Sengkarut Rapid Test

Home / Artikel / Sengkarut Rapid Test

 

Oleh : D.Yevri Sitorus

Sebuah majalah mingguan me-release berita investigasi soal alat rapid test, yang ditengarai sebagai barang palsu. Konsekuensinya adalah bahwa terjadi “penipuan” yang merugikan pembeli, pengguna dan bisa menyebabkan kerugian karena hasilnya yang tidak akurat akan berdampak pada upaya penanggulangan pandemi.

Yang mengherankan adalah bahwa majalah tersebut malah menggandeng lembaga “anti korupsi” dalam mengangkat masalah maha penting ini. Tidak terlihat bahwa para invetigator ulung ini menggandeng lembaga-lembaga penelitian kesehatan atau farmasi untuk memberikan penilaian terbaik. Sebut saja, tidak ada studi yg meyakinkan di dalam negeri oleh lembaga seperti Eijkman atau Balitbang Kemenkes.

Majalah itu memang mengutip bahwa ada laporan bahwa alat rapid test itu terbukti “tidak se-akurat” klaim yang disampaikan. Framing yang dibangun adalah rapid test itu “menipu” dan menjadi sah penipuannya karena “dibuat di China”!

Informasi yang saya dapat, alat rapid test itu adalah “asli produksi Belanda”. Tetapi packingnya memang dibuat di China, hal yang jamak dilakukan dalam perdagangan internasional utk menekan biaya dan penetrasi pasar secara cepat. Dan lucunya alat test itu telah memiliki sertifikasi dari Uni Eropa (CA), setara dengan FDA di Amerika atau BP POM di Indonesia. Artinya bahwa produk rapid test itu telah memenuhi standar dan persyaratan yang relevan.

Sebagaimana kita ketahui, alat rapid test sangat mungkin tidak 100% akurat, namanya juga rapid test. Sama seperti kalau anda melakukan test laboratorium, akurasi dari satu lab ke lab lain selalu ada potensi perbedaan. Juga dimungkinkan terjadi cacat produk atau cacat prosedur penggunaan. Oleh karena itulah maka semua pihak mahfum bahwa akurasi tertinggi itu hanya bisa diberikan oleh PCR yang memeriksa swab dari tenggorokan dan atau nasofaring pasien. Ketidak-akuratan alat rapid test juga dipengaruhi oleh kondisi imun tubuh terperiksa, dan tidak serta merta menyatakan secara akurat adanya virus dalam tubuh penderita.

Saya cenderung menyatakan bahwa investigasi media itu hanyalah sebuah sensasi. Tujuannya memberi informasi kepada publik tetapi motivasinya harus dipertanyakan. Terlebih karena situasi psiko politik yg melingkupinya, seperti pernyataan Menteri BUMN soal mafia alkes, dan meningkatnya sentimen anti (produk) China. Kalau ini benar, sungguh memalukan!

Lebih memalukan lagi kalau tujuan pemberitaan ini adalah pengalihan issue untuk melindungi seseorang. Seseorang yang hari-hari ini wajahnya sedang babak belur karena gagal menanganin wabah di wilayahnya, gagal menyediakan dana bansos untuk warganya yang membutuhkan dan gagal menjelaskan kepada publik kemana 50% Dana Bagi Hasil yang sudah ditransfer secara advance okeh Pemerintah Pusat.

Kebetulan orang itu punya hubungan kedekatan yang sangat tinggi dengan para pegiat majalah itu.

Hanya merekalah yang tahu kebenarannya. Saya hanya berasumsi sebagai manusia merdeka berdasarkan informasi yang saya miliki. Silakan anda berkesimpulan sendiri.