Titiek Soeharto

Home / Opini / Titiek Soeharto

Oleh : Ali Sutra

Titiek Soeharto menyanyi sebuah lagu Mandarin yang berjudul Yue Liang Dai Biao Wo De Xin pada acara Gala Dinner dengan tema “Tionghoa dan Bisnis di Mata Prabowo Subianto” Jumat malam tangfal 7 Desember 2018 di resto Sun City.

Lagu yang dinyanyikan oleh Titiek itu dipopulerkan oleh Penyanyi Legendaris Taiwan yang bernama Deng Li Jun (Teresa Deng). Penyanyi itu meninggal dalam usianya yang masih muda, yaitu 42 tahun pada tanggal 8 Mei 1995, ketika sedang berlibur ke Thailand. Titiek yang malam itu memakai baju Merah menyala (ini warna suka cita dalam tradisi Chinese) tersenyum sangat manis sekali. Dia benar-benar mewarisi senyum khas dari Bapaknya.

Pada acara yang dihadiri oleh sekitar 500-an orang tersebut, Titiek – yang besar dalam adat Jawa yang cukup kental – menyanyikan lagu berbahasa Mandarin tersebut dengan logat yang mirip dengan saya sebagai Orang Tionghoa yang tidak bisa berbahasa Mandarin.

Logat yang sangat kentara sekali logat dari seorang yang bukan Native Speaker. Logat Titiek dan Saya tentunya lebih baik daripada logat Jon Bon Jovi, ketika menyanyikan lagu yang sama memberikan surprises kepada fansnya di China pada China Valentine’s Day Agustus 2015.

Andaikan Titiek menyanyikan Lagu Yue Liang Dai Biao Wo De Xin di zaman Bapaknya berkuasa, apakah senyum manis Titiek terlihat sangat manis seperti semalam?

Kita jadi ingat, bagaimana Diskriminasi Rasial terstruktur dengan hampir sempurna di zaman Bapaknya berkuasa. Langkah pertama Soeharto adalah mengeluarkan Surat Edaran tanggal 7 Juni 1967 tentang “Kebijakan Pokok Penyelesaian Masalah Cina”.

Isi dari Surat Edaran itu menyatakan bahwa Etnis Tionghoa yang WNA yang beritikad baik akan mendapatkan jaminan keamanan dan perlindungan atas kehidupan, kepemilikan, dan usahanya. Surat edaran itu kemudian ditindaklanjuti dengan Keputusan Presiden pada Desember 1967, yang isinya menyatakan, pemerintah tidak membedakan antara Tionghoa WNA dan Tionghoa WNI.

Untuk menghindari eksklusifisme rasial, pemerintah memilih mengasimilasikan etnis Tionghoa dan melakukan berbagai usaha untuk memutuskan hubungan dengan leluhur mereka. Disinilah mulai Proses Asimilasi secara struktur dijalankan oleh Orde Baru. Orang Tionghoa dipaksakan harus mengganti nama, tidak boleh menjalankan ritual budaya dan kepercayaannya, aksara Cina dan otomatis bahasa Mandarin dilarang untuk digunakan.

Lalu Soeharto membentuk sebuah lembaga yang bernama BKMC (Badan Koordinasi Masalah Cina) melalui keputusan Kepala Bakin no. 031 / 1973. Melalui lembaga yang berada di kontrol intelejen inilah seluruh aktivitas Budaya Orang Cina di Indonesia diawasi secara ketat. Ada koran Berbahasa Mandarin, penerbitnya adalah Militer. Makanan-Minuman dan obat-obatan dari Tiongkok peredarannya diatur juga oleh militer.

Kembali kepada senyum Titiek Soeharto ketika menyanyikan sebuah lagu berbahasa Mandarin. Ini adalah bagian dari sebuah kampanye politik dalam ajang Pilpres 2019. Jargon Titiek adalah membangkitkan kembali “kejayaan” Orde Baru yang dipimpin oleh Bapaknya selama 32 tahun. Kali ini, diteruskan oleh Prabowo Subianto, yang kita semua tahu adalah Mantan Suami Titiek Soeharto.

Saya, sebagai orang Tionghoa yang lahir dan besar di Zaman Orde Baru hanya ingin mengatakan bagaimana sulitnya posisi Orang Tionghoa dalam struktur Masyarakat Indonesia.

Padahal, saya jelas adalah Orang Indonesia, Warga Negara Indonesia, mengakui Indonesia sebagai Tumpah Darah saya.

Dan mohon maaf, saya adalah orang yang menolak keras gagasan Politik Orde Baru. Dua puluh tahun lebih kita sudah berjalan meninggalkan Orde Baru, dua puluh tahun pula kita meratapi sejarah kelabu kita pada Kerusuhan Rasial Tragedi Mei 1998 yang kita tahu banget pelakunya masih bergentayangan.

Ayo, kita tutup buku soal Orde Baru, maju terus ke depan. Biarlah senyum Manis Titiek tetap kita lihat tanpa kita pernah terpikat lagi.

 

(Penulis merupakan Aktivis Pluralisme)