Warisan Budaya Takbenda

Home / Opini / Warisan Budaya Takbenda

Intangible Cultural Heritage

Catatan Teresa Birks

 

Warisan budaya tidak bisa dimaknai sebatas monumen dan koleksi benda. Kini, warisan budaya termasuk juga yang diwarisi dari nenek moyang kita dan diwariskan ke keturunan kita di luar kebendaan, seperti tradisi lisan, seni pertunjukan, praktek dan relasi sosial, ritual, festival, pengetahuan dan kegiatan berkaitan dengan alam semesta serta pengetahuan dan keterampilan kerajinan.

Oleh UNESCO “Warisan Budaya Takbenda” dimaknai sebagai ragam praktik, representasi, ekspresi, pengetahuan, keterampilan serta instrumen, obyek, artefak dan ruang-ruang budaya terkait dengan masyarakat dan kelompok. Dalam beberapa kasus, perorangan dapat menjadi bagian dari warisan budaya tersebut.

Warisan Budaya Takbenda ini diwariskan dari generasi ke generasi, yang secara terus menerus diciptakan kembali oleh masyarakat dan kelompok dalam menanggapi lingkungan sekitarnya, interaksi mereka dengan alam dan sejarah mereka, dan memberikan rasa identitas yang berkelanjutan, untuk menghargai perbedaan budaya dan kreativitas manusia.

Untuk tujuan konvensi ini, pertimbangan hanya akan diberikan kepada Warisan Budaya Takbenda yang kompatibel dengan instrumen hak asasi manusia internasional yang ada, serta dengan persyaratan saling menghormati antar berbagai komunitas, kelompok dan individu, dalam upaya pembangunan berkelanjutan.

Pencakupannya termasuk:
1. Tradisi Lisan dan Ekspresi.
2. Seni pertunjukan.
3. Adat Istiadat masyarakat, ritual, dan perayaan-perayaan.
4. Pengetahuan dan kebiasaan perilaku mengenai alam dan semesta.
5. Keterampilan dan kemahiran kerajinan tradisional.

Dalam perkembangannya, folklore sempat menjadi intangible cultural heritage. Namun oleh UNESCO kata “folklore dihapus sejak 2001, dan secara resmi diganti dengan istilah ICH (Intangible Cultural Heritage) pada tahun 2003. Kata folklore diprotes oleh perwakilan dari Afrika dan Amerika Latin karena makna kata folklore dianggap membedakan budaya Barat – yang secara implisit dianggap lebih berstatus dan unggul, dengan budaya negara-negara berkembang – yang secara implisit dianggap inferior.

Istilah ICH/Warisan Budaya Takbenda dipakai agar lebih inklusif dan universal dan tidak membedakan atau memberikan ‘nilai’ yg lebih tinggi antar budaya manusia dimanapun mereka berada. (ed.OT)