Kafir, Non-Muslim dan Era “Bagimu Tafsirmu, Bagiku Tafsirku.”

Home / Opini / Kafir, Non-Muslim dan Era “Bagimu Tafsirmu, Bagiku Tafsirku.”

Oleh : Denny JA

Lalu yang mana yang benar? Yang lebih sesuai dengan spirit wahyu yang asli, yang lebih sesuai dengan Sabda Ilahi dan baginda Nabi?

Ini pertanyaan publik luas melihat para ulama berbeda pandangan soal apakah kata kafir tak layak digunakan untuk kehidupan berbangsa, dan sebaiknya diganti dengan kata non- muslim saja. Tak nanggung- nanggung, proposal non-Muslim sebagai pengganti kafir untuk urusan kemasyarakatan datang dari organisasi Muslim terbesar di Indonesia, dan salah satu terbesar di dunia: NU!

Kontra terhadap rekomendasi NU juga diutarakan oleh ulama yang tak kalah kesohor. Ulama versus ulama. Mereka yang memang ahli Islam versus Mereka yang juga ahli Islam. Mereka yang kita yakini berkomitmen atas kemajuan Islam versus mereka yang kita yakin juga berkomitmen atas kemajuan Islam.

Bagaimana menjelaskan debat antar ulama di atas? Lalu yang mana yang benar? Lalu siapa yang harus diikuti?

Menjawab pertanyaan itu dengan tajam, kitapun menukik pada sejarah perdebatan filsafat agama. Kitapun menyelam ke dalam samudra renungan terbaik yang pernah ada dalam sejarah.

Renungkan tiga prinsip di bawah ini.

Pertama: Agama absolut versus Agama tafsir

Kita termasuk yang meyakini bahwa Wahyu itu memang hadir. Kita termasuk yang percaya datang agama dari kekuatan Ilahiah. Kita menyebutnya itu agama yang abosulut, agama yang mutlak.

Namun hanya kapasitas kenabian yang mampu menangkap 100 persen dari agama absolut itu. Kapasitas kenabian itu hal khusus yang datang hanya pada Nabi.

Di luar nabi, sebesar apapun ulama ia tak mampu menangkap agama absolut itu. Setelah nabi tiada, apa daya yang kemudian sampai pada kita hari ini sudah turun derajatnya hanya Agama tafsir.

Dari Nabi ke umatnya, hakekat agamapun berubah. Dari agama absolut menjadi agama tafsir. Kekuatan para ulama sehebat apapun berhenti hanya pada kekuatan menafsir. Ulama tak menerima wahyu, bukan Nabi, sehingga ia tak sanggup menangkap 100 persen agama absolut.

Tidaklah heran, setelah nabi tiada, sejarah menunjukkan terjadi perpecahan dan isme pada semua agama. Tak jarang sejarah menyimpan kisah perang antar ulama dan pengikutnya soal tafsir mana yang paling benar.

Baca:  Presiden Resmikan Rusunawa Universitas Muhammadiyah Gorontalo

Memutlaklan tafsir ulama itu sama dengan mengangkat ulama ke tahap nabi. Itu mustahil. Ulama sebesar apapun ia dibatasi oleh kapasitas manusiawi dan pertumbuhan kesadaran zamannya.

Kedua: Nabi Terakhir versus Penafsir Terakhir

Semua agama, apapun, pastilah meyakini Nabi yang mereka pilih adalah nabi terakhir. Tak ada agama yang meyakini nabinya akan direvisi oleh nabi lain. Jika ada, berbondong-bondong agama itu akan ditinggal oleh pengikutnya untuk pindah pada agama dan nabi baru.

Kitapun meyakini Nabi kita adalah nabi terakhir. Tapi tak ada ahli tafsir terakhir. Jarak hidup Nabi dengan kita lebih dari seribu tahun. Tak ada dari kita di masa kini yang bisa berjalan ke waktu masa silam untuk mendengar sendiri dan berjumpa dengan Nabi.

Apa daya bahkan para ulama sehebat apapun di masa kini hanya menafsir. Tapi tafsirnya tak bisa ia klaim sebagai tafsir terakhir. Umat yang mendengarkan tafsir ulama ini juga bukan ummat terakhir. Zaman kita hidup saat ini juga bukan zaman terakhir.

Karena tak ada tafsir terakhir dengan sendirinya tafsir selalu baru. Suka atau tidak, zaman baru membawa kesadaran baru. Dan kesadaran baru tak bisa dipaksa tunduk pada tafsir lama. Ulama zaman baru tak bisa dipaksa tunduk pada ulama zaman lama.

