TOA

Home / Opini / TOA

Oleh: Arimbi Heroepoetri.,SH.LL.M

(Pegiat Hukum, HAM, Masyarakat Adat, Lingkungan dan Perempuan, Direktur PKPBerdikari dan Peneliti Senior debtWATCH Indonesia)

 

Apa yang dirasakan selama dua kali menjalankan ibadah puasa bagi umat islam dalam masa pandemik corona ini?

Saya lahir dan bertumbuh di Jakarta, hampir seumur hidup saya tinggal selalu berdekatan dengan mesjid,  jadi  saya terbiasa menghitung jadwal waktu dari suara azan dan orang yang mengaji di mesjid.  Saya terlatih untuk memahami keindahan suara azan dan alunan suara mereka yang mengaji.   Pada masa menjalankan ibadah puasa, suara azan dari mesjidlah yang mengingatkan saya kapan  memulai puasa melalui tanda Imsak, dan kapan berbuka puasa melalui suara adzan untuk memanggil shallat magrib. Kadang suara azan dari mesjid-mesjid terdekat saling bersahutan, indah.

Rasanya baru 10 tahun belakangan ini, saya mulai terganggu dengan suara adzan, indahnya yang saya rasakan dahulu kala sudah mulai memudar. Suara dari mesjid  semakin keras dan kencang, keindahan dan kesyahduan alunan suara mereka yang mengaji juga memudar, terganti dengan anak-anak yang berebut mike pengeras suara mesjid untuk berteriak mengalunkan salawat. Pada akhirnya semua tercampur menuju satu titik, bagaimana sekeras dan sekencang mungkin.

Ternyata perubahan bukan hanya soal Toa di mesjid yang seolah-olah berlomba paling keras, tetapi juga terjadi kepada aktivitas di berbagai mesjid, biasanya hari jumat adalah hari yang paling aktif berkegiatan di mesjid, namun belakangan keaktifan mesjid bisa hari apa saja dengan peserta yang bisa membludak sampai ke jalan, menutup jalan publik. Bisa lebih ramai lagi, karena diiringi dengan pasar kaget seputaran mesjid menjajakan aneka produk peralatan shallat, baju, kain, makanan, jajanan atau apa saja yang mungkin laku dijual. Seiring dengan munculnya pasar kaget, muncul juga tempat parkir dadakan di seputaran derah itu, dapat dibayangkan untuk Jakarta yang tidak pernah sepi dari kendaraan, kondisi di atas segera saja menimbulkan macet yang sampai mengular beberapa kilometer. Suasana jauh dari syahdu, dari indah. Hingar-bingar, memasang toa sekeras-kerasnya berdentum-dentum. Tidak nampak aparat Negara mengatur lalu lintas, atau mengatur pasar dan tempat parkir dadakan, ataupun juga mengatur mengenai toa dari mesjid yang memekakkan telinga.

Di bulan puasa, rumah-rumah makan tetap buka dan tetap melayani pengunjung yang ingin makan di tempat. Menjadi pemandangan biasa saja, jika tempat makanan tersebut menutup tirai, sebagai tanda menghormati mereka yang berpuasa. Cukup itu saja. Namun belakangan cukup banyak rumah makan yang tidak melayani pengunjung untuk makan di tempat sebelum waktu buka puasa, walau masih membuka rumah makannya sejak pagi hari.  Ditambah lagi mulai sering terjadi pemaksaan penutupan rumah-rumah makan yang berbuka di siang hari oleh mereka yang mengatasnamakan ormas tertentu, bahkan pengunjung yang datang diusir dan diintimidasi. Bentrokan kecil-kecilan di masyarakat mulai terjadi, semakin menambah ketidaksyahduan bulan ramadhan.

Dalam kondisi seperti inilah 10 tahun belakangan ini saya ‘menikmati’ berpuasa di bulan ramadhan. Menahan sabar ketika suara adzan dan segala aktivitas dari mesjid demikian keras, dan mulai tidak ada iramanya, menahan sabar ketika pulang kerja terhambat macet yang parah Karena ada aktivitas di sebuah mesjid sampai memakan badan jalan umum, dan lagi menahan sabar ketika mendengar berita razia rumah-rumah makan yang buka di siang hari oleh masyarakat. Bukankah bulan ramadhan adalah bulan yang penuh berkah? Menahan sabar adalah ujian dariNYA.

Padahal depag sudah mengatur soal pengeras suara di mesjid melalui Surat Edaran Dirjen Bimas Islam No. B.3940/DJ.III/HK.00.07/08/2018 tanggal 24 Agustus 2018. Sebelumnya diatur dalam Instruksi Direktur Jenderal Bimbingan Masyarakat Islam Nomor Kep/D/101/1978.

Pada dasarnya suara yang disalurkan keluar masjid hanyalah azan sebagai tanda telah tiba waktu salat. Demikian juga salat dan doa pada dasarnya hanya untuk kepentingan jemaah ke dalam dan tidak perlu ditujukan keluar untuk tidak melanggar ketentuan syariah yang melarang bersuara keras dalam salat dan doa. Sedangkan dzikir pada dasarnya adalah ibadah individu langsung dengan Allah SWT karena itu tidak perlu menggunakan pengeras suara baik ke dalam atau ke luar. Hal lain yang diatur dalam instruksi ini terkait dengan waktu penggunaan pengeras suara, misalnya pengeras suara bisa digunakan paling awal 15 menit sebelum waktu salat Subuh. Namun, nampaknya Surat Edaran ini tidak bergigi.

Dua kali menjalani puasa di bulan Ramadhan suara pengeras suara dari mesjid-mesjid terdekat tidak lagi memekakkan telinga juga tidak lagi terdengar kabar razia rumah makan yang buka di siang hari. Sedikit demi sedikit saya mendapatkan kembali suasana syahdu di bulan Ramadhan. Mengapa bisa terjadi perubahan secepat itu? Mungkin disebabkan kombinasi dari masa pandemik covid 19 yang melarang orang untuk bekerumun, juga adanya larangan pemerintah terhadap aktivitas dua ormas; HTI dan FPI yang kerap melakukan sweeping terhadap rumah makan dan bersikap keras terhadap mereka yang mengkritik penggunaan pengeras suara mesjid yang memekakkan telinga.

Apapun penyebabnya, bagi saya perubahan ini menenangkan dan mendukung saya untuk menjalankan ibadah puasa dengan nikmat, karena saya tidak pernah terganggu dengan beraneka jenis makanan yang tersedia di bulan puasa. Semoga ke depan suasana ini terus berlangsung  dan semoga Surat Edaran Dirjen Bimas Islam dapat diterapkan dengan baik.