikan cinta Tanah Air sebagai pedoman dalam menjaga keragaman. Santri senantiasa bahu-membahu dengan berbagai suku, mazhab, kelompok dan agama yang lain untuk menjadikan Indonesia sebagai tamansari kebhinekaan. Santri tidak mengenal kamus mayoritas-minoritas. Bagi santri, kita semua Indonesia, karena Indonesia adalah rumah kita.

Jadi, Indonesia menjadi negeri yang tangguh dan terus tumbuh, tidak lain karena jasa para santri. Sejak tahun 2016 lalu, Presiden Jokowi telah meresmikan setiap tanggal 22 Oktober sebagai Hari Santri Nasional, merujuk pada perjuangan para santri melawan penjajah di Surabaya, sehingga kemudian menjadi cikal-bakal spirit kepahlawanan pada 10 November 1945.

Jika Taliban benar-benar akan menjadikan Afghanistan sebagai negara yang berdaulat, mandiri, dan berkepribadian, sejatinya mereka meniru para santri di negeri ini yang berjuang dengan ilmu untuk membangun dan mewujudkan solidaritas kebangsaan. Kepentingan bersama harus dikedepankan daripada kepentingan kelompok.

Dan, kita tidak perlu latah untuk meniru Taliban. Kita bisa meniru para santri yang sudah terbukti berjuang untuk kemerdekaan RI, mencerahkan umat dan bangsa, serta terus menjadi garda terdepan dalam menjaga NKRI. Santri dan Taliban dua identitas yang berbeda. Saya sendiri bangga menjadi santri.

Sumber: IslamRamah.co