2019: JOKOWI DI INDONESIA, MODI DI INDIA

Home / Opini / 2019: JOKOWI DI INDONESIA, MODI DI INDIA

Oleh : Hira Jhamtani

Banyak perempuan Muslim di India mendukung Narendra Modi, untuk kemblai menjadi Perdana Menteri. Modi berasal dari Partai bernuansa Hindu, jadi bagaimana mungkin? Pada Oktober 2018 saat berkunjung ke New Delhi, saya mendengar ceritanya, dari sanak saudara dan teman.

Ceritanya begini. Pemerintahan Modi memprakarsai sebuah Undang-undang untuk melarang apa yang disebut “Instant Triple Talaq” atau talak tiga instan. Kebiasaan di masyarakat muslim India ini merugikan banyak sekali perempuan Muslim. Para suami bisa mengucapkan talak tiga dan langsung berlaku, artinya istri dicerai. Bahkan bisa melalui SMS dan WhatsApp.

Tanpa tunjangan, tanpa kesempatan membela diri, tanpa ada mediasi dan tanpa ada putusan pengadilan. Modi mengatakan kebiasaan ini menimbulkan kesengsaraan bagi para perempuan. Maka pemerintahannya memperjuangkan agar diadakan undang-undang untuk melarang talak tiga instan ini.

Debat mengenai UU ini berjalan sulit, karena partai oposisi, dipimpin Partai Kongres menentangnya. Sementara itu Mahkamah Agung telah menyatakan bahwa talaq tiga ini tidak konstitusional (https://internasional.kompas.com/read/2017/08/22/20290301/india-tolak-tradisi-islam-talak-tiga-untuk-suami-ceraikan-istri). Akhirnya Modi berhasil, saat DPR India (Lok Sabha) mensahkan undang-undang tersebut. Inilah alasan mengapa banyak perempuan Muslim diperkirakan akan mendukung Modi menjadi Perdana Menteri untuk kedua kalinya.

Modi dikenal sebagai pekerja keras, anti korupsi dan berani mengambil keputusan sulit yang tidak populer. Mirip Joko Widodo (Jokowi), Presiden Indonesia. Keduanya sedang menghadapi akhir masa jabatan dan tengah mencalonkan diri untuk dipilih ulang (di India melalui partai). Situasinya mirip. Mari kita lihat.

* Modi dulu penjual teh di Stasiun kereta api di Gujarat. Jokowi penjual meubel. Keduanya berasal dari keluarga biasa biasa saja.

* Keluarga Modi menjalani kehidupan seperti biasa setelah ia menjadi Perdana Menteri (PM). Keluarga Jokowi demikian pula, walaupun mereka menjadi kesukaan para netizen.

* Kerjaan spektakuler Modi adalah elektrifikasi desa, pemberian tabung gas dan kompor untuk masyarakat miskin agar mereka tidak menggunakan kayu bakar (yang sangat berdampak pada kesehatan), membuka rekening untuk kaum miskin, memperbaiki sistem kereta api dan mencanangkan program Digital India.
Jokowi giat membangun jalan, jalur kereta api, jalur transportasi laut dan embung. Salah satu yang paling fenomenal adalah pembangunan jalan di Papua. Ia memastikan revitalisasi pasar tradisional dan membangun pasar baru, memberikan kartu Indonesia Sehat dan Pintar, juga melakukan program Tax Amnesty dan membongkar penguasaan atas bahan bakar, impor pangan dan banyak lagi.

* Jokowi menghadapi banyak proyek mangkrak, korupsi yang berurat berakar, dan birokrasi yang korup. Modi menghadapi pembangunan yang stagnan selama 60 tahun, dan birokrasi yang korup serta masyarakat yang apatis dan tidak percaya pada pemerintah.

* Jokowi menghadapi tekanan sistematis warisan dari militerisme dan kroniisme masa lalu. Modi menghadapi hegemoni Partai Congress selama 60 tahun bersama dominasi dinasti Nehru-Gandhi.

* Yang menarik keduanya memasang menteri Perempuan terbanyak dalam sejarah kabinet di masing-masing negara. Menteri Luar Negeri kedua negara ini adalah Perempuan.

