Komitmen Lingkungan Partai NasDem

Home / Opini / Komitmen Lingkungan Partai NasDem

Oleh : Arimbi Heroepoetri.,SH.LL.M

(Pegiat Hukum, HAM, Masyarakat Adat, Lingkungan dan Perempuan, Direktur PKPBerdikari)

 

Jakarta, 11 November 2019

Pernahkan terpikir dalam satu hari kita membutuhkan berapa gelas hanya untuk sekedar minum? Dalam satu pesta hajatan sudah biasa terlihat adanya gelas plastik yang disediakan tuan rumah untuk minum, jika dalam satu hajatan dibutuhkan tiga gelas per orang untuk mengatasi rasa dahaganya, bayangkan jika dalam satu hajatan yang dihadiri oleh 8.000 peserta. Maka, dalam satu hari diperlukan 24.000 gelas plastik hanya untuk sekedar minum, dan jika hajatan itu berlangsung selama empat hari, total diperlukan 96.000 gelas plastik yang segera menjadi sampah plastik.

Partai NasDem, baru saja mengadakan Kongres Ke-2, sekaligus HUT ke-8 yang diselenggarakan sejak tanggal 8 sampai dengan 11 November 2019. Jum’at malam (8/11) saya hadir sebagai undangan dalam acara Pembukaan Kongres yang diadakan di JIExpo, Kemayoran, Jakarta. Sebagai ajang Kongres sebenarnya ini adalah peristiwa biasa saja, diisi dengan berbagai macam sambutan dari para tokoh partai, diselingi dengan berbagai pertunjukan kesenian.

Yang menarik perhatian saya justru pengumuman panitia yang berkali-kali menekankan perlunya para peserta untuk mengambil tumbler (botol minuman) yang telah disediakan panitia. Pengumuman itu menggelitik saya: “Wah jangan-jangan memang tidak disediakan gelas plastik untuk minum, maka para peserta wajib membawa tumbler”

Benar saja, para peserta, siapapun dia, entah kader entah anggota DPR/DPRD, entah Gubernur, Bupati, entah pengusaha kelas kakap, entah artis, semuanya memegang tumbler untuk kebutuhan minumnya, dan panitia menyediakan depot-depot pengisian air di berbagai tempat. Melihat pemandangan ini, hati rasanya senang dan tentram, ah Partai Nasdem sudah pada tingkat menerapkan apa yang menjadi salah satu retorikanya: Gerakan Perubahan. Jika kebijakan tidak menggunakan gelas plastik diterapkan secara konsisten oleh seluruh kadernya yang tersebar di berbagai wilayah Indonesia, Partai Nasdem telah menyumbang secara riil atas gerakan pengurangan penggunaan plastik di Indonesia. Ini jelas memperkuat komitmen pemerintah pusat dan daerah yang telah mengeluarkan peraturan-peraturan daerah yang melarang penggunaan plastik belanja. Sekaligus memperkuat berbagai macam inisiatif pengusaha makanan yang tidak lagi menyediakan sedotan plastik di gerainya.

Baca:  Gulirkan Dana Desa, Presiden Jokowi: Membangun Desa Berarti Membangun Negara

Indonesia membutuhkan gerakan riil seperti di atas yang harus terus-menerus dilakukan. Berdasarkan perhitungan dari Ditjen Pengelolaan Sampah, Limbah, dan B3 Kementrian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (Ditjen PSL – KLHK), total jumlah sampah Indonesia di 2019 akan mencapai 68 juta ton, dan sampah plastik diperkirakan akan mencapai 9,52 juta ton atau 14 persen dari total sampah yang ada. Sementara itu, menurut data Jambeck (2015), Indonesia berada di  peringkat kedua dunia penghasil sampah plastik ke laut yang mencapai sebesar 187,2 juta ton setelah Tiongkok yang mencapai 262,9 juta ton. Belum terhitung sampah plastik yang tercecer di darat dan sungai.

Plastik, termasuk kategori non-biodegradable, dibutuhkan puluhan sampai ratusan tahun agar plastik dapat terurai di alam. Bahkan ada beberapa jenis plastik yang sama sekali tidak bisa terurai. Selama plastik belum dapat terurai di alam, maka potensi bahaya plastik masih berlangsung bagi makhluk hidup, flora, fauna, termasuk manusia.

Plastik dapat menjadi pemicu  kanker dan kerusakan jaringan pada tubuh manusia (karsinogenik). Belakangan sudah cukup sering ditemui hewan yang mati karena mengkonsumsi plastik, baik di darat maupun di laut. Selain terpaksa mengkonsumsi plastik, ditemui juga hewan-hewan yang terperangkap plastik, sehingga mereka tidak bisa beraktivitas mencari makan sampai mati kelaparan. Jika ditanam dalam tanah, plastik akan mencemari tanah. Jika dibakar, plastik akan meracuni udara. Timbunan plastik dapat juga menghambat laju alur sungai, sehingga berpotensi memicu kekeringan ataupun banjir.

Baca:  Presiden Lepas Kontingen Gerakan Pramuka untuk Ikuti Jambore Kepanduan Dunia XXIV di AS

Namun, pada saat yang sama gaya hidup (life-style) manusia modern tidaklah dapat dipisahkan dari plastik. Mulai dari pembungkus plastik, Tas belanja ke pasar, gelas, piring dan alat -alat. makan, perabotan rumah tangga, pipa air, bodi mobil, sampai bodi kapal. Karena itu, satu-satunya jalan adalah melakukan usaha untuk mengurangi penggunaan plastik dalam kehidupan sehari-hari. Partai Nasdem sudah mempelopori hal itu, dalam hajatannya telah berhasil menyelamatkan sekurang-kurangnya 96.000 gelas plastik untuk menjadi sampah.  jika saja diikuti oleh partai-partai lainnya termasuk para organisasi-organisasi massa yang biasa menghimpun massa, dan juga instansi-instansi pemerintah ketika melakukan hajatan, maka saya optimis angka sampah plastik produksi Indonesia akan berkurang drastis.

WhatsApp chat