Forum Rektor Indonesia Desak Pemerintah dan DPR Tampung Aspirasi Publik

Home / Berita / Forum Rektor Indonesia Desak Pemerintah dan DPR Tampung Aspirasi Publik

Jakarta, PKP Berdikari – Forum Rektor Indonesia (FRI) memandang perbedaan pendapat yang muncul terkait UU Cipta Kerja merupakan hal yang wajar pada era demokrasi. Upaya memperluas partisipasi publik dan keterlibatan para ahli perlu dilakukan demi menghindari salah pengertian terhadap substansi RUU tersebut.

“FRI mengharapkan pemerintah dan DPR RI selalu membuka diri untuk menampung aspirasi dan masukan-masukan kritis dari berbagai pihak yang sama-sama bergerak atas dasar rasa cinta kepada bangsa Indonesia,” tulis Ketua FRI Prof. Arif Satria melalui pernyataan pers pada Sabtu, 10 Oktober 2020.

Meski demikian, FRI menyayangkan tindakan unjuk rasa anarkis yang telah mengganggu ketertiban masyarakat dan merusak fasilitas umum.

“FRI memandang bahwa aksi untuk rasa untuk menyalurkan aspirasi adalah hak setiap warga negara yang dilindungi undang-undang, namun harus tetap mematuhi ketentuan yang berlaku,” lanjutnya.

Banyaknya jumlah aturan perundangan yang diintegrasikan menjadi satu RUU Cipta Kerja, dirasa perlu ditanggapi dengan hati-hati. Untuk itu, FRI berencana memberi masukan kepada pemerintah dan DPR RI setelah mencermati dan menyisir UU Cipta Kerja versi final.

Hal tersebut dilakukan agar pemerintah dapat mengambil langkah-langkah solusi alternatif yang dimungkinkan secara hukum.

FRI juga mengajak para akademisi dan mahasiswa untuk selalu peduli dengan persoalan bangsa agar kritik lebih berkualitas. “Senantiasa mengedepankan gerakan intelektual berdasarkan akal sehat, pemahaman yang utuh, dan kajian kritis-obyektif,” tulis Arif Satria.

Disamping itu, FRI menghimbau kepada para pimpinan perguruan tinggi dan sivitas akademika untuk selalu menjaga kondusifitas kampus agar kegiatan akademik dan pembelajaran dapat berjalan dengan baik, khususnya di masa pandemi Covid-19 ini.

Selanjutnya, FRI berharap proses pengesahan RUU Cipta Kerja yang menimbulkan gejolak ini dapat menjadi pelajaran bagi bangsa Indonesia. Pelajaran tersebut berupa penguatan modal sosial seperti rasa saling percaya antar seluruh komponen bangsa.

WhatsApp chat