* Keduanya mempunyai kesukaan pada kebudayaan. Jokowi senang minum jamu dan berminat terhadap batik. Modi memajukan Yoga dengan mempromosikan Hari Yoga Sedunia. Keduanya mempunyai pikiran bijaksana. Silakan simak perkataan Jokowi pada foto. Kalau Modi berkata: “Sekularisme adalah istilah yang didefinisikan dalam berbagai arti oleh kalangan berbeda. Bagi saya artinya sangat sederhana –- meletakkan India di atas segalanya”.

* Hegemoni Barat bingung menghadapi kedua pemimpin ini, dan mereka tidak punya pilihan kecuali merasa kagum sambil juga mungkin agak marah dan khawatir.

* Di Manebanjhan,negara Bagian Bengal Barat perbatasan dengan Nepal dan China, masyarakat mengharapkan Modi dipilih kembali. “Selama ada Modi, negara lain di perbatasan tidak berani melakukan percobaan serangan” kata mereka, saat saya berkunjung ke sana. Jokowi membawa kapal perang saat Natuna akan diklaim oleh negara lain.

*Jokowi dan Modi membangkitkan kegairahan berpolitik secara bersih dan mengembalikan peran pemerintah sebagai pelayan masyarakat. Mereka juga mengembalikan kegairahan masyarakat untuk berkontribusi pada pembangunan dengan bekerja lebih baik.

* Musuh keduanya juga sama: para pegawai negeri yang malas dan korup, pengusaha dan politisi korup, elit politik dan kelas menengah yang dirugikan akibat program “bersih-bersih” dan efisiensi anggaran. Banyak proyek “gelap” yang batal karena ulah kedua manusia ini.

Dan banyak lagi persamaan. Tapi ada pula perbedaan.

1. Jokowi mempunyai keluarga yang harmonis. Modi meninggalkan istrinya. Ada cerita panjang tentang hal ini. Ia dijodohkan dengan paksa di usia 18 tahun. Tiga tahun setelah perkawinan, ia meninggalkan rumah, hidup sebagai pengembara, kemudian mengembangkan usaha dengan pamannya lalu masuk ke dunia politik. Kasus ini menjadi kontroversi ketika Modi mencalonkan diri menjadi Perdana Menteri, tapi tidak mempengaruhi elektabilitasnya. Istrinya meneruskan pendidikan setelah ditinggal Modi, dan kini adalah pensiunan guru. Silakan baca di google untuk cerita lengkapnya. Tentu saja isu ini dijadikan alat lawan politik Modi untuk mengalahkannya.

2. Jokowi sering diolok-olok mengenai cara ia berbahasa Inggris. Modi berbicara dalam bahasa (Nasional) Hindi di PBB dan membawa penterjemahnya sendiri. Padahal ia mahir berbahasa Inggris.

3. Modi sangat lancar berdebat dan mengkritik lawannya. Jokowi terkesan planga plongo tapi begitu berbicara langsung mengena. Tapi keduanya sering tak terbantahkan.

4. Perhatikan postur mereka: Jokowi kurus, bicara dengan nada pelan. Modi besar dan gemuk, bicaranya bisa panjang lebar dan berapi-api.

Indonesia dan India adalah dua negara besar di Asia (selain China). Bila kedua negara ini makmur dan sejahtera, maka para pencari rente dalam dan luar negeri tidak bisa bergerak. Hegemoni negara Barat dan Jepang akan terancam (dan sudah terancam). Para penguasa bisnis militer, mesin dan energi, pangan serta barang dan jasa lain juga merasa tidak nyaman. Maka adalah pilihan rakyat Indonesia dan India apakah ingin menjadi bangsa besar yang mandiri atau bangsa yang senantiasa dikecilkan oleh para pencari rente dalam dan luar negeri itu. Tahun 2019 memang menentukan bagi kedua bangsa calon adidaya ini!

Sumber:

Laman Facebook Hira Jhamtani
Foto dari media maya.
https://www.quora.com/What-are-the-top-ten-achievements-of-Modi-Government
http://www.baltana.com/tag/narendra-modi-quotes.html

Tentang Jokowi dari berbagai media.