Siapa Sebenarnya Musuh Kita

Home / Opini / Siapa Sebenarnya Musuh Kita

Oleh: Iyyas Soebiakto

 

Dunia perpolitikan kita memanas di tengah pandemi, dipuncaki kepulangan tukang minyak wangi yang didandani jadi ulama oleh orang yang tak mau Indonesia terpandang di mata dunia.

Piaraan ini sudah lama disiapkan, bak Inggris menyiapkan Imam Mahdi Gulam Ahmad menjadi nabi baru. Ini nyaris copy paste seperti itu. Gak tanggung-tanggung preman dilabeli imam umat Islam Indonesia, ini keterlaluan, selain melecehkan para ulama, mereka telah merendahkan Islam.

Bagaimana ada imam besar mulutnya bak buang hajat besar. Ini menjadi stigma tambahan dan pembenaran bahwa sebagian yang mengganggap Islam adalah agama terbelakang dan suka perang seolah terbuktikan dengan dihadirkannya manusia rendah akhlak sebagai hasil ternak yang disiapkan untuk merusak.

Melihat gerak beberapa pihak sejak Jokowi memulai jabatan presiden, terbaca apa mau mereka. Yang pasti kejayaan orba akan dikembalikan untuk melanjutkan pengamanan bisnis dan keserakahan lainnya yang pernah mereka jalankan.

Manuver beberapa pemain lama makin terlihat nyata, mereka pura-pura bijaksana, tapi sebenarnya pijak sini pijak sana. Barusan katanya anak JK melaporkan Ferdinand dan Rudy S Kamri karena dianggap melakukan fitnah uang sekopor ngongkosi kembalinya imam tambal silumaan. Kepulangannya saja merusak tatanan kesosialan, dan menjadi preseden.

Keluarga JK saat ini sedang meriang diserang sana sini di medsos. Baik tentang bisnisnya, hutangnya, dan manuver politiknya yang membahayakan Indonesia. Bagaimana tidak, JK baru saja menyelesaikan tugas wapres bersama Jokowi, kok ada makhluk siluman seperti Rizieq dibela mati-matian. Padahal kan JK tau kejadian 212, atau kelanjutannya. Lha tiba-tiba ada buronan pulang JK menyambut dengan statement memihak musuh negara.

Rizieq dibilang pemimpin kharismatik, dan berduyunnya penyambutan karena ada kekosongan kepemimpinan nasional, seolah menganggap Jokowi tak ada, ini kan luar biasa konyolnya, pdhl JK pernah bcr bahwa Jokowi adalah pemimpin yg baik. Ini kan ungkapan seperti banyolan, tapi ya kenyataannya diucapkan oleh mantan wapres. Jadi blunder kan?

Semua orang membaca benang merah ini dari konspirasi pilkada Jakarta yg memenangkan gubernur tak bs kerja, dimana JK punya andil besar disana, kalau sekarang Jakarta rusak apa JK tak merasa bersalah. Kalau tidak berarti ada yg salah dalam alam berfikir JK, dia tak mampu melihat kemudhorotan dan kebaikan, padahal shalatnya untuk menghindari perbuatan keji dan mungkar, ingat ya JK adalah ketua dewan masjid Indonesia dan ketua PMI sbg penyelamat kanusiaan. Kok aksinya bertolak belakang. Sehingga begitu gampangnya diterka bahwa Rizieq dipiara sejak lama. Makanya asumsi uang sekopor itu menjadi tersohor.

Kepulangan Rizieq atau dipulangkan dengan show of force yang seolah menantang negara, memaki-maki TNI dan Polri kok JK malah membelai, ini yg membuat rakyat makin tak respek kepada JK, selain sudah sejak lama terbaca track recordnya, kok sekarang malah makin kuat nyokotnya.

Kondisi bangsa di serang covid, Jokowi hanya tidur 3 jam sehari, lha kok ada sekelas mantan wapres malah nyambangi dgn niat menandingi, caranya, kondisinya, niatnya, tak sebanding dengan prestasi yang pernah ada, sekarang malah muji-muji imam pesenan, yang hobby nya produksi makian.

Sebuah keniscayaan bahwa negara kita sedang teraniaya, herannya justru orang dalam yang membuatnya. Sulit di percaya tapi itulah adanya. Musuh kita bukan China atau Amerika, tapi ada dibalik jendela.

Indonesia sedang di coba oleh orang-orang dalam yang mendua, mereka mau terlihat bijaksana sekaligus juga mau tetap memperkaya diri dengan segala cara. Sementara pemerintahan Jokowi sedang terus membenahi kerusakan yang mereka buat 42 thn silam, makanya dibutuhkan energi yang besar dalam melanjutkan yang sudah dimulai kalau tidak mau dimakan oleh taring mereka para DNA orba.

INDONESIA AKAN BISA MENGATASI SEGALA RINTANGAN INI, ASAL KITA TETAP BERSAMA JOKOWI, BUKAN MALAH BERMESRAAN DENGAN PARA GALI !!!