Begitu banyak ulama. Begitu banyak tafsir. Sehebat apapun tafsir ulama itu, tak ada tafsir terakhir. Yang ada hanya Nabi terakhir.

Ketiga; Satu Kesadaran Versus Banyak Kesadaran.

Agama absolut itu seperti energi. Secara absolut, energi dibutuhkan untuk kehidupan. Namun ketika enerji masuk ke dalam sejarah, kebutuhan manusia berbeda. Di daerah panas, enerji itu dibutuhkan dalam bentuk mesin pendingin: Air Condition. Di daerah yang dingin, enerji itu dibutuhkan dalam bentuk mesin penghangat: heater.

Tak bisa dipukul rata enerji diterjemahkan menjadi AC untuk wilayah panas dan dingin sekaligus. Sebagimana tak bisa pula enerji diharuskan menjadi heater untuk kawasan panas dan dingin sekaligus.

Baca:  Aji Sapu Jagat dalam Survei Kompas

Hal yang sama dengan agama. Ketika agama absolut turun ke dalam sejarah manusia pasca Nabi tiada, kesadaran umat begitu beragam. Tafsir pun tak bisa tunggal: satu untuk semua. Diatur atau tidak karena keterbatasan, bahkan para Ulama akan menafir agama itu sesuai lokalitasnya, situasi kesadarannya.

Bagi kita yang menyelami akumulasi renungan di atas, bagaimana merespon perdebatan Ulama di Indonesia soal kafir versus non-Muslim?

Lihatlah jejak sejarah. Tak ada masa tanpa perdebatan ulama. Tapi untungnya masa kini sudah sangat maju. Perdebatan ulama hanya melalui kata, tidak lagi dengan senjata dan peperangan.

Ketika Nabi tiada, yang ada hanya penafsir. Ketika Nabi tiada, agama absolut menjadi agama tafsir. Ketika Nabi tiada, kesadaran manusia tumbuh semakin beragam.

Sudah datang era negara nasional dengan sistem kewargaan yang setara. Negara nasional belum ada di era para Nabi. Sudah datang prinsip hak asasi manusia universal. Prinsip hak asasi universal yang disepakati juga belum ada di era para Nabi.

Apa daya ini era menjadi “bagimu tafsirmu, bagiku tafsirku.” Beragama menjadi memilih tafsir. Silahkan para ulama menyajikan tafsir masing masing. Umat melalui pasar bebas akan memilih tafsir manusia yang sesuai.

Bahkan di dunia tafsir berlaku hukum: the survival of the fittest. Tafsir yang lebih sesuai dengan zamannya itu yang akan bertahan dan dominan.

Indonesia masa kini berada di era transisi. Tak terhindari, masyarakatnya begitu beragam. Tafsir yang lebih melindungi keberagaman, perdamaian, kesetaraan warga negara akan lebih hidup dan bertahan.

Tafsir ulama NU, yang khusus untuk kehidupan berbangsa menggunakan terminologi non-Muslim, bukan kafir, lebih sesuai dengan evolusi sosial politik Indonesia masa kini.

Tafsir NU itu akan lebih dominan dan diterima walau tafsir lain tetap hidup. Bukan karena tafsir NU lebih sesuai dengan spirit Islam dan Baginda Nabi (yang kita tak pernah tahu), tapi karena lebih sesuai dengan zamannya.

Benarkah? Sejarah terus bergerak. Kita lihat saja.*

Maret 2019

Sumber

Artikel Terkait

Presiden Jokowi Pastikan Tol Cigatas Segera Dibang... Saat melakukan kunjungan kerja ke Garut, Jawa Barat, Presiden Joko Widodo mengabarkan bahwa jalan tol Cigatas yang menghubungkan Cileunyi, Garut, dan ...
Presiden Ingin Realisasi Anggaran Semakin Baik Presiden Joko Widodo menginstruksikan dalam tahun anggaran mendatang, kementerian dan lembaga mengevaluasi sistem anggarannya sehingga belanja barang ...
Warga Garut Anggap Hologram Jokowi Tepat Melawan F... Garut, 31 Maret 2019 Antusiasme warga Priangan Timur untuk menyaksikan langsung kehadiran Presiden Jokowi di wilayah Kabupaten Garut begitu tinggi....
Hoaks: Koalisi PKI-P Penjelasan : Sebuah meme yang disebarkan oleh akun Facebook Jemmy Potabuga Makodumpit bertuliskan “Koalisi PKI – P” yang di dalamnya terdapat gambar ...
WhatsApp chat