Jernih dan Proporsional Membaca Kasus Kematian Petugas KPPS

Home / Opini / Jernih dan Proporsional Membaca Kasus Kematian Petugas KPPS

Oleh : Putut Tri Husodo

 

Bahwa ada korban akibat kerja maraton petugas KPPS, siapa yang bisa menyangkal? Itu fakta.

Jangankan ada sekian, satu pun sudah semestinya menggugah rasa simpati.

Saya percaya kerja sepanjang itu, dengan konsentrasi penuh, tentu menguras energi, pikiran, emosi dst.

Namun, sebaiknya juga kita dudukkan secara proporsional. Kita pilah mana yg sekiranya memang akibat tekanan kerja dan mana pula yg mungkin oleh sebab-sebab alamiah lainnya.

Petugas KPPS yg jumlahnya sekitar 5,7 juta itu boleh dibilang bekerja penuh antara 15 – 18 atau 19 Mei.

Nah, ketika terjadi kematian atau sakit seminggu atau dua minggu kemudian, sudah sewajarnya kita mempertimbangksn ada faktor pemicu lainnya.

Tapi sejumlah media melansir tetus seolah semua petugas KPPS yg sakit atau meninggal bahkan hingga Mei pun tetus dikaitkan dengan tugas KPPS-nya.

Bisa iya, bisa tidak. Bisa pula karena faktor gabungan.

Yang membuat jadi tidak proporsional adalah mengaitkan semua pada satu hal, yakni KPPS.

Baca:  Presiden Jokowi: Dunia Pendidikan Harus Perhatikan Pembangunan Karakter Bangsa

Tidak cuma sampai di situ. Ada penggiringan lebih jauh, seolah ada kejahatan tersembunyi yang membuat petugas KPPS sakit atau meninggal.

Media yang seharusnya membuat terang malah bikin gelap.

Kita juga tak bisa pungkiri bahwa kematian alamiah itu terjadi. Laju mortalitas orang dewasa 20 – 30 tahun saja sekitar 4 per 1.000 per tahun. Rate itu makin tinggi di usia lebih tua dan bisa mencapai 11-12 di usia 60 tahun.

Apakah ini harus dinihilkan hanya karena ada tugas yang namanya KPPS.

Kejadian luar biasa, dalam term kesehatan masyarakat, adakah bila angka mortalitas yang ada itu melampaui mortalitas alamiahnya.

Moral yang ingin saya sampaikan, alangkah tidak eloknya mempolitisir kematian orang.

WhatsApp chat