Terima Kasih Pak Jokowi, Perizinan Cepat Kelar, Ekspor Beras dan Manggis Lancar!

Home / Opini / Terima Kasih Pak Jokowi, Perizinan Cepat Kelar, Ekspor Beras dan Manggis Lancar!

Adakah pembaca yang tahu kalau pada awal tahun 2017 lalu petani Merauke, Papua, melakukan ekspor perdana Beras sebanyak 10 ton ke negara tetangga, Papua Nugini? Ini merupakan sejarah baru sejak Indonesia merdeka. Selama ini beras untuk kebutuhan di Papua diambil dari provinsi lain. Biaya beras mahal lantaran biaya angkutan ditanggung masyarakat.

Dilansir liputan6.com, produktivitas petani Merauke ini menunjukkan keberhasilan penggunaan teknologi pertanian. Biaya produksi padi turun 60 persen dari yang tadinya 3 juta rupiah per hektar ditekan menjadi 1,1 juta per hektar. Harga beras yang diekspor tersebut sangat efisien bagi Papua Nugini, karena separuh harga beras impor dari Filipina, Thailand dan Vietnam.

Sementara itu, buah manggis juga merupakan hasil pertanian komoditas ekspor Indonesia yang punya pangsa pasar cukup luas, yakni China, Thailand, Malaysia, Vietnam, Uni Emirat Arab, Perancis, Belanda, Arab Saudi, Oman, Qatar, dan Hong Kong. Badan Karantina Pertanian, Kementerian Pertanian mencatat, sejak keran ekspor Manggis dibuka pada 11 Desember 2017 silam, harganya meningkat tajam beberapa kali lipat dari yang sebelumnya Rp.5.000-Rp.8.000 per kilogram, kini sudah mencapai Rp.30.000 per kilogram. Menjadi insentif dan menciptakan nilai tambah bagi petani di beberapa sentra manggis baik di Sumatera, Jawa, dan Nusa Tenggara Barat. Sumber Sedangkan untuk potensi ekspor buah manggis ke China saja tahun ini bisa mencapai 20.000 ton. Ini ditopang dengan produksi dari area Jawa Barat, Jawa Tengah, Sumatra Barat dan Nusa Tenggara Barat. Menurut Kementrian Pertanian (Kementan) area produksi buah manggis di Sumatra Barat siap mengekspor 10.000 ton manggis ke China.Sumber

Sesuai dengan instruksi Presiden Jokowi agar tidak mempersulit petani yang ingin berkembang, maka Kementan pun memangkas waktu perizinan ekspor produk-produk pertanian dari sebelumnya 13 hari atau 312 jam menjadi hanya 3 jam. Dulunya prosesn perizinan untuk ekspor produk pertanian membutuhkan waktu berbulan-bulan. “Sekarang 312 jam (13 hari). Tapi kita sekapat menjadi 3 jam, dari 312 jam,” ujar Menteri Pertanian, Amran Sulaiman, dilansir liputan6.com. Dari pemangkasan waktu proses perizinan sebelumnya telah terbukti meningkatkan ekspor produk pertanian. Dengan kembali dipangkasnya waktu perizinan ini diharapkan peningkatan ekspor produk pertanian bisa lebih signifikan. “Saat ini dibandingkan tahun lalu naik 13 persen, tahun sebelumnya naik 24 persen. Jadi total sudah ada peningkatan 37 persen dalam 2 tahun. Jadi dulu dari berbulan-bulan (proses perizinan) menjadi 13 hari dan dampaknya positifnya luar biasa, ekspor kita meningkat tajam,” ungkap Amran. Amran menuturkan, pemangkasan waktu perizinan ini diperuntukkan bagi seluruh jenis komoditas pertanian. Selain itu, terintergrasinya proses perizinan dalam Online Single Submission (OSS), pengusaha bisa mengajukan perizinan melalui online. “Ini untuk semua komoditas pertanian. Bahkan kita yang akan kejar sampai ke kebunnya, jadi eksportir tidak perlu lagi memikirkan soal izinnya. Eksportir tidak perlu datang ke sini (Kantor Kementan), bisa mengurus secara online,” ujar dia.Sumber

Kebijakan di atas memang baru sekali, dipublikasikan pada hari Senin kemarin (29/10). Ini akan sangat membantu para eksportir produk pertanian di Indonesia. Padahal dalam pemangkasan proses perizinan sebelumnya pun sudah sangat membantu mereka. Seperti yang dialami oleh para eksportir buah manggis di Sumatra. Muhammad Bayu Vesky, selaku Direktur Kerjasama Antar Lembaga PT Bumi Alam Sumatera, perwakilan dari 10 pengusaha yang mengekspor 10 ribu ton manggis Sumatera Barat ke Cina, membuktikan sendiri. Selain dibantu dalam pembinaan petani, Kementan juga membantu dalam proses pengurusan izin yang begitu cepat. “Bayangkan dalam 38 hari, kami sudah dua kali ekspor manggis ke China via ke Bandara Minangkabau. Hari ini kami kirim lagi dua truk,” ungkap Bayu. Selain cepat, Bayu juga mengaku tidak mengeluarkan biaya satu rupiah pun untuk mengurus berbagai proses itu, dilansir liputan6.com.Sumber

Kadang kita kurang cepat mengetahui adanya ekspor produk pertanian ini, mungkin karena beritanya kurang menarik perhatian. Padahal sangat berarti terhadap cadangan devisa dan neraca perdagangan Indonesia. Memang berita politik lebih menarik sih sekarang hehehe… Ya boleh lah berita-berita ekspor semacam ini dipopulerkan buat “menampar” para kampret, dan gerombolan Prabowo serta antek-anteknya. Ini kerja nyata, bukan sekadar janji-janji ketika masa kampanye saja.

Demikian kura-kura.

#JokowiSaja

Ninanoor