WELCOME BACK PAK AHOK

Home / Opini / WELCOME BACK PAK AHOK

Oleh: Birgaldo Sinaga

Orang yang terlahir miskin itu takdir, tidak seorangpun bisa memilih lahir dari rahim ibu miskin atau kaya. Tapi mati dalam keadaan miskin berarti ada sesuatu yang salah. Paling dominan karena pemerintahan dikelola oleh pemimpin korup.

Beranjak gede siapapun dari kita bisa mengubah jalan hidup yang tadinya hidup susah miskin bisa menjadi kaya bahagia. Menjadi hidup sukses berkecukupan ada dua faktor penyebabnya. Pertama karena kita kerja keras dan kedua karena pemerintahan memberi ruang kesempatan baik infrastruktur maupun suprastruktur. Keduanya saling mengkait.

Sejatinya kemiskinan terjadi karena pemerintahan itu korup dan lemah. Bagaimana mungkin sumber daya alam kita berlimpah ruah tapi rakyat bisa miskin jika bukan karena pengelolanya korup?

Sebelum Jokowi menjadi Presiden, kekayaan laut kita habis dijarah. Kapal-kapal ikan besar milik pengusaha ikan mengeruk kekayaan laut kita tanpa memberikan keuntungan bagi negara.

Demikian juga yang terjadi pada hampir semua hutan milik kita. Izin HPL hutan diberikan senak udel pejabat. Izin HPL hutan itu tanpa peduli mereka gunakan sebagai jalan membakar hutan.

Hutan-hutan dibakar untuk perkebunan sawit karena murah dan cepat. Ini menimbulkan masalah lingkungan baru bagi rakyat sekitar. Lingkungan rusak, kekayaan biota hutan alami lenyap.

Belum lagi mafia migas yang menguras uang negara. Ratusan ribu barrel minyak dibancaki dengan sistem rente antara Petral dan Pertamina. Mafia migas ini menguasai hulu hilir kebutuhan energi minyak gas kita. Bayangkan berapa juta dollar perhari menggelontor ke kantong mafia yang dipelihara pejabat korup ini. Syukurlah di era Jokowi mafia migas ini digulung habis. Petral dibubarkan.

Kemiskinan yang saya rasakan saat saya masih kecil itu, mengajar saya tentang kehidupan. Melatih empati saya melihat orang tertindas dan miskin. Saya jadi tahu bahwa kehidupan berbangsa dan bernegara yang salah kelola akan melahirkan banyak orang miskin.

Pemerintahan yang dikelola dengan baik akan memiskinkan koruptor dan pejabat brengsek. Sekaligus memperkaya banyak orang miskin melalui distribusi kesempatan berusaha dan akses finansial. Sumber daya alam dan manusia akan produktif. Tercipta banyak peluang dan kesempatan kerja baru.

Dalam spektrum yang lebih luas kehadiran pemimpin atau pengelola negara yang baik berintegritas akan memajukan kesejahteraan umum, bonnum comune. Coba bandingkan era Orba dan sekarang. Dulu orang kaya itu bisa dihitung jari. Kalo tidak keluarga Soeharto ya kroni-kroninya konglomerat. Mau melawan mereka bisnis? Ya mampus. Hulu ke hilir dikuasai mereka.

Pengalaman hidup dan perjalanan hidup itu membentuk pikiran dan mengajar saya untuk kritis pada pemimpin bengkok. Saya percaya ikhtiar mencari pemimpin yang memiliki empati sosial kepada rakyat adalah sebuah perjuangan untuk menolong orang miskin.

Di tangan pemimpin korup uang trilyunan pajak bisa menjadi rongsokan tak bernilai, vice versa. Setiap pemimpin yang baik akan menciptakan peluang ekonomi. Sebaliknya pemimpin tamak akan membunuh peluang. Saat pilgub DKI lalu saya berjuang memenangkan Ahok Djarot sebagai ikhtiar saya memenangkan pelayan rakyat terpercaya. Sayangnya takdir sejarah berkata lain.

Apa yang kita saksikan dalam pengajuan RAPBD DKI 2018 oleh Gubernur Wakil Gubernur Anies Sandi bisa menjelaskan kemunduran pengelolaan pemerintahan yang bersih, transparan dan profesional.

Kita melihat pengganti Ahok Djarot ini semena-mena mengelola uang milik kita. Uang pajak kita disusun persis seperti anak kecil menyusun mainan rumah-rumahan. Seenak udel tanpa peduli bahwa setiap sen uang itu berasal dari peluh keringat kita.

Bayangkan anggaran pemeliharaan kolam ukuran mini di Gedung DPRD dianggarkan sebesar 650 juta rupiah. Lalu uang senilai 1.5 M diberikan untuk anggota DPD Fahira Idris yang notabenenya seorang senator yang tidak boleh menerima dana hibah.

Apa yang bisa kita harapkan dari Anies Sandi yang telah semena-mena mengelola uang kita ini? Tidak ada yang dapat kita harapkan dari kedua pemimpin ini.

Anies sejatinya kita gaji untuk menjadi penjaga uang milik kita. Mereka diberi fasilitas VVIP dengan uang operasional berlimpah agar menjadi anjing penjaga uang milik kita yang galak dan setia. Tapi apa yang terjadi? Alih-alih mereka mau galak menjaga uang milik kita justru kini mereka malah dengan enteng membuka pintu brankas uang APBD agar mudah dikuras pembegal.

Lucunya, anjing penjaga yang setia dan terpercaya yang dulu begitu keras menjaga uang milik kita kini kita kerangkeng dengan keji. Ahok sang anjing penjaga uang milik kita, malah kita ikat dalam tahanan penjara.

Padahal Ahok begitu gigih menyalak pada pembegal uang milik kita, tuannya. Pada RAPBD 2016 lalu, Ahok menyelamatkan anggaran dari pembegal senilai 4.5T. Kita jadi tahu ada proyek abal-abal pengadaan UPS bernilai trilyunan. Oleh Ahok pengadaan UPS usulan H Lulung itu dicoret. Pemahaman nenek elo!! Ditulis Ahok gede-gede, saking geramnya Ahok melihat tamaknya para pembegal uang milik kita.

Sang penjaga terpercaya itu kita ganti dengan orang yang begitu mudah membukakan pintu brankas uang kita agar bisa digarong beramai-ramai.

Ahok Sang Penjegal pembegal anggaran mungkin sedang tersenyum sedih melihat kita. Ahok mungkin sedang tersenyum kecut melihat kita warga DKI si pemilik uang kini tampak terbodoh-bodoh. Terbodoh-bodoh melihat para pembegal sedang pasang siasat muslihat menjarah uang milik kita tanpa bisa kita gugat.

Tidak lama lagi dalam hitungan mundur Ahok si Anjing Penjaga uang rakyat itu akan keluar dari pertapaannya. Ia yang diseret umat 212 ke penjara akan keluar dengan kepala tegak dada membusung. Ia akan disambut jutaan orang yang setia pada nilai keteladanan bagaimana menjadi pelayan rakyat sejati.

Pada titik ini saya seakan mendengar suara umat 212 yang akan reuni pada Minggu 2 Desember 2018 besok bukan lagi suara kebanggaan. Bukan lagi suara kebanggaan pernah menjatuhkan si penista agama, melainkan suara rasa malu betapa mereka telah bersalah menghukum orang yang tidak bersalah.

Orang yang tidak pernah punya niat sedikitpun menista ayat suci itu. Semua itu hanya soal memburu kekuasaan. Kekuasaan yang pada akhirnya akan dipakai untuk menyedot kekayaan rakyat DKI Jakarta jatuh ke pundi-pundi kroni penguasa baru.

Dan kita tahu satu persatu pentolan mereka dari yang paling pucuk seperti penghina wajah Boyolali Prabowo Subianto hingga sekelas Dahnil Anzar Simanjuntak kena karma dipermalukan.

Tidak lama lagi saya akan sambut Ahok di Mako Brimob dengan satu kalimat

“Welcome back Sir Ahok… We really miss you Sir..”

Salam perjuangan penuh cinta

Birgaldo Sinaga