Ramadan yang ‘sunyi’

Home / Artikel / Ramadan yang ‘sunyi’

Oleh : Arimbi Heroepoetri.,SH.LL.M

(Pegiat Hukum, HAM, Masyarakat Adat, Lingkungan dan Perempuan, Direktur PKPBerdikari dan Peneliti Senior debtWATCH Indonesia)

 

sejak covid-19 dinyatakan sebagai pandemik di seluruh dunia termasuk Indonesia, maka pengaturan jarak antar manusia mulai dilakukan dengan ketat. Tempat-tempat yang berpotensi menghimpun keramaian manusia dihimbau untuk ditutup. Semula himbauan, lama-kelamaan menjadi aturan hukum karena kondisi semakin genting. Pusat perbelanjaan tutup, mesjid besar tutup, universitas dan sekolah-sekolah tutup, pertemuan, seminar, resepsi dan sejenisnya menjadi terlarang. Sebisa mungkin, kita berada di rumah saja, menjaga kesehatan diri.

Ini, hari kedua bagi  umat islam di dunia  menjalankan ibadah puasanya selama 30 hari. Saya merasa Ramadan kali ini menjadi senyap. Biasanya menjelang bulan Ramadan kegiatan kita dan sekitar kita semakin meningkat. Menengok orang tua, belanja kebutuhan sehari-hari, menyicil belanja untuk merayakan hari kemenangan, menziarahi kubur keluarga, menyucikan diri dengan mandi  di sungai, mengirimkan antaran makanan ke tetangga, kenduri sembari berdoa bersama. Suara pengajian dari mesjid sekitar rumah akan bertalu-talu; dan menjelang shalat tarawih pertama mesjid maupun musholla akan penuh dengan orang-orang yang melaksanakan shalat tarawih. Melaksanakan perintah agama, sembari bersilaturahmi antar tetangga, antar kawan, dan antar keluarga.

Sekarang sunyi…

Saya jadi teringat dengan Rachel Carson, ilmuwan Amerika Serikat, yang menulis buku “silent spring’ (musim semi yang sunyi) di tahun 1962. Terbit  hampir 60 tahun silam.  Ia merujuk fenomena alam yang dialaminya sejak kecil, kicauan burung, kupu-kupu berterbangan  menyambut kedatangan musim semi dengan riang. Tiba-tiba, ketika ia dewasa tidak didengar lagi kicauan burung riang ataupun organisme hidup lainnya, semua sepi. Rachel Carson heran, dan mulai melakukan penelitian, ternyata burung-burung dan organisme hidup tersebut telah musnah terkena pestisida yang dipakai sebagai pupuk untuk pertanian. Telusuran Rachel malah membuktikan bahwa pestisida tersebut adalah salah satu bahan untuk membuat bahan peledak di masa Perang Dunia II. Ketika memasuki masa damai, maka bahan ramuan bahan peledak tersebut disulap oleh industri menjadi pupuk untuk pertanian. Tentu saja temuan Rachel Carson  tersebut dianggap kontroversional dan banyak mendapat tentangan, terutama dari industri penghasil pestisida. Pada akhirnya di tahun 1963, Kongres Amerika Serikat mengundang Rachel dalam acara dengar pendapat mendengarkan kesaksiannya mengenai bahaya pestisida bagi ekosistem.

Rachel Carson meninggal di tahun 1964 karena kanker payudara yang mungkin saja didapat ketika ia terpapar pestisida ketika ia melakukan penelitiannya. Ia tidak sempat melihat bahwa dari kesaksiannya mendorong amerika serikat melahirkan UU Perlindungan Lingkungan Nasional di tahun 1969 (NEPA-National Environmental Protection Act).  Ia berjasa mengemukakan fakta bagaimana pestisida berakumulasi di dalam rantai makanan (food chain), hingga akhirnya terakumulasi pada manusia sebagai konsumen puncak pada rantai makanan. Ia berhasil membuktikan daya racun pestisida, sehingga tidak bisa dipakai sebagai bahan pupuk tanaman. Sampai sekarang pestisida dilarang sebagai bahan pupuk di banyak belahan dunia.

Musim semi yang Sunyi menunjukkan adanya mata rantai ekologis yang terputus akibat penggunaan pestisida yang masif. Apakah kondisi yang sama akan terjadi dengan pandemik covid19 ini?

Para ahli lingkungan telah memprediksi ketika dunia semakin hangat akibat perubahan iklim, maka akan timbul varian penyakit baru. Covid-19 adalah virus varian baru dari virus yang sudah dikenal umat manusia. Namun telah berhasil merubah tatanan kehidupan warga dunia. Kegiatan sosial warga dan kebiasaan sehari-hari berubah, salah satunya adalah kebiasaan dan cara kita beribadah. Ajaran islam yang saya pahami adalah bersama itu lebih baik daripada sendiri, maka anjuran berjamaah sangat kuat dalam setiap ritualnya. Shalat adalah wajib, namun jika shalat di mesjid secara berjamaah maka pahalanya akan berlipat. Umat islam harus menerima fakta, bahwa selama pandemik ini belum berlalu, maka kondisi bersama dengan orang-orang yang tidak diketahui riwayat kesehatannya adalah berbahaya bagi kesehatan dan mungkin bagi nyawa kita. Kita, masih bisa beribadah namun diperlukan penyesuaian di sana-sini. Salah satunya adalah kesunyian di bulan Ramadan. Semoga dengan kesunyian ini mendorong kita untuk lebih fokus beribadah dan memahami nilai-nilai kemanusiaan lebih dalam.

 

24 April 